Breaking News:

Opini

Muharram Sebagai Momentum Kebangkitan

Alhamdulillah umat Muslim di seluruh dunia sedang bersuka cita karena datangnya Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1442 H. Sebagai permulaan bulan

Editor: hasyim
Muharram Sebagai Momentum Kebangkitan
IST
Rizki Mustaqim, Mahasiswa Doktoral di Yarmouk University-Jordania Jurusan Hadits Syarif wa Ulumuh

Rizki Mustaqim, S.Th, MA

Mahasiswa Doktoral Yarmouk University Jurusan Hadits Syarif wa Ulumuh, Anggota IKAT Aceh

Alhamdulillah umat Muslim di seluruh dunia sedang bersuka cita karena datangnya Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1442 H. Sebagai permulaan bulan dalam kelender Islam, Muharram merupakan bulan yang istimewa, dimana ia termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Sebagai bagian dari Asyhurul Hurum (bulan haram), di bulan Muharram umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah karena Allah akan melipatgandakan pahala seorang hamba pada bulan tersebut. Sebaliknya bagi orang yang berbuat dosa, maka dosanya juga akan berlipat ganda.

1 Muharram yang diperingati sebagai tahun baru Islam oleh umat Islam, ditandai dengan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrah merupakan momentum penting bagi umat Islam dalam dalam konteks kekinian. Jika dulu hijrah ditandai dengan perpindahan fisik dari Mekkah ke Madinah, maka dalam konteks kekinian, hijrah harus dimaknai dengan arti yang lebih luas lagi, tidak hanya perpindahan fisik, hijrah juga bermakna melakukan sebuah perubahan besar dari suatu kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik atau dari sebuah kebiasaan yang belum sepenuhnya baik kepada kebiasaan yang seutuhnya baik, baik dalam ruang lingkup ibadah, pekerjaan, dan mua'malah sesama manusia, sehingga predikat insan kamil (manusia yang sempurna) dapat dicapai oleh seorang Muslim.

Puncak cita-cita utama seorang muslim adalah menjadi pribadi yang dicintai Allah, dengan meraih cinta-Nya maka seorang Muslim pasti akan mendapatkan segala kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Namun untuk menjadi pribadi yang dicintai Allah, seorang Muslim harus melewati beberapa fase keagamaan. Salah satu dari tiga fase keagamaan tersebut adalah ihsan (berbuat baik). Ihsan merupakan buah dari kemurnian iman dan kebenaran Islam seseorang. Dalam surah al-Baqarah ayat 195 Allah berfirman: "Dan berbuat baiklah, sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik".

Adapun makna ihsan yang diajarkan oleh baginda Muhammad SAW adalah "beribadahlah kamu kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau pun engkau tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah Melihatmu. (HR: Muslim)

Penjabaran makna ihsan dari hadits di atas adalah bagaimana seorang Muslim mesti memiliki sifat muraqabatullah yaitu suatu keyakinan bahwa dirinya dilihat, diawasi dan dipantau penuh selama 24 jam oleh Allah, kapan dan dimana pun ia berada dan sedang melakukan aktivitas apapun. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan tentang pengawasan Allah secara langsung terhadap hamba-hamba-Nya, di antaranya tertuang dalam surah al-Hadid ayat 4, yang berbunyi "Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan".

Selanjutnya juga disebutkan oleh Allah dalam surah al-Qaf ayat 16 yang berbunyi "Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya".

Selain merasa terus dimonitor oleh Allah, semangat berbuat ihsan dalam segala hal juga harus dilandasi bahwa Allah telah memberi teladan terlebih dahulu kepada manusia dalam berbuat ihsan kepada makhluk-Nya dan berbuat ihsan dalam penciptaan langit dan bumi. Hal itu ditegaskan Allah dalam surah al-Qashas ayat 77 yang berbunyi "Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat kepadamu, dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".

Ihsan baik dalam ibadah, bekerja, dan bermua'malah akan dapat dicapai dengan dua indikator sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Pertama, setiap aktivitas yang dilakukan seorang Muslim harus dilandasi dengan niat yang ikhlas, semata-mata karena Allah. Kedua, segala aktivitas yang dilakukan seorang Muslim harus berkesesuaian dengan syari'at yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Konteks berbuat ihsan dalam hal ibadah, telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad pernah memerintahkan ulang shalat seseorang hingga tiga kali karena menurut beliau shalat orang tersebut belum dilakukan dengan benar. Beliau berkata "ulangi shalatmu karena sesungguhnya engkau belum melakukan shalat". Hal tersebut dikarenakan seseorang tadi belum melakukan shalat dengan prinsip ihsan, yaitu dengan niat yang ikhlas serta sesuai dengan tuntunan syari'at yang memenuhi syarat dan rukun shalat.

Dapat dibayangkan sekarang ini, jikalau baginda Rasulullah berada di tengah-tengah kita, maka dapat dipastikan banyak di antara kita yang tidak selamat dari protes Nabi terhadap sebagian dari aktivitas kita karena tidak berkesesuaian dengan konsep dan prinsip ihsan. Maka akan kerap sekali Rasulullah berkata "ulangilah lagi, sesungguhnya engkau belum melakukannya".

Apa yang akan dikatakan Rasulullah kepada ulama-ulama dan mufti, yang kebanyakan memfatwakan kesesatan dan memfatwakan hukum-hukum yang tidak disertai dengan ilmu hanya karena mengikuti pesanan kelompok tertentu. Maka Rasul akan berkata ulangi fatwamu, karena sesungguhnya kamu belum berfatwa dengan benar. Apa yang dikatakan Rasul kepada para pendidik yang kebanyakannya masih korupsi waktu ketika mengajar. Maka Rasul akan berkata ulangi proses mengajar kalian, karena sesungguhnya kalian belum mengajar.

Apa yang akan dikatakan Rasul kepada seorang ayah dan ibu yang kebanyakannya belum memberi contoh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Maka Rasul akan berkata ulangi lagi tarbiyah kalian kepada anak-anak kalian, karena sesungguhnya kalian belum menjadi seorang ayah dan ibu yang baik dan benar. Dan apa yang akan dikatakan Rasulullah kepada pemimpin-pemimpin negeri dan abdi negara yang kebanyakannya belum sungguh-sungguh melayani rakyatnya.

Maka Rasul akan berkata ulangi lagi kepemimpinanmu, karena sesungguhnya engkau belum menjadi pemimpin yang baik. Dan juga apa yang dikatakan Rasul kepada profesi-profesi lainnya? Niscaya Rasul akan berkata, ulangilah sekali lagi, karena sesungguhnya engkau belum melakukannya.

Semua yang akan dikatakan Rasulullah SAW kepada kita seandainya beliau hadir di sisi kita saat ini adalah sebuah nada protes, karena kebanyakan dari kita belum berlakon dan berktivitas dengan mengamalkan prinsip ihsan. Sekiranya semua profesi dan aktivitas yang dilakukan seorang Muslim berlandaskan prinsip ihsan, niscaya kebangkitan umat akan mudah tercapai.

Maka dengan momentum bulan Muharram ini, mari bertekad penuh dalam diri masing-masing senantiasa memperbaiki segala aktivitas dengan menerapkan prinsip ihsan dalam kehidupan sehari-hari serta membayangkan jika baginda Nabi berada di samping kita, apakan Nabi setuju dengan lakon kita selama ini?

Terlebih lagi dunia masih dalam masa pandemi Covid 19, dengan mengikuti protokol kesehatan, maka kita sudah menerapkan prinsip ihsan, yaitu tidak membahayakan diri sendiri serta tidak membahayakan orang lain. Wallahu A'lam bi ash-Shawab. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved