Breaking News:

Jurnalisme Warga

Prosesi ‘Pesenatken’, Naik Kuda Sebelum Dikhitan

SUKU Alas merupakan suku terbesar di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara). Tentu saja terdapat aneka budaya di dalamnya

Prosesi ‘Pesenatken’, Naik Kuda Sebelum Dikhitan
IST
MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

OLEH MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

SUKU Alas merupakan suku terbesar di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara). Tentu saja terdapat aneka budaya di dalamnya, salah satunya adalah pesenatken (khitanan). Pesenatken dalam suku Alas merupakan bagian kearifan lokal di Agara yang sampai saat ini masih terjaga eksistensinya.

Pesenatken  dilaksanakan setiap keluarga apabila anaknya mencapai usia sekitar sembilan tahun. Ada juga yang melaksanakannya ketika sang anak sudah duduk di kelas 4, 5, hingga kelas 6 SD.

Saat anak mencapai usia tersebut, tentunya dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan kesehatan, setiap keluarga yang ingin menyenat (mengkhitan) anaknya haruslah mengikuti prosesi adat yang begitu unik dan menarik. Pertama, pihak keluarga (ayah dan ibu) menyampaikan niat pesenatken kepada paman (adik laki-laki dari pihak ibu) yang disebut dengan tebekhas. Nah, saat penyampaian niat tersebut, pihak orang tua datang ke rumah paman sambil membawa luah (bekal) untuk dimakan bersama-sama (kenduri) dengan tokoh di kute (desa) tempat paman tinggal.

Bukan hal yang asing di Agara ketika melibatkan paman sebagai orang terpenting dalam ritual adat tertentu. Fenomena ini menunjukkan makna bahwa karakter hidup masyarakat Agara selalu mengutamakan gotong royang dan berdampingan, khusunya dalam lingkup kerabat dekat. Kedudukan paman sangat penting dan dihormati, tradisi ini mengajarkan pentingnya membina silaturahmi dengan keluarga paman, sebab ia akan menjadi perwakilan ayah jika sudah tiada.

Selanjutnya, setelah menyepakati hari dan tanggal pesenatken, maka keesokan harinya ataupun beberapa hari setelah itu, pihak keluarga mem-bagahi (mengundang) keluarga sanak saudara, baik jauh maupun dekat untuk hadir di acara pesenatken nantinya. Biasanya, bahagen ini diantar langsung dari pihak keluarga yang menggelar acara. Uniknya, pihak keluarga memberi undangan tersebut bukan berbentuk surat atau kartu undangan, melainkan berupa daun sirih yang terdapat kapur, pinang, dan kacu di dalamnya. Jika tamu yang diundang memakan daun sirih, maka sudah dipastikan ia akan berusaha datang ke acara khitanan tersebut.

Dalam perjalanannya, sebelum hari pokok khitanan digelar, ada lagi prosesi yang tak boleh ditinggalkan, yaitu prosesi jagai. Ini merupakan agenda adat berupa memberi doa kepada orang yang akan dikhitan. Acara tersebut digandrungi oleh masyarakat kampung setempat. Biasanya, jagai dilaksanakan beberapa varian, antara tiga, empat, sampai tujuh malam berturut-turut. Tergantung pada kemampuan paman atau pihak keluarga. Mayoritas masyarakat di Agara hanya melakukannya tiga malam saja.

Pada prosesi jagai ini, anak yang akan dikhitan duduk di depan pintu memakai kain adat khas Alas. Di hadapannya disediakan air, beras, dan dedaunan khusus untuk pangekhi (peusijuek) ke badan anak yang akan dikhitan. Setelah itu barulah orang-orang kampung duduk dan menikmati hidangan yang telah disediakan pihak keluarga sebagai rasa terima kasih karena telah turut mendoakan. Prosesi ini bertujuan agar acara puncak nantinya berjalan lancar, terutama anak yang akan dikhitan agar tidak takut ataupun dijauhkan dari hal-hal yang buruk.

Setelah prosesi ini selesai, dilanjutkan dengan pemamanen pada hari yang telah ditentukan. Pemamanen adalah kunjungan keluarga secara berkelompok berdasarkan undangan yang diberikan. Biasanya, pihak paman dan keluarga dekat lainnya datang dari kampung yang berbeda-beda membawa peulawat (uang) serta bawaan lainnya seperti tebu, bebek, ayam, dan kado.

Diarak naik kuda

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved