Selasa, 19 Mei 2026

Gadis Rohingya Meninggal di Pengungsian

Kondisi kesehatan sebagian imigran Rohingya yang terdampar di Pantai Ujong Blang Lhokseumawe, Senin (7/9/2020) dini hari lalu dilaporkan

Tayang:
Editor: bakri
For: Serambinews.com
Jenazah Nur Khalimah (21), pengunsi Rohingya yang meninggal dunia dibawa untuk disimpan di peti es RS Cut Meutia, Lhokseumawe pada Selasa (8/9/2020) malam. 

“Namun kami perlu mengonfirmasi angka itu. Kami tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa mereka adalah pengungsi karena kami belum memeriksa informasi mereka dengan detail," jelas Ann.

"Namun mengingat kita tahu bahwa mereka adalah etnis Rohingya, dan mereka bagian dari grup besar yang berjumlah 2000 ketika meninggalkan Bangladesh pada akhir Januari, kita bisa mengantisipasi bahwa mereka adalah pengungsi Rohingya," imbuhnya.

Sementara Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan pemerintah Indonesia akan menggolongkan 297 orang Rohingya sebagai migran ilegal sesuai ketentuan imigrasi. "Mereka mengakui bahwa sebagian dari mereka sudah terdaftar sebagai pengungsi dari UNHCR di Bangladesh. Namun masalah ini akan diverifikasi karena dari status mereka masuk ke Indonesia secara ilegal, maka diberlakukan ketentuan imigrasi Indonesia sekarang," ujar Faizasyah.

Verifikasi status mereka sebagai pengungsi yang terdaftar di Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) akan dilakukan bersama dengan UNHCR Indonesia.

"Kita bukan negara yang (meratifikasi) pada Konvensi Pengungsi (1951). Sekarang statusnya mereka adalah illegal migrant karena masuk ke Indonesia tanpa dokumen keimigrasian, lalu akan diverifikasi klaim mereka, apakah mereka punya status pengungsi dari UNHCR Bangladesh, itu kewenangan UNHCR. Namun dari sisi pemerintah Indonesia, yang paling pokok adalah memberikan bantuan logistik dan memastikan kondisi mereka baik dan sehat," jelasnya.

Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka bisa terombang-ambing hingga tujuh bulan di lautan? Menurut Koordinator Arakan Project, Chris Lewa, hal itu karena para imigran dijadikan tawanan oleh kelompok penyelundup manusia.

"Penyelundup manusia ini ingin dibayar, jadi mereka menawan para penumpang, itulah kenapa kelompok ini menghabiskan waktu lama di lautan sebelum mereka mendarat (di Aceh)," jelas Chris.

"Kami menghubungi beberapa kerabat para penumpang ini, mereka mengatakan telah membayar (biaya perjalanan) pada Mei lalu. Namun kenapa mereka belum mendarat saat itu adalah karena belum semua penumpang di kapal telah membayar. Jadi mereka menawan mereka di tengah lautan," tambahnya.

Menurut Chris, kapal besar yang mengangkut pengungsi Rohingya dari Bangladesh itu diatur dari Myanmar. "Lalu mereka ke Bangladesh untuk menjemput mereka. Kapal ini tidak pernah memasuki perairan Bangladesh," jelasnya.

"Saya melihat kapal yang mendarat di Aceh tadi malam, dan ini jelas bukan kapal utama. Jadi para penumpang ini ditransfer ke kapal-kapal yang lebih kecil di tengah lautan. Siapa para penyelundup manusia ini? Kami tidak tahu," kata Chris.

Ia juga meyakini bahwa akan ada kapal-kapal yang mengangkut komunitas Rohingya dalam beberapa bulan ke depan, terutama di musim puncak yang biasanya jatuh pada akhir Oktober atau November.

"Kita bisa memprediksi bahwa kapal-kapal akan mulai berangkat, mengingat kondisi di Bangladesh. Di sana, mereka tidak mau dipindahkan ke sebuah pulau yang direncanakan pemerintah akan dipakai sebagai kamp pengungsi. Di kamp (Cox's Bazaar) mulai ada banyak restriksi. Di sekeliling kamp telah dibangun pagar. Karena Covid-19, para pengungsi tidak bisa keluar kamp, dan layanan yang biasanya disediakan komunitas internasional telah berkurang," jelas Chris.

Hal itu diamini oleh perwakilan dari UNHCR di Indonesia, Ann Mayman. Ia katakan, para pengungsi Rohingya akan terus berusaha keluar dari kamp pengungsi di Bangladesh selama anggota keluarga mereka masih tersebar di negara-negara lain.

"Ini adalah fenomena yang berulang. Sampai negara-negara (Asia Tenggara) dan tentunya negara yang paling khawatir dengan masalah ini, belum memutuskan untuk membawa perdamaian ke Myanmar dan menciptakan kondisi yang memungkinkan para pengungsi untuk pulang, hal ini akan selalu terjadi, selalu," imbuh Ann. (zak/bah/BBC)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved