Breaking News:

Salam

Memetik Pelajaran dari Curhat Para Dokter

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mewartakan curahan hati (curhat) sejumlah dokter di Aceh

Kolase Serambinews.com
Safrizal Rahman, Azharuddin, dan dr Media Yulizar 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mewartakan curahan hati (curhat) sejumlah dokter di Aceh. Beberapa hal mereka utarakan. Di antaranya merasa sedih ketika ada yang menuduh bahwa dokter dan pihak rumah sakit hanya cari keuntungan saja dengan adanya wabah Covid-19.

Kedua, setiap membaca berita ada tenaga kesehatan (nakes) yang terinfeksi positif Covid-19, ketakutan di kalangan dokter pun muncul. "Mungkin besok giliran saya pula yang terpapar," kata Direktur RSUD Meuraxa, dr Fuziati SpRad. Sebagai direktur rumah sakit, lanjut Fuziati, sangat stres rasanya bila ada nakes dan staf rumah sakit yang terkonfirmasi positif Covid dan perasaan seperti itu sudah dia alami berkali-kali.

Ketiga, ada kondisi saat ini yang memprihatinkan manajemen Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh sebagai rumah sakit rujukan tingkat provinsi di Aceh. Di sela-sela kesibukan pegawai RSUZA memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien dan di tengah kondisi makin banyak saja tenaga medis yang positif Covid-19, tapi di sisi lain belum terlihat ada sedikit pun perubahan sikap masyarakat di hampir seluruh Aceh terhadap pandemi Covid ini.

Seolah Covid-19 sudah berakhir, masyarakat kembali hidup senormal ketika pandemi belum ada. Keprihatinan ini disuarakan Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr AzharuddinSpOT K-Spine, FICS. Selain itu, Dr dr Rosaria Indah MSc,_ Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah, mengungkapkan bahwa sudah lebih dari 205 nakes di Aceh terjangkit Covid-19 di Aceh.

 Artinya, 15-18% yang terjangkit di Aceh adalah nakes.Menurutnya, tidak banyak orang yang dibebani dengan tanggung jawab sebesar dokter dalam mengatasi atau mengurangi penderitaan pasien, khususnya pasien Covid-19.

Maka syukurilah kesempatan berjuang yang hanya diberikan kepada orang-orang istimewa, yakni para dokter, mujahid di arena perjuangan yang tidak biasa.

Tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Ia juga menegaskan bahwa dokter dan nakes lainnya memiliki peran istimewa dalam perang melawan Covid-19. Nah, semua yang disampaikan ketiga dokter tersebut benar adanya dan tidak terbantahkan, setidaknya untuk lingkup Aceh.

Benar bahwa dokter juga punya rasa takut tertular virus yang belum ada obat dan vaksinnya ini. Mereka juga prihatin dan kecut jika ada ada nakes yang terinfeksi Covid. Di sisi lain mereka juga tak habis pikir mengapa perilaku mayoritas masyarakat belum juga berubah terhadap Covid. Seolah Covid sudah 'game over'.

Cara pandang para dokter ini terhadap pandemi maupun terhadap perilaku masyarakat dalam merespons Covid-19 penting untuk kita cermati. Kita bisa petik hikmah dan pelajaran dari hal-hal yang mereka keluh dan khawatirkan.

Lewat curhatan merekalah kita mestinya semakin paham bahwa kalau dokter saja yang dianggap paling mampu menjaga kesehatan takut pada Covid, kita yang awam ini pun harusnya juga takut tertular.

Kalau semua pihak punya kesadaran bahwa ia bisa tertularkapan dan di mana pun, maka ia akan lebih berdisiplin menerapkan protokol kesehatan. Hal yang sama pun akan dia kampanyekan kepada orang lain di sekitarnya.

Bahkan bisa dengan menambahkan wejangan: Tuh lihat, dokter saja yang selalu pakai alat pelindung diri (APD) bisa tertular, apalagi kamu yang ogah pakai masker dan malas cuci tangan.

Curhat para dokter itu dapat pula kita jadikan sinyal sekaligus cermin bahwa mereka ternyata sangat risau dengan perilaku sebagian besar di antara kita yang_ masih beranggapan Covid itu hanya hoaks atau rekayasa kalangan medis dan awak media untuk menebar horor di tengah masyarakat.

Dengan cara itu, kedua entitas ini mengeruk keuntungan besar. Kita yang memiliki akal sehat dan percaya bahwa wabah atau pandemi Covid-19 adalah fakta, tak boleh ikut-ikutan ragu bahwa seolah Covid itu hanyalah fiksi atau bersifat khayali.

Kepercayaan yang teguh terhadap Covid memang adadan telah menyebabkan hampir sejuta kematian di seluruh dunia, ini adalah sikap yang sangat diperlukan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancamannya. Dengan cara pandang seperti itu pula kita yakin, perang melawanCovid-19 ini akan kita menangkan lebih cepat dari yang seharusnya. Insyaallah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved