Breaking News:

Jurnalisme Warga

Andai Perempuan Tahu

Ihan tahun ini terpilih menjadi satu dari lima jurnalis perempuan Indonesia yang menerima fellowship Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara

Andai Perempuan Tahu
IST
AYU ‘ULYA, Blogger, Tim Research and Development (R&D) The Leader, melaporkan dari Banda Aceh

Oleh AYU ‘ULYA, Blogger, Tim Research and Development (R&D) The Leader, melaporkan dari Banda Aceh

PEKAN lalu saya menerima undangan diskusi dari Ihan Nurdin, jurnalis perempuan di Banda Aceh. Ihan tahun ini terpilih menjadi satu dari lima jurnalis perempuan Indonesia yang menerima fellowship Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara—Unesco. Diskusi khusus bagi kaum perempuan tersebut digelar Minggu (13/9/2020) di Banda Aceh. Tema utama yang diangkat: Akses Informasi untuk Mengurangi Dampak Covid-19 terhadap Perempuan Melalui Literasi.

Sebagai perempuan, saya sadar isu Covid-19 ini tak hanya berpotensi menyerang ketahanan kondisi sosial dan ekonomi keluarga, tetapi juga fisik dan mental secara personal. Wara-wiri berita pandemi di dunia maya yang entah benar entah hoaks, membuat masyarakat semakin jemu. Terlebih kaum ibu. Perempuan tiba-tiba menjadi garda utama bagi segala aktivitas keluarganya. Mulai dari penjagaan kesehatan, pendidikan, kepastian stok konsumsi, bahkan tak tertutup kemungkinan turut pasang badan sebagai korban kekerasan dalam rumah tangganya sendiri.

Di era Covid-19 ini, perempuan menerima beban kerja, rasa lelah, juga kecemasan berlipat ganda. Sehingga, benar kiranya bahwa pengetahuan untuk mampu mengakses informasi kredibel terkait perkembangan dan pencegahan Covid-19 menjadi salah satu hal penting untuk diketahui bersama.

Tanpa kemampuan berpikir kritis serta mengakses informasi secara tepat, kaum ibu mungkin akan kesulitan membimbing anak remaja mereka untuk tetap taat menjaga jarak dalam pergaulan, memakai masker, dan mencuci tangan. Tanpa informasi yang tepat, para istri menjadi tidak sadar bahwa keabaian suami mereka yang tetap berkerumun dalam ruang tertutup, seperti warung kopi atau lapangan futsal, tanpa menaati protokol kesehatan secara tidak langsung telah mendaftarkan anggota keluarnya dalam antrean calon pasien Covid-19. Dengan kata lain, tanpa pemahaman pengaksesan informasi yang tepat, keberadaan internet—terutama media sosial—hanya menjadi tambahan beban mental tanpa solusi mencerahkan.

Kerentanan perempuan

Dunia ini seimbang. Jika terdapat sisi gemerlap, maka tentu ada bagian gelap. Demikian juga dengan kehebohan work from home atau study from home yang terus didengungkan sepanjang 2020 ini. Sebegitu berisiknya, mungkin kita jadi tidak sempat menyadari hal penting lainnya yang justru terbungkamkan. Seperti kerentanan berlipat ganda yang dihadapi para perempuan.

Kemampuan manusia untuk membawa hampir seluruh aktivitas sosial sehari-hari ke dalam rumah dengan bantuan teknologi tentunya sekilas terkesan solutif dan sungguh bergaya modern. Namun, pada kenyataannya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tersebut juga membawa beragam kemelut baru yang tak disangka-sangka. Seperti peningkatan rasa kesepian (loneliness), problematika kawin-cerai dini, pernikahan siri, dan juga tindak kekerasan di ranah domestik.

Demikianlah yang disampaikan Amrina Habibi, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, yang hadir sebagai salah satu pemateri diskusi. Melalui tema “Problematika Perempuan yang Muncul Akibat Covid-19”, Amrina memaparkan besarnya kerentanan masalah kesehatan dan keselamatan para perempuan di era Covid-19 dengan beban domestiknya yang mengganda.

Bisa jadi struktur sosial masyarakat Aceh yang kini cenderung patriarki menjadi salah satu pemicunya. Masyarakat dengan mudah melabelkan segala aktivitas domestik sebagai “lencana” milik perempuan seorang.  Sehingga, ketika pandemi terjadi, segala aktivitas sosial di luar rumah pun menjadi bagian domestik, maka perempuanlah yang dituntut sepenuhnya bertanggung jawab. Perempuan pergi belanja, memasak, cuci piring dan pakaian. Perempuan menjaga dan mengajarkan anak, melayani suami dan perempuan juga harus menyelesaikan beban kerjanya sendiri. Sayangnya, kebanyakan perempuan tak sadar bahwa segala hal yang disematkan sebagai “kewajiban” itu bukanlah miliknya seorang diri karena menyandang jenis kelamin perempuan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved