Rabu, 15 April 2026

Luar Negeri

Pendemo di Thailand Berani Menentang Raja, Serukan Reformasi Monarki di Negeri Gajah Putih

- Sebuah gerakan pro-demokrasi yang dipimpin sekelompok mahasiswa berkembang pesat di Thailand beberapa bulan terakhir.

Editor: Faisal Zamzami
AP PHOTO/WASON WANICHAKORN
Para demonstran pro-demokrasi mengibarkan bendera nasional di lapangan Sanam Luang, saat berdemo di Bangkok, Thailand, Sabtu (19/9/2020). Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan hari itu untuk mendukung para mahasiswa yang berunjuk rasa mendesak digelarnya pemilu baru dan merombak sistem kerajaan.(AP PHOTO/WASON WANICHAKORN) = 

Gerakan ini juga menyebar sampai ke sekolah-sekolah menengah di seantero Thailand.

Para remaja memakai pita solidaritas putih di rambut dan ranselnya.

Akan tetapi, kelompok pro-loyalis membuat demo tandingan dengan skala lebih kecil.

Sebagian besar pengunjuk rasa berusia lebih tua, dan marah atas penghinaan yang menerpa kerajaan.

Panglima Angkatan Darat Apirat Kongsompong telah memperingatkan, "kebencian terhadap bangsa" adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Prayuth pun mengatakan, Thailand akan "dilahap api" jika para mahasiswa bertindak terlalu keras, tetapi dia sendiri juga berjanji "akan bersikap lebih lunak" terhadap para pengunjuk rasa di akhir pekan lalu.

Sejauh ini lebih dari 20 demonstran telah ditangkap karena dituduh menghasut dan melanggar aturan virus corona.

Mereka dibebaskan dengan jaminan.

 5. Bagaimana selanjutnya?

Para pengunjuk rasa menggelar demo lain pada Kamis (17/9/2020) di luar parlemen, saat para anggota parlemen membahas potensi perubahan konstitusi.

s
 Pendukung monarki Thailand berunjuk rasa di Bangkok, Thailand, Minggu (30/8/2020). Mereka mulai mengorganisasi untuk mempertahankan monarki sebagai tanggapan terhadap aksi yang dipimpin mahasiswa baru-baru ini.(AP Photo/Sakchai Lalit)

 Mereka juga berencana melakukan mogok massal pada 14 Oktober, tetapi situasi selanjutnya sulit diprediksi. Paul Chamber dari Universitas Naresuan bependapat, dengan menggoyang kerajaan, para demonstran sudah "memaksa jin keluar dari botol".

Para sejarawan dan bahkan para pemimpin mahasiswa itu sendiri membuka lagi ingatan kelam dari gerakan-gerakan yang dipimpin mahasiswa sebelumnya.

Aksi yang berakhir pada Oktober 1976 itu dikenal sebagai pembantaian Universitas Thammasat.

Para mahasiswa yang memprotes kembalinya diktator militer ditembak, dipukuli sampai tewas, dan digantung oleh pasukan negara serta massa royalis.

Matt Wheeler dari International Crisis Group menunjukkan "pola yang jelas" dari negara yang menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved