Breaking News:

Salam

Penambangan Emas Liar, Kapankah Berhentinya?  

POLISI di Aceh Berat pekan lalu menyergap para penambang emas liar di kawasan Daerah Aliran sungai (DAS) Krueng Cahop Angkop, Kecamatan Panton Reu

Kiriman Jai
Salah satu alat berat di lokasi penambangan emas ilegal di Daerah Aliran Sungai (DAS) kawasan Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat 

POLISI di Aceh Berat pekan lalu menyergap para penambang emas liar di kawasan Daerah Aliran  sungai (DAS) Krueng Cahop Angkop, Kecamatan Panton Reu, kabupaten setempat. Dalam penyergapan itu, polisi menangkap seorang penambang sedangkan lima lainnya berhasil lolos masuk ke hutan di kawasan tersebut. Polisi juga mengamankan satu beko dan sejumlah peralatan lain yang diduga selama ini dipakai untuk menambang emas secara ilegal di lokasi itu.

Seorang yang ditangkap sudah ditetapkan sebagai tersangka yang dijerat dengan Pasal 158 UU RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 4 Tahun 2019 tentang Penambangan Mineral dan Batu Bara. Ancaman hukumannya paling lama lima tahun penjara dan denda sebesar Rp 100 miliar. Sedangkan lima orang lainnya yang berhasil melarikan diri sudah diketahui identitasnya dan polisi sedang memburu mereka.

Pejabat lingkungan hidup di Aceh Barat mengatakan, setiap penambangan menggunakan alat berat di Daerah Aliran Sungai (DAS) tentu akan merusak lingkungan. Saat ini, di kawasan Sungai Mas ada perusahaan yang memperoleh izin membuka tambang rakyat. Sehingga, masyarakat nanti bisa bergabung ke sana. Karena sudah diizinkan, sambungnya, tentu saja aktivitas penambangan di lokasi yang legal tersebut tidak merusak lingkungan.

Ia berharap kepada panambang emas agar tak lagi melakukan atau menghentikan aktivitas di lokasi tambang ilegal karena hal itu bisa merusak lingkungan. Perusahaan yang memperoleh izin melakukan eksplorasi emas di kawasan Sungai Mas adalah PT Magellanic Garuda Kencana. “Perusahaan itu akan membina penambang emas yang bekerja di lokasi tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata si pejabat.

Selain merusak lingkungan, terutama karena menggunakan alat berat dan zat-zat kimia berbahaya  seperti mercuri, penambangan emas secara liar itu juga acap menimbulkan kecelakaan. Di Aceh, kecelakaan demi kecelakaan terjadi di kawasan penambangan emas tanpa izin itu. Namun, para penambang seperti tidak jera dan kehilangan rasa takut untuk tetap menjadi penambang emas secara liar yang mengabaikan standar keselamatan.

Dengan risiko yang sangat tinggi, penambang emasliar itu sebenarnya melakukan dua hal pada saat bersamaan, yakni bekerja dan mempertaruhkan nyawa. Pertanyaan kita, mengapa penambangan emas secara liar masih terus berlangsung? Kita tahu bahwa sejumlah tindakan sudah dilakukan pemerintah. Beberapa di antaranya adalah janji, yang belakangan tak terlihat dampaknya. Contoh, ketika ada sejumlah penambang yang tewas di lubang-lubang galian emas di kawasan Geumpang, Pidie, pemerintah pernah berjanji menertibkan bahkan menutup aktivitas penambangan tersebut.

Nyatanya, hingga kini masih ada aktivitas penambangan emas secara liar di sana. Selain itu, aparat kepolisian, termasuk TNI pun sudah pernah berkali-kali menertibakan dan menangkap pelaku serta menyita alat-alat yang dipakai dalam aktivitas terlarang itu. Namun, sebagaimana kita ketahui, hingga kini aktivitas tanpa izin itu masih berlangsung di sejumlah lokasi.

Satu hal yang kita ingin katakan, dulu pemerintah mengatakan agak toleran karena penambangan itu dilakukan secara tradisional dan sambilan oleh petani. Namun, sejak beberapa tahun terakhir penambangan sudah dilakukan secara besar-besaran menggunakan banyak alat berat yang harganya miliaran rupiah. Itu artinya, penambangan liar itu bukan secara tradisional lagi. Dan, yang menambang bukan masyarakat kecil di sekitar tambang, melainkan pekerja-pekerja yang didatangkan dari luar oleh para pemodal besar. Janganjangan mereka juga punya kemampuan untuk mengatur oknum-oknum penertib.

Oleh sebab itu, meski lingkungan sudah telanjur rusak, dan kesan pembiaran juga sudah sering didengungkan aktivis-aktivis lingkungan, kita percaya pemerintah dan aparat masih cukup mampu untuk menertibkan atau menghentikan aktivitas-aktivitas penambangan secara liar di Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved