Berita Banda Aceh
Kisah Nelayan Aceh Ditahan di Thailand, Makan 2 Kali Sehari Hingga kelaparan
Sebanyak 51 nelayan asal Aceh sempat ditahan oleh pihak otoritas keamanan Thailand selama delapan bulan. Mereka ditangkap karena dituduh melewati...
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Jalimin
Laporan Muhammad Nasir I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Sebanyak 51 nelayan asal Aceh sempat ditahan oleh pihak otoritas keamanan Thailand selama delapan bulan. Mereka ditangkap karena dituduh melewati batas negera saat mencari ikan.
Selama delapan bulan dalam penjara, para nelayan merasa cukup jera. Mulai tidak berkomunikasi dengan keluarga, makanan terbatas, hingga merasa kelaparan. Bahkan mirisnya, mereka sempat menjual pakaian supaya bisa makan.
Sebab makanan jatah makanan yang diberikan oleh pihak penjara dinilai tidak cukup.
Upaya Pemerintah Aceh memulangkan 51 nelayan itu menuai rasa syukur dan ucapan terimakasih dari para nelayan.
Feri Madona, nelayan asal Aceh Tamiang, merasa begitu lega usai lepas dari tahanan. Ia bersyukur dapat menghirup kembali udara di luar tahanan dan kembali ke kampung halaman tercinta.
"Kami sangat berterimakasih kepada pemerintah, Alhamdulillah bisa bebas dan dipulangkan sampai di sini kembali,"kata Feri.
• Polisi Tutup Pengeboran Minyak di Aceh Tamiang, Seorang Pemilik Sumur Turut Diamankan
• Kisah The King of Ratoh Jaroe, Pernah tak Makan dan Jadi Tukang Cuci Mobil
• Pulang dari Pendidikan, 41 Anggota TNI Positif Corona, Status Kabupaten Berubah Jadi Zona Merah
Feri juga menceritakan kisahnya selama menjalani penahanan. Ia mengaku harus menjalani hari-hari yang sulit, salah satu hal yang paling dikeluhkannya adalah soal makan sehari-hari.
"Sehari cuman dua kali diberi makan, pagi dan sore. Selebihnya kami tidak mendapat apa-apa. Malam kalau lapar terpaksa harus ditahan,"kata Feri.
Meskipun demikian, Sebut Feri, selama berada di tahanan, pihak Kedutaan Indonesia di Thailand mengunjungi mereka sebanyak tiga kali. Setiap kunjungan mereka mendapatkan sedikit uang saku dari Kedutaan.
"Ya tapi tetap tidak cukup, uang itu gak tahan lama. Bahkan pakaian yang diberikan pihak kedutaan harus kami jual agar bisa jajan di kantin,"ujar Feri.
Tidak hanya itu, selama delapan bulan di sana Feri juga terpaksa harus memendam rindu dengan keluarga tercinta. Seluruh alat komunikasi yang mereka bawa tidak diperkenankan untuk digunakan.
"Baru sampai di Jakarta kemarin bisa menghubungi keluarga lagi, "ucap Feri dengan nada yang lirih.
Oleh sebab itulah, Feri merasa sangat bersyukur dapat kembali dengan selamat dan berkumpul kembali dengan keluarga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kadis-sosial-menyerahkan-santunan-secara-simbolis-pada-salah-satu-nelayan.jpg)