Kesehatan
Ini 4 Jenis Komplikasi Penyakit DM yang Harus Diwaspadai, Apa Bahayanya?
Pasalnya, kadar glukosa yang terlalu tinggi dan melebihi kebutuhan tubuh bisa menyebabkan penyakit diabetes militus.
Pasalnya, kadar glukosa yang terlalu tinggi dan melebihi kebutuhan tubuh bisa menyebabkan penyakit diabetes militus.
SERAMBINEWS.COM - Penyakit diabetes millitus (DM) salahsatu penyakit berbahaya.
Kasus diabetes di Indonesia terbilang banyak dan terus mengalami peningkatan.
Berdasarkan data WHO pada awal 2020, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah pasien diabetes terbanyak di Asia setelah India.
Diabetes terjadi karena tingginya kadar gula atau glukosa dalam darah.
Glukosa merupakan sumber energi utama dalam sel tubuh manusia.
• Ini Lima Penyakit Penyebab Kebutaan, Waspadai Sejak Dini Supaya Bisa Dicegah
• Viral Perbedaan Suami dan Istri Urus Anak, Jika Bayi Bisa Bicara Disebut akan Marah
• Pramugari Selundupkan Heroin dalam Bra dan Celana Dalam, Ternyata 3 Bulan Berlatih Demi Butuh Uang
Dengan adanya glukosa, manusia menjadi lebih bertenaga, sehingga bisa melakukan aktivitas sehari-hari.
Namun, kadar glukosa ini harus dikontrol agar tak berlebihan.
Pasalnya, kadar glukosa yang terlalu tinggi dan melebihi kebutuhan tubuh bisa menyebabkan penyakit diabetes militus.
Penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi akut dalam jangka pendek dan komplikasi kronis dalam jangka panjang apabila tidak dikontrol dengan baik.
Maka dari itu, para penderita diabetes penting untuk selalu rutin memantau dan menjaga kadar gula darah agar tetap normal.
Ketika terlalu banyak gula menetap dalam darah untuk waktu yang lama, dapat memengaruhi pembuluh darah, saraf, mata, ginjal, dan termasuk sistem kardiovaskular ( jantung).
Melansir Buku saku “Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus” yang diterbitkan Kemenkes RI pada 2005, berikut ini penjelasan mengenai beberapa komplikasi diabetes yang sering terjadi dan harus diwaspadai:
1. Hipoglikemia (gula darah rendah)
Hipoglikemia adalah gangguan kesehatan yang terjadi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah kadar normal.
Hipoglikemia termasuk komplikasi diabetes akut yang paling umum terjadi pada penderita diabetes.
Sindrom hipoglikemia dapat ditandai dengan beberapa gejala klinis pada penderita diabetes, sebagai berikut:
- Merasa pusing
- Lemas
- Gemetar
- Pandangan berkunang-kunang
- Pitam (pandangan menjadi gelap)
- Keluar keringat dingin
- Detak jantung meningkat
- Sampai hilang kesadaran
Apabila tidak segera ditolong dapat terjadi kerusakan otak dan akhirnya kematian.
Pada hipoglikemia, kadar glukosa plasma penderita kurang dari 50 mg/dl, meski ada juga orang yang sudah menunjukkan gejala hipoglikemia pada kadar glukosa plasma di atas 50 mg/dl.
Kadar glukosa darah yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi, sehingga tidak dapat berfungsi bahkan dapat rusak.
Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 1, yang dapat dialami 1–2 kali per minggu.
Dari hasil survei yang pernah dilakukan di Inggris, diperkirakan 2–4 persen kematian pada penderita diabetes tipe 1 disebabkan oleh serangan hipoglikemia.
Pada penderita diabetes tipe 2, serangan hipoglikemia lebih jarang terjadi, meskipun penderita tersebut mendapat terapi insulin.
Serangan hipoglikemia pada penderita diabetes umumnya terjadi apabila penderita:
- Lupa atau sengaja meninggalkan makan (pagi, siang atau malam)
- Makan terlalu sedikit, lebih sedikit dari yang disarankan oleh dokter atau ahli gizi
- Berolah raga terlalu berat
- Mengkonsumsi obat antidiabetes dalam dosis lebih besar dari pada seharusnya
- Minum alkohol
- Stres
- Mengkonsumsi obat-obatan lain yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia
Selain itu, beberapa hal ini juga bisa menjadi penyebab hipoglikemik pada penderita diabetes:
- Dosis insulin yang berlebihan
- Saat pemberian yang tidak tepat
- Penggunaan glukosa yang berlebihan misalnya olahraga anaerobik berlebihan
- Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan kepekaan individu terhadap insulin, misalnya gangguan fungsi adrenal atau hipofisis
Untuk mencegah hipoglikemik, para penderita diabetes pada dasarnya hanya perlu menghindari beberapa hal yang dapat menyebabkan kondisi tersebut.
2. Hiperglikemia
tribunnews
Hiperglikemia adalah keadaan di mana kadar gula darah melonjak secara tiba-tiba.
Penyabab hiperglikemia pada penderita diabetes dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:
- Stres
- Infeksi
- Konsumsi obat-obatan tertentu
Sementara itu, kejadian hiperglikemia pada penderita diabetes dapat ditandai dengan:
- Poliuria, yakni dorongan untuk buang air kecil secara terus menerus dalam jarak waktu yang singkat
- Polidipsia, yakni rasa haus yang tidak berkesudahan
- Polifagia atau nafsu makan meningkat
- Kelelahan yang parah (fatigue)
- Pandangan kabur
Apabila diketahui dengan cepat, hiperglikemia dapat dicegah tidak menjadi parah.
Hipergikemia sendiri dapat memperburuk gangguan-gangguan kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi, dan infeksi jamur pada vagina.
Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain Diabetic ketoacidosis (DKA) dan Hyperglycemic hyperosmolar syndrome (HHS), yang keduanya dapat berakibat fatal dan membawa kematian.
Cara mencegah terjadinya hiperglikemia pada penderita tidak lain dengan melakukan kontrol kadar gula darah secara ketat.
3. Komplikasi makrovaskular
Tiga jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang pada penderita diabetes adalah penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit pembuluh darah perifer.
Meski komplikasi makrovaskular dapat juga terjadi pada DM tipe 1, namun yang lebih sering merasakan komplikasi ini adalah para penderita DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi, dislipidemia dan atau kegemukan.
Kombinasi dari penyakit-penyakit komplikasi makrovaskular dikenal dengan berbagai nama, antara lain Syndrome X, Cardiac Dysmetabolic Syndrome, Hyperinsulinemic Syndrome, atau Insulin Resistance Syndrome.
Karena penyakit-penyakit jantung sangat besar risikonya pada penderita diabetes, maka pencegahan komplikasi terhadap jantung harus dilakukan sangat penting dilakukan, termasuk pengendalian tekanan darah, kadar kolesterol, dan lipid darah.
Penderita diabetes sebaiknya selalu menjaga tekanan darahnya tidak lebih dari 130/80 mm Hg.
Untuk itu penderita harus dengan sadar mengatur gaya hidupnya, termasuk:
- Mengupayakan berat badan ideal
- Diet dengan gizi seimbang Berolah raga secara teratur
- Tidak merokok
- Mengurangi stres
4. Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1.
Hiperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang terglikasi (termasuk HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi makin lemah dan rapuh dan terjadi penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil.
Hal inilah yang mendorong timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskuler, antara lain:
- Retinopati, yakni kerusakan mata, khususnya retina, yang mengganggu penglihatan hingga menyebabkan kebutaan
- Nefropati atau kerusakan atau penyakit ginjal
- Neuropati atau kerusakan saraf
Selain karena kondisi hiperglikemia, ketiga komplikasi ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik.
Oleh sebab itu, dapat terjadi dua orang yang memiliki kondisi hiperglikemia sama, tapi berbeda risiko komplikasi mikrovaskularnya.
Namun demikian, faktor terkuat untuk perkembangan komplikasi mikrovaskular tetap lama (durasi) dan tingkat keparahan diabetes.
Satu-satunya cara yang signifikan untuk mencegah atau memperlambat jalan perkembangan komplikasi mikrovaskular adalah dengan pengendalian kadar gula darah yang ketat.
Pengendalian intensif dengan menggunakan suntikan insulin multi-dosis atau dengan pompa insulin yang disertai dengan monitoring kadar gula darah mandiri dilaporkan dapat menurunkan risiko timbulnya komplikasi mikrovaskular sampai 60 persen.
Artikel ini telah tayang di Tribuncirebon.com dengan judul Hati-hati Inilah 4 Jenis Komplikasi Diabetes Melitus yang Harus Diwaspadai, Apa Berbahaya?,