Kupi Beungoh
Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (I)
Dawkins, profesor Zoologi yang kemudian berkembang dan fokus kepada sosiobiologi dan evolusi psikologi pada dasarnya mengeritik agama Katholik.
Mulanya virus ini bertebaran di antara orang-orang baik yang mencoba menempuh logika kebenaran dalam berbuat sesuatu, namun dalam perkembangannya kemudian logika itu dibalikkan dan bermutasi dengan berbagai cara menjadi virus “pembenaran”.
Awalnya virus itu merebak dikalangan kelompok kecil yang rusak, namun kemudian menyebar dan menular, dan bahkan akhirnya orang yang seharusnya suci juga terjebak dan tertularkan dengan virus “proposal” ini.
Ini adalah sebuah contoh bagaimana virus mental yang pada awalnya baik, lalu berevolusi dan bermutasi menjadi virus yang merusak yang kemudian melumat banyak anggaran pembangunan propinsi dan kabupaten kota.
Walaupun ketiga virus tadi dalam pengamatan biasa sering dikaitkan sebagai parasit, dan penyusup yang berbuat sekehendaknya.
Namun unsur lain yang paling berbahaya adalah sifat mengandakan diri pada objek apapun yang tarpapar dengan mereka.
Ini artinya virus biologi, digital, dan mental mempunyai daya tembus, daya salin, daya sebar, daya ganda, dan daya perintah yang dahsyat.
Lihat saja deskripsi Covid-19 yang mampu menggunakan kelemahan apapun yang dimiliki individu, mulai dari immunitas, gaya hidup, sampai dengan kelemahan berbagai penyakit degeneratif lainnya.
Saudara nonbiologinya, virus mental, pada saat ini sangat cepat berkembang dengan revolusi komunikasi digital yang dapat merasuk seseorang, atau sekelompok orang untik merobah pola pikir, perilaku, dan bahkan akhirnya menjadi penyebar dan bahkan mejadi super spreader, virus mental yang sangat berbahaya.
Koalisi Virus Mental dan Covid-19
Secara akal sehat, cara yang paling gampang mengevaluasi kemanjuran pengendalian Covid-19 di berbagai tempat di dunia adalah dengan melihat keadaan secara keseluruhan.
Dalam konteks pandemi, keberhasilan dan kegagalan pengendalian selalu berurusan dengan sebuah pertanyaan besar, kenapa dan bagaimana?
Kenapa Cina, Vietnam, New Zealand, dan Korea Selatan, jauh lebih berhasil mengendalikan Covid-19 dibandingkan dengan AS, Inggris, Brazil, dan Peru, atau Mexico.
• Kasus Virus Corona India Melampaui 7 Juta Orang, Para Ahli Keluarkan Peringatkan
Di lain pihak, di Indonesia, misalnya mengapa indikator pengendalian pandemi selalu menempatkan DKI, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Jawa Tengah berada pada gugus propinsi terbaik dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain.
Kenapa Aceh yang penduduknya hanya sekitar 5 juta, tidak mempunyai aktivitas ekonomi industri, tidak mempunyai pariwisata yang signifikan, bukan hub konektivitas udara, laut, dan darat,namun mempunyai indikator pengendalian pandemi yang buruk dan bahkan sangat buruk?
Tidak hanya itu bagaimana mungkin pula indikator pandemi Aceh menjadi jelek dengan keputusan refocusing APBA until Covid-19 menjadi 2.5 trilliun, dibandingkan dengan Sumatera Barat yang nomos 2 teratas nasional, padahal mempunyai dana refocusing APBD sedikit lebih dari 1 triliun rupiah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-dr-ahmad-humam-hamid.jpg)