Breaking News

Opini

Kisah Para Buruh Singkil di Pekan Minggu Rimo

TANAH Singkel modern (Aceh Singkil-Subulussalam) dibentuk oleh buruh melalui pekan (onan) Minggu Rimo di Aceh Singkil

Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Kisah Para Buruh Singkil di Pekan Minggu Rimo
IST
NURHALIMAH ZULKARNAEN, S. Sos., pegiat budaya dan alumnus Sosiologi Agama di Universitas Islam Negeri UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Singkil

NURHALIMAH ZULKARNAEN, S. Sos., Guru Sosiologi di SMA Aceh Singkil, melaporkan dari Simpang Kanan, Aceh Singkil

TANAH Singkel modern (Aceh Singkil-Subulussalam) dibentuk oleh buruh melalui pekan (onan) Minggu Rimo di Aceh Singkil. Hal ini seringkali tidak dilirik sebagai faktor dominan dan jawaban dari banyak pertanyaan mengenai komunitas Singkel.

Peran pasar Minggu di Rimo tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga menerangkan adanya kesadaran kelas sebagai upaya membatasi konflik. Kedua aspek ini menjelaskan banyak hal, yaitu orientasi masyarakat, sosiologi pedesaan, dan transformasi penghasilan yang dibentuk oleh perusahaan di mana buruh-buruh di Singkel sebagai penopang utamanya.

Sejak masa kolonialisme Hindia Belanda yang bertumpu pada perkebunan onderneming di Sumatra Timur merembes ke Aceh, dengan berdirinya PT Socfindo di Lae Butar Aceh Singkil, selanjutnya tanah Singkel terus digempur oleh berbagai perusahaan asing. Mulai dari kebun kelapa sawit, kebun jeruk, hingga pengelolaan kayu yang mengutamakan banyak sekali buruh dari Jawa dan buruh lokal. Dari semangat “pembangunanisme” inilah tanah Singkel perlahan-lahan menjadi daerah dengan buruh-buruh murah, pun dengan dukungan sistem buruh cadangan yang rela dibayar murah asalkan dapat pekerjaan.

Dari sini, transformasi kebudayaan Singkel berubah secara total, hal ini bersahutan dengan konsep sosiologi klasik di mana infrastrukturlah yang membentuk suprastruktur. Terlalu naif untuk menyangka bahwa kebudayaan di tanah Singkel dibentuk oleh spritualitas atau identitas etnis-etnis lengkap dengan seperangkat tarian, adat, tradisi ataupun bahasa. Padahal, segala hal yang berkaitan dengan kultur masyarakat dibentuk oleh infrastruktur ekonomi. Terbentuknya bahasa, adat, dan tradisi hanya karena mengikuti sistem ekonomi dan sosial lokal. Dalam kasus pasar Minggu Rimo yang menjadi titik pusat kemajuan di Aceh Singkil sebgai contoh konkret dalam hal ini di mana infrastruktur sangat dominan dalam membentuk identitas masyarakat di tanah Singkel.

                        Mengapa Minggu?

Minggu adalah kunci dari mengapa Pekan Rimo lebih maju ketimbang pasar-pasar lainnya di Aceh Singkil, karena Minggu adalah hari liburnya para buruh dari kegiatan perkebunan sawit. Rimo merupakan daerah yang dikelilingi oleh pabrik kelapa sawit. Karena itulah sebagian besar buruh terdapat di Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil. Hal ini berbeda dengan daerah lain yang membuka pasar harian (uroe peukan atau uroe ganto) pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Sabtu yang dapat dikatakan tak sebesar pasar Minggu di Rimo.

Jam kerja dan hari libur adalah kebudayaan yang lahir ketika adanya bangunan sistem industri. Artinya, kebudayaan sosial yang ditentukan oleh jam dan hari adalah murni dari konstruksi sistem pabrik. Umumnya, jam kerja di Singkil bagi buruh mulai pukul 8 pagi, istirahat pukul 12.00, lalu kembali bekerja dari pukul 13.00 sampai 16.00 sore. Karena itu pulalah, dari kebudayaan masyarakat buruh kebun mempunyai kebiasaan jam tidur dan jam makan yang diatur mengikuti jam kerja mereka menjadi buruh. Hal tersebut tak dapat diterapkan pada masyarakat yang masih bekerja di sawah, karena jam kerja di sawah sering menyisakan waktu kosong.

Habisnya sawah (juma) di Singkil secara tidak disadari memengaruhi orientasi jam kerja bagi masyarakat. Sehingga, jika dahulu komunitas Singkel dapat melaksanakan begahan (pesta adat) secara totalitas karena mereka tidak terikat dengan jam kerja, mata pencahariannya adalah bertani di sawah, bukannya buruh yang terikat dengan sistem jam kerja pabrik atau lahan milik tuan kebun. Perlahan, transformasi masyarakat pabrik dirasakan dapat memengaruhi bagaimana transformasi sosial masyarakat. Karena itu, sistem kapitalisme yang tergambar dalam banyaknya pabrik kelapa sawit tidak hanya dipandang melulu sebagai produksi ekonomi, akan tetapi juga berdampak pada struktur sosial. Anda dapat membandingkan perbedaan masyarakat sebagai buruh-buruh dengan jam kerja dan masyarakat tani di sawah tanpa jam kerja dalam relasinya pada keluarga, orientasi kebudayaan, sistem adat, dan lain-lain. Diam-diam, kebanyakan kita justru merindukan masyarakat tani yang harmonis, iya kan? Ngaku deh.

                                                Malam Mingguan

Dengan adanya sistem pabrik dan buruh-buruh kebun inilah terciptanya term-term ‘malam mingguan’ yang sebenarnya lahir dari masyarakat industrial. Bagi anak muda, ‘malam mingguan’ merupakan istilah tersendiri dari kebebasan rutinitas di hari-hari Senin sampai Sabtu. Sedangkan bagi masyarakat buruh Minggu merupakan puncak di mana mereka tak bekerja dan pergi ke pekan Minggu untuk belanja atau bercengkrama di pasar sambil menyeruput kopi. Sedikit-banyak, begitulah Pekan Minggu Rimo di Singkil mampu memberi sumbangsih ekonomi dan kebudayaan modern.

Selain itu, tentu saja di pasar tempat bertemunya identitas-identitas yang plural. Tidak ada kelas sosial dalam pasar tradisional. Bahkan, ketika konflik agama di Singkil pecah tahun 2015, pekan Rimo masih ramai dengan pedagang-pedagang dari agama-agama yang berbeda melakukan proses jual-beli tanpa adanya kecurigaan. Satu-satunya jalan untuk menghapus kebencian yang berdasar rasial dan agama adalah kesadaran kelas. Pasar menyediakan ruang bagi kesadaran, dalam titik tertentu pasar lebih inklusif ketimpang kampus, gedung pemerintahan, atau ruang-ruang ber-AC lainnya. Dari sini, kita belajar bahwa cara paling ampuh untuk menghapuskan konflik identitas adalah dengan menanamkan kesadaran kelas kepada masyarakat. Di Singkel, orang yang berkonflik dalam wacana-wacana agama, politik, etnis, dan lain-lain adalah mereka yang berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas buruh.

Buruh dan solidaritas merupakan dua hal yang biasanya disebutkan dalam satu tarikan napas, komunitas atau masyarakat yang dibentuk oleh buruh adalah proses yang aktif. Pemerintah daerah Aceh Singkil tampak tidak memberikan perhatian lebih pada elemen masyarakat Singkel yang berasal dari kalangan buruh. Padahal, tekanan terhadap buruh dengan tidak memberikan jaminan-jaminan sosial dan ketenagakerjaan berdampak bukan hanya runtuhnya ekonomi satu daerah, akan tetapi memancing ketidakstabilan suprastruktural seperti kriminalitas tingkat kampung yang menciptakan kesenjangan sosial.  Jika pasar Minggu sudah sepi dari buruh-buruh yang berlibur dari jam kerja, kita mestinya harus mengantisipasi bahwa tatanan masyarakat sedang dalam masalah yang serius.  

Pemandangan setiap pagi di mana tetangga saya dan sekumpulan ibu-ibu lainnya diangkut dengan mobil   pikap atau colt diesel sebagai buruh harian lepas (BHL) adalah mereka yang selalu tersenyum puas saat belanja sayur dan ikan pahiten. Senyum itulah yang selalu saya rindukan pada setiap hari Minggu dan demi Tuhan saya tak ingin melihat senyum itu pupus, terutama di masa pandemi ini dan pascapengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved