Opini
Investasi Genjot Pembangunan
Perkembangan pembangunan sebuah daerah tidak terlepas dari pengaruh iklim investasi di daerah tersebut. Investasi dan pembangunan sangat erat
Banda Aceh sebelum merebaknya wabah Covid-19 sudah menjadi incaran investor baik dari dalam maupun luar negeri. Tapi belakangan beberapa investor yang sudah komit berinvestasi terpaksa menunda karena terhalang pandemi Covid-19.
Indikator yang menjadi sebab datangnya investor ke ibu kota Provinsi Aceh sebagai tempat menanam modal, di antaranya pemerintah kota komit menyediakan lahan yang diperlukan sekaligus memberikan berbagai kemudahan perizinan.
Selain itu, Banda Aceh juga memiliki andalan utama di sektor pariwisata, baik dari segi alam, pantai, maupun kulinernya. Di sisi lain, Banda Aceh secara khusus, dan Aceh pada umumnya juga memiliki wisata religi dan sejarah yang sudah dikenal di mata dunia. Di antaranya Museum Tsunami, PLTD Apung, boat di atas rumah, Masjid Raya Baiturrahman, Gunongan, Taman Putro Phang, Rumoh Aceh, Makam Syiah Kuala, Kerkhof Belanda, dan Taman Bustanussalatin.
Bila dilihat dari sumber daya alam (SDA), kota yang berada di pantai barat ini memiliki prospek investasi di sektor pendidikan, kelautan, dan kesehatan. Yang paling menentukan adalah Banda Aceh sebagai kota paling aman karena tidak pernah terjadi konflik berbasis SARA.
Dukungan masyarakat
Pembangunan tidak bisa berjalan tanpa adanya dukungan masyarakat, yang sangat menentukan kemajuan suatu daerah. Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan menjadi suatu keharusan. Pembangunan yang dirancang pemerintah juga tidak terlepas dari kemauan masyarakat sendiri. Karena konsep dasar pembentukan pemerintah untuk memberikan pelayanan dan menjamin kehidupan rakyatnya.
Karena itu, saya mengajak semua warga kota untuk menunjukkan sikap ramah kepada investor. Dengan datangnya investor, lapangan pekerjaan akan terbuka seluas-luasnya. Sementara peran pemerintah mengontrol agar pembangunan berjalan sesuai perencanaan.
Pemerintah Kota terus berupaya memberikan yang terbaik untuk warganya. Beberapa kerja nyata sudah terbukti keberhasilannya seperti setiap tahun terus terjadi penurunan angka kemiskinan dan pengangguran di Banda Aceh. Jika pada tahun 2017 angka kemiskinan 7,44%, maka pada tahun 2018 turun 7,25%, dan 2019 tersisa 7,22%. Sementara angka pengangguran pada 2018 tinggal 7,29% dari sebelumnya 12 persen pada 2015 silam.
Menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran berbanding lurus dengan laju pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Banda Aceh naik dari 3,39 pada 2017 menjadi 4,49 persen pada 2018. Pendapatan per kapita juga naik dari Rp 64,2 juta menjadi Rp 66,2 juta per tahun. Kemudian inflasi juga turun dari 4,86 ke 1,93 persen.
Tumbuhnya perekonomian kota juga terkait erat dengan sektor pariwisata yang terus menggeliat. Pada 2017 jumlah kunjungan wisatawan tercatat 288 ribu orang, 2018 naik 380 ribu, dan 2019 meningkat tajam hingga 500 ribu lebih wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberhasilan itu tentu menjadi semangat baru dalam berkerja dan berkarya. Semoga kehadiran para investor bisa mengenjot kebangkitan pembangunan Banda Aceh yang lebih baik ke depan.
Saya mengajak semua warga untuk mendukung setiap program pembangunan kota, sehingga Banda Aceh bisa menggapai cita-citanya yaitu "Gemilang dalam bingkai syariat Islam". Semoga. (aminullahusman1958@gmail.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/h-aminullah-usman-se-ak-mm-wali-kota-banda-aceh-3.jpg)