Opini
`Janda Bolong' Jadi Rebutan
Pandemi Covid-19 di negeri kita nampaknya belum akan usai dalam waktu dekat, pasalnya, jumlah angka insidensi dan kematian masih terus
Oleh Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat pada RSU Cut Meutia, Aceh Utara
Pandemi Covid-19 di negeri kita nampaknya belum akan usai dalam waktu dekat. Pasalnya, jumlah angka insidensi dan kematian masih terus meningkat setiap harinya. Sejatinya ketika dihadapkan pada kondisi ini, kesadaran kita untuk menjaga kesehatan (protokol kesehatan) dan meningkatkan imunitas tubuh merupakan cara cukup bijak agar tidak tertular.
Pemerintah pun telah mengambil langkah jitu mengeluarkan kebijakan di rumah saja, bila tidak ada keperluan mendesak. Tentunya kebijakan ini bertujuan memutuskan mata rantai penularan Covid-19 yang kini telah menyebar luas di tengah masyarakat.
Pandemi ini telah memberikan kita waktu jeda yang cukup lama, sudah tujuh bulan berlalu dan kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah pun sudah terbatasi. Apalagi sekarang pekerja mengalihkan pekerjaan kantor dikerjakan di rumah, termasuk aktivitas sekolah yang dilakukan secara daring. Kaum ibu biasanya menghabiskan waktu untuk shopping atau nyalon seharian, kini mengurangi aktivitasnya karena takut terinfeksi Covid-19. Tentu saja waktu luang yang terlalu lama ini membuat jenuh dan bosan.
Belum lagi informasi bahaya pandemi ini timbulkan kecemasan dan kekhawatiran, tak terpungkiri di masa seperti ini siapa pun bisa merasa tidak aman atau insecure atas dirinya.
Kondisi ini tentu saja membuat masyarakat mengalami perubahan aktivitas. Waktu luang tersedia di rumah membuat lahirnya pemikiran positif, salah satu kegiatan mendadak lagi trend saat ini adalah bercocok tanam.
Beragam tanaman dapat ditanam seperti tanaman hias, sayuran hidroponik dan jenis lainnya. Hal ini tentu saja berakibat baik untuk bumi, karena semakin banyak tumbuhan yang ditanam di atas bumi ini, maka akan semakin banyak pasokan oksigen untuk udara yang kita hirup.
Tanaman tidak hanya menghasilkan oksigen, beberapa tanaman hias juga memiliki kemampuan untuk membersihkan udara dari racun penyebab risiko stroke, kanker, hingga gangguan pernapasan (Kompas.com, 12/6/2020)
Penelitian dari Journal of Health Psychology, kegiatan menanam tanaman ini diketahui efektif menurunkan hormon stres dalam tubuh yakni kortisol, bahkan dampaknya lebih tinggi daripada membaca buku. Penelitian lainnya dari Journal of Physiological Anthropology juga menyimpulkan bahwa menanam tanaman di rumah dapat mengurangi stres psikologis karena tubuh dan pikiran mengalami interaksi dengan tanaman. Siapa pun bisa melakukannya, termasuk orang yang sedang mengalami kecemasan atau depresi. Saat bercocok tanam, tubuh dan pikiran akan fokus pada perkembangan tanaman.
World Health Organization (WHO) menyebutkan, banyak manfaat kesehatan berkebun di luar ruangan; Pertama, "baik untuk kesehatan" saat di taman dapat membakar kalori dengan aktivitas anggota tubuh, inilah yang kemudian dapat mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.
edua, "mengurangi stress" sebuah penelitian di Belanda menyebutkan berkebun selama 30 menit dapat menghasilkan kadar kortisol yang rendah yang dapat melelehkan stres.
Ketiga, "tidur lebih nyenyak" penelitian University of Pennsylvania menunjukkan bahwa aktivitas ringan yang terkait dengan berkebun dapat membantu tidur lebih nyenyak di malam hari. Awam pun tahu tidur sangat penting untuk kesehatan yang baik untuk memperkuat imunitas.
Keempat, "kesehatan pada tangan" menggali, menanam, menarik tanaman adalah kegiatan yang dilakukan saat berkebun. Itu semua sangat bagus untuk menjaga tangan dan jari menjadi lebih kuat.
Kelima, "berhemat" berkebun akan membuat pemiliknya berhemat lebih banyak uang karena menanam tanaman sendiri, dengan menyiasatinya memilih tanaman sayuran atau yang sering dikonsumsi.
Kembali ke persoalan pilihan tanaman yang banyak digandrungi saat ini adalah tanaman hias. Tak hanya kaum hawa bahkan kaum adam juga saat ini sedang maraknya berburu tanaman hias. Alhasil tanaman hias beserta pernak perniknya seperti pot, tanah pupuk, batu untuk tanaman kebanjiran orderan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sri-mulyati-mukhtar-skm-mkm-konselor-hiv-aids.jpg)