Opini
`Janda Bolong' Jadi Rebutan
Pandemi Covid-19 di negeri kita nampaknya belum akan usai dalam waktu dekat, pasalnya, jumlah angka insidensi dan kematian masih terus
Malah berbagai macam tanah hias pun harganya melangit, sebut saja sansivera, aglaonema, kaktus, sekulen, philodendron, alocasia, bahkan monstera adansonii variegate atau popular dengan sebutan `janda bolong' semakin menjadi rebutan dengan harga yang tinggi. Monstera atau `janda bolong' kini semakin diburu, karena tanaman ini mendapat predikat sebagai tanaman termahal di Indonesia saat pandemi Covid-19.
Ciri khas utamanya adalah ukuran daun yang besar dan berbentuk hati, warnanya hijau pekat dan permukaannya mengkilap. Pesona `janda bolong' semakin menarik hati adalah lubang daun alami pada helai daunnya menjari dijuluki swiss cheese plant. Lubang inilah membuatnya dijuluki `janda bolong'
Ironisnya harga `janda bolong' yang ditawarkan sangat fantastis, untuk mendapatkan satu pot biasa saja, dihargai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Bahkan ada yang melebihi harga sepeda brompton yang sedang trend juga saat ini. Dilansir Kompas.com, (27/9/2020), tanaman `janda bolong' sempat menjadi trending lantaran jenis monstera adansonii variegata ada yang terjual dengan harga Rp 96 juta hingga Rp 100 juta.
Demikian juga dengan tanaman hias lainnya seperti jenis aglaonema yang paling banyak juga dilirik masyarakat karena warna daunnya yang indah, dengan harga bisa sampai Rp 150-600 ribu. Sedangkan jenis tanaman hias lainnya yang lebih sederhana berkisar antara Rp 30-500 ribu, tergantung jenis tanamannya.
Kini tanaman hias menjadi trend yang lagi booming dan telah menjadi bagian dari gaya hidup serta mempunyai nilai prestise yang tinggi. Meski belum diketahui sampai kapan trend tanaman hias ini akan berlangsung, tetapi setidaknya di masa pandemi Covid-19 ini, bisa sebagai salah satu cara untuk menghibur diri, olahraga, dan juga bisa membuat tubuh terkena matahari yang sangat bermanfaat.
Namun di tengah tanaman hias yang lagi booming dengan harga ratusan juta semisal `janda bolong', dampak pandemi Covid-19 begitu menyedihkan bagi masyarakat menengah ke bawah atau yang tidak mampu. Aktivitas yang lebih banyak di rumah memberikan efek yang buruk seperti pelaku industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pekerjaan sejenis lainnya. Tentunya mereka akan kesulitan dalam menafkahi keluarganya.
Sejatinya dengan kondisi tersebut, saat ini kita harus dalam posisi saling peduli. Inilah waktu yang tepat untuk berbagi sebagian yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Banyak hal bisa kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, apapun bentuknya, kepedulian sangat berguna di masa sekarang.
Di tengah pandemi Covid-19 yang masih carut marut yang belum pasti kapan akan berakhir, walaupun kita berharap sejatinya penanggulangan dimulai dari lingkup kebijakan, namun tidak salahnya dimulai dari diri kita sendiri, lalu membantu sesama. Bila setiap kita bisa melakukan ini, lalu menginspirasi sesama tetangga melanjutkan kebaikan kepada tetangga lainnya, niscaya akhirnya negeri ini akan lebih baik.
Yakinlah jika kita melakukan suatu kebaikan maka kebaikan juga yang akan kembali kepada diri kita, siapa yang menanam dia yang akan menuai hasilnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sri-mulyati-mukhtar-skm-mkm-konselor-hiv-aids.jpg)