Kamis, 21 Mei 2026

Orangtuanya Ditahan Pemerintah China, Ribuan Anak Etnis Uighur Telantar

Anak-anak sering ditempatkan di panti asuhan negara atau sekolah asrama dengan keamanan tinggi, tempat mereka diawasi dengan ketat.

Tayang:
Editor: Amirullah

SERAMBINEWS.COM - Ribuan anak etnis Uighur hidup tanpa orangtua karena ibu atau ayah mereka dipaksa masuk ke dalam kamp interniran, penjara, dan fasilitas penahanan lainnya, menurut bukti dari dokumen pemerintah di Xinjiang, China.

Catatan yang dikumpulkan oleh para pejabat di Xinjiang selatan dan dianalisis oleh peneliti bernama Adrian Zenz menunjukkan ada lebih dari 9.500 anak-anak di Yarkand, mayoritas Uighur, yang orangtuanya ditahan.

Dilansir dari The Guardian, (16/10/2020), data tersebut menunjukkan semua anak memiliki setidaknya satu orangtua, ayah atau ibu, yang ditahan di penjara, tempat penahanan, atau pusat "pendidikan ulang".

Zenz mengatakan, "Strategi Beijing untuk menundukkan minoritas yang tidak patuh sedang bergeser dari penahanan ke mekanisme kontrol sosial jangka panjang. Di garis depan upaya ini adalah perebutan hati dan pikiran generasi selanjutnya."

Anak-anak sering ditempatkan di panti asuhan negara atau sekolah asrama dengan keamanan tinggi, tempat mereka diawasi dengan ketat.

Hampir semua kelas dan interaksi harus menggunakan bahasa Mandarian, bukan Uighur.

Menurut penelitian Zenz, ada total 880.500 anak yang hidup di fasilitas asrama pada tahun 2019.

Baca juga: 39 Negara di PBB Kecam China Terkait Muslim Uighur dan Hong Kong, Tak Ada Nama Indonesia

Baca juga: Disentil Jerman Soal Uighur di Forum PBB, China: Berhenti Campuri Urusan Kami

()Foto yang diambil pada 31 Mei 2019 ini memperlihatkan sebuah menara kawal di fasilitas berkeamanan tinggi dekat tempat yang dipercaya sebagai kamp re-edukasi yang menahan minoritas Uighur. Fasilitas ini berada di pinggiran Hotan, Xinjiang barat laut, China. Amerika Serikat pada 31 Juli 2020 menjatuhkan sanksi kepada organisasi paramiliter Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) karena diduga memiliki kaitan dengan pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur. (GREG BAKER / AFP)

Jumlah ini meningkat sekitar 76 persen dari tahun 2017 karena sistem penahanan China diperluas.

Dampak penahanan terhadap anak-anak dan struktur keluarga menjadi salah satu aspek yang kurang diperhatikan dalam kebijakan China di Xinjiang.

Laporan saksi yang berada di luar China menunjukkan adanya hal yang disebut para pakar sebagai kebijakan sistematis pemisahan keluarga.

Menurut Economist yang pertama menerbitkan temuan Zenz, jika jumlah dari daerah Yarkand diekstrapolasi ke seluruh Xinjiang, jumlah anak di bawah umur 15 tahun yang salah satu atau kedua orangtuanya ditahan bisa mencapai 250.000.

Data lain yang didapatkan dan dianalisis Zenz memberika detail kasus anak yang berada di panti asuhan.

Baca juga: Setelah Muslim Uighur, China Mulai Tekan Muslim Utsul di Hainan, Larang Penggunaan Jilbab

Baca juga: Terkuak! China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang, Lebih 1 Juta Warga Uighur Ditahan di Kamp

()Wanita Uighur menggendong bayi di Xinjiang, Rabu (11/11/2019). (AFP/HECTOR RETAMAL)

Ada satu berkas merinci 85 siswa di bawah 10 tahun yang kedua orangtuanya berada di pusat penahanan atau penjara, termasuk balita satu tahun yang hidup di panti asuhan di Yarkhand.

Di keluarga lain, ada anak laki-laki berumur 7 tahun dan anak perempuan berumur 10 tahun yang berada di panti asuhan karena kedua orangtua mereka berada di pusat "pendidikan ulang".

Dalam beberapa tahun terakhir, pengeluaran dalam hal pendidikan telah melebihi anggaran keamanan.

Sumber: TribunnewsWiki
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved