Breaking News:

Qanun Kebencanaan

Komisi V DPRA Bahas Raqan Pendidikan Kebencanaan, Salah Satu Tujuannya Mengurangi Risiko

"Ini masih pembahasan di tingkat pertama. Kami dengan tim yang ditunjuk pemerintah terus mengupas pasal demi pasal dari draf raqan ini.”

Penulis: Nasir Nurdin | Editor: Nasir Nurdin
For Serambinews.com
Iskandar Usman Al-Farlaky 

"Ini masih pembahasan di tingkat pertama. Kami dengan tim yang ditunjuk pemerintah terus mengupas pasal demi pasal dari draf raqan ini," kata Sekretaris Komisi V DPR Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky.

Laporan Nasir Nurdin | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Komisi V DPR Aceh saat ini bersama dengan tim Pemerintah Aceh sedang membahas Rancangan Qanun (Raqan) Pendidikan Kebencanaan, di mana qanun tersebut diharapkan mampu memberi edukasi kepada komponen pendidik sehingga bisa mengurangi risiko saat terjadi bencana. 

Informasi itu disampaikan Sekretaris Komisi V DPR Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky, kepada wartawan, Kamis (22/10/2020).

"Ini masih pembahasan di tingkat pertama. Kami dengan tim yang ditunjuk pemerintah terus mengupas pasal demi pasal dari draf raqan ini. Semoga qanun ini bisa diaplikasikan oleh pemerintah sebagai eksekutor," ujar politisi Partai Aceh tersebut.

Menurutnya, qanun tersebut akan mengakomodir bagaimana nanti lembaga kependidikan menyampaikan kepada anak didik tentang pengurangan risiko bencana. Termasuk soal penganggaran oleh pemerintah dan juga sinkronisasi kerja BPBA dan dinas yang membidangi pendidikan.

"Jangan tumpang tindih dan saling lempar tanggung jawab," lanjut politisi muda ini.

Baca juga: Wakili Indonesia, Dua Siswa Aceh Boyong Medali di I-FEST 2020 Tunisia

Baca juga: Deplu AS Setujui Penjualan Persenjataan Canggih ke Taiwan, China Meradang

Al-Farlaky mengatakan, pemerintah harus bertindak bukan setelah bencana terjadi, namun bagaimana skema agar pemerintah bergerak sebelum bencana terjadi.

"Early warning sistem (EWS) ini penting, teknisnya termasuk ada buku panduan yang disampaikan kepada anak didik dan masyarakat. Perlu diingat juga bencana itu bukan hanya gempa dan tsunami, setidaknya ada 16 jenis bencana, dan hampir semuanya berpotensi terjadi di Aceh," sebutnya. 

Dia menerangkan, hampir semua wilayah geografis Aceh masuk dalam zona bencana, dan tidak aman bencana, baik itu gempa, banjir, letusan gunung, dan longsor, sehingga sangat diperlukan pendidikan bagaimana menghadapi bencana yang bisa datang kapan saja. Kondisi ini terjadi lantaran Aceh berada di patahan lempengan bumi yang sewaktu-waktu bergeser dan menimbulkan reaksi alam," kata Al-Farlaky lagi. 

Baca juga: Forkopimda Rapat Antisipasi Lonjakan Covid Saat Libur Panjang

Mantan Ketua Banleg DPR Aceh ini menambahkan, ke depan edukasi yang sudah masuk ke dalam dunia pendidikan diharapkan bisa menjadi budaya bagi masayarakat dan generasi muda Aceh, sehingga saat bencana tidak menimbulkan korban jiwa yang banyak.

“Qanun Pendidikan Kebencanaan ini akan selesai tahun ini juga,” tandasnya. 

Baca juga: Farid Nyak Umar: Raqan Parkir Non Tunai untuk Modernisasi Pengelolaan Parkir di Banda Aceh

Dijelaskannya, Qanun Pendidikan Kebencanaan sangat penting untuk memberikan landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis dalam membentuk pemahaman kepada lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, yang dilaksanakan secara terencana dan terpadu.

“Kita berharap masyarakat terus sigap dan tanggap bencana, sehingga slogan Aceh Hebat dan Tangguh Bencana tidak hanya sebatas slogan,” demikian Iskandar Usman Al-Farlaky. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved