video
VIDEO - Viral Aksi Heroik Santri Panjat Tiang Bendera Saat Upacara Hari Santri
Santri tersebut memanjat tiang bendera setinggi kurang lebih enam meter.
Penulis: Octa Chandra | Editor: Mursal Ismail
Santri tersebut memanjat tiang bendera setinggi kurang lebih enam meter.
SERAMBINEWS.COM - Viral aksi heroik santri panjat tiang bendera saat Upacara Hari Santri, ia masih pakai sarung dan peci
Beberapa hari terakhir, sebuah tayangan video berhasil menarik perhatian warganet.
Usut punya usut, video itu diambil saat upacara bendera memperingati Hari Santri Nasional di Pesantren Al-Islam, Kota Gorontalo.
Di tengah hikmatnya upacara, terjadi insiden yang tak terduga.
Tali bendera tiba-tiba putus saat proses pengibaran.
Baca juga: Jelang Libur Panjang, Pemerintah Aceh Perketat Protokol Kesehatan di Perbatasan
Baca juga: Tak Lagi Gratis, WhatsApp Akan Tarik Uang dari Para Pengguna Akun Business, Sediakan Tiga Layanan
Baca juga: Dua Grup Mop-mop Tampil di Banda Aceh, Seni Lakon Tradisi Aceh yang Hampir Punah
Tak lama berselang, seorang santri dalam barisan upacara berlari ke arah tiang bendera.
Santri tersebut memanjat tiang bendera setinggi kurang lebih enam meter.
Aksi heroik tersebut sempat diabadikan dalam bentuk video santri lain yang kala itu ada dalam barisan.
Dalam tayangan video yang beredar, tampak sang santri yang masih mengenakan sarung dan songkok memanjat tiang bendera dengan semangat.
Bahkan, sarung yang ia kenakan sampai melorot dan jatuh.
Kendati demikian, sang santri berusaha memanjat tiang sambil mengenakan celana kolor.
Ia tetap semangat meraih ujung tiang bendera.
Hingga akhirnya, video tersebut pun beredar dan seketika viral di media sosial.
Diketahui bahwa santri tersebut bernama Didin.
Ia merupakan santri kelas VII madrasah tsanawiyah.
“Saat bendera dibentangkan siap untuk dikerek, tiba-tiba tali putus sehingga ujung tali naik ke puncak tiang,” kata Ramli Anwar, pengasuh Pondok Pesantren Alislam seperti dikutip dari Kompas.com.
Ramli menuturkan, sepekan sebelum hari santri, para santri yang mendapat tanggung jawab sebagai petugas upacara sudah melakukan latihan yang dibimbing oleh anggota purnapaskibraka Gorontalo.
Selama latihan, mereka menggunakan bendera yang dikhususkan untuk latihan.
Tidak ada masalah selama para santri latihan.
Pada Kamis pagi hari yang dinanti tiba, para santri dan guru sudah berkumpul di halaman, mereka mengenakan baju upacara berwarna putih.
Pada awal upacara berlangsung normal seperti biasanya, tetapi saat petugas pengibar bendera membentangkan bendera Merah Putih, tiba-tiba tali putus yang menyebabkan ujungnya naik ke puncak tiang.
Dari arah barisan santri laki-laki tiba-tiba seorang santri berlari melesat ke arah tiang, ia adalah Didin, seorang santri asal Sulawesi Tengah.
Ia kemudian memanjat tiang bendera masih dengan mengenakan sarung dan peci hitam.
Beberapa petugas upacara mencoba memegang tiang bendera agar tidak roboh menahan beban Didin yang tengah memanjat.
Setelah melewati pertengahan tiang, tiba-tiba sarungnya mulai mengendur, ini membuat jepitan kaki Didin terlihat licin karena kain sarungnya berada di antara kaki dan tiang bendera.
Baca juga: Wanita Hamil 7 Bulan yang Tewas di Kontrakan Dibunuh Suami Siri, Pelaku Tusuk Korban Gegara Ini
Namun, tiba-tiba sarung yang dikenakan santri ini terbuka dan meluncur ke bawah diterpa angin.
Lepasnya sarung yang ia kenakan tidak membuat pecah konsentrasi Didin untuk memanjat, ia masih mengenakan celana pendek.
Didin terus berupaya memanjat lebih tinggi hingga tangannya meraih ujung tali yang berada di puncak tiang.
Setelah memegang ujung tali yang terlepas, ia meluncur ke bawah. Suara tepuk tangan dan ucapan syukur menggema di halaman pesantren sesaat Didin menjejak tanah.
Upacara pengibaran bendera Merah Putih pada hari santri pun berlanjut.
“Kami sangat mengapresiasi aksi heroik yang ditunjukkan oleh santri Didin,” ujar Ramli Anwar.
Di Pondok Pesantren Alislam, Didin tidak dikenakan biaya apa pun, bahkan difasilitasi untuk bisa belajar hingga tuntas.
Pesantren yang dihuni lebih dari 430 santri ini menggratiskan santri yang berasal dari keluarga kurang mampu dan anak yatim.
Baca juga: Bupati Nagan Raya Tebarkan Benih Ikan Seurukan di Kolam Gampong Krueng Ceh
Sejak sebulan lalu, pesantren ini telah membuka diri untuk proses belajar-mengajar dengan persyaratan yang sangat ketat untuk mencegah pandemi Covid-19.
Bahkan orangtua siswa tidak bisa menjenguk dengan leluasa, mereka dibatasi pagar pemisah dengan waktu kunjungan hanya 7 menit. (TribunNewsmaker/ *)
Baca berita lainnya di http://serambinews.com/