Bermusuhan Sejak 1948, Apa Alasan Sudan Bangun Hubungan Damai dengan Israel?
Sudan menjadi negara ketiga -setelah UEA dan Bahrain- yang membuka hubungan kembali dengan Israel belakangan ini.
SERAMBINEWS.COM - Bermusuhan Sejak 1948, Inilah Alasan Sudan Bangun Perjanjian Damai dengan Israel
Sudan menjadi negara ketiga -setelah UEA dan Bahrain- yang membuka hubungan kembali dengan Israel belakangan ini.
Siapa sangka negara Sudan ternyata pernah menjadi musuh Israel sejak negara Israel didirikan pada tahun 1948.
Negara ini tercatat menentang segala hubungan dengan Israel dan rencana normalisasi pada 1967.
Ibukota Kharoum, pernah menjadi lokasi pertemuan egara-negara yang tergabung dalam Liga Arab.
Di wilayah tersebut mereka pernah bersumpah, "Tidak ada perdamaian dengan Israel, tidak ada pengakuan kedaulatan Israel, dan tidak ada negosiasi dengannya".

Baca juga: TERUNGKAP Ini Alasan Noni Mau Nikah dengan Abah Sarna: Ngaku Cinta Mati
Baca juga: Perbaiki Hubungan dengan Israel, Sudan Disebut Tikam Palestina dari Belakang
Sudan juga tercatat gencar melakukan perlawanan terhadap Israel pada 1948 dan 1967.
Negara di Benua Afrika ini juga menyediakan tempat perlindungan bagi gerilyawan Palestina.
Lebih jauh lagi, Sudan pernah diduga menjadi penyalur senjata dari Iran ke militan Palestina di Gaza beberapa tahun lalu, yang mendorong adanya dugaan serangan balik Israel.
Diketahui pula, saat terjadi serangan di Kenya dan Tanzania tahun 1998 oleh pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden tinggal di Sudan.
Sejak saat itu, Sudan disebut menampung bantuan untuk disalurkan ke para militan al-Qaeda dan korban di pihaknya.
Baca juga: Warga Bener Meriah yang Terperosok ke Jurang saat Memancing Ikan Meninggal Dunia
Baca juga: Bikin Wajah Tirus, Ikuti 7 Cara Mudah Hilangkan Lemak di Wajah Cuma Dalam Waktu Seminggu

Sehingga Amerika Serikat memasukkan Sudan ke daftar negara-negara pendukung terorisme.
Namun, dinamika politik mengubah segalanya di Sudan.
Penguasa lama Sudan, Omar al-Bashir digulingkan dan diganti oleh dewan sipil-militer.
Pimpinan Sudan yang baru -yang dikuasai militer- memegang kendali atas negaranya.