Breaking News:

Salam

Presiden Macron Sakiti Perasaan Umat Islam  

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang kartun Nabi Muhammad Saw

AFP
Sepuluh ribu umat Islam di Bangladesh turun ke jalan memprotes Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang dianggap menghina Islam. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang kartun Nabi Muhammad Saw. "MUI menilai bahwa Macron secara tak langsung sudah mendukung gerakan Islamphobia. Bahkan kecaman beliau terhadap pelaku pembunuhan atas wartawan Tabloid Charlile Habdo  menempatkan Macron sebagai pemimpin Eropa yang mendukung tumbuh suburnya gerakan Islamophobia," ujar Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhyiddin Djunaidi.

Umat muslim dunia sangat geram dan menyesalkan sikap Macron. Apalagi pengungkitan kasus Charlie Habdo di tengah Pandemic Covid‑19. Menurut Muhyiddin, Prancis harusnya belajar banyak dari negara Jerman. Kanselir Jerman Angela Merkel dinilainya cukup dewasa dalam bersikap dan menghargai perbedaan sudut pandang di negara yang heterogen.

Beberapa negara Eropa memang ada yang mendukung Macron. Tapi, kutukan terhadap Presiden Prancis itu lebih kencang. Bukan hanya dari dunia Islam, umat Kristen Arab turut mengecam pernyataan Presiden Prancis terhadap Islam dan Nabi Muhammad Saw. Presiden Macron mengatakan dia tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi.

Jalal Chahda, seorang penyiar senior dengan saluran berita Aljazirah yang berbasis di Qatar, mengatakan dalam sebuah tweet, "Saya Jalal Chahda, seorang Kristen Arab Levantine, dan saya dengan keras menolak dan mencela penghinaan terhadap Nabi Islam, Utusan Tuhan#Mohammad. Berkah dan damai." Chahda juga melampirkan foto dengan keterangan, "Muhammad, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian."

Ghada Owais, presenter Aljazirah lainnya yang juga beragama Kristen, men‑tweet ulang tweet Chahda, "Saya menolak untuk menyakiti perasaan Muslim atau untuk menggeneralisasi terorisme dan mengaitkannya dengan Islam." Ada beribu‑ribu nonmuslim yang mengecam penghinaan terhadap Islam. Kecaman itu utamanya terlihat di media sosial seperti Twitter, Facebook, dan lain‑lain. Bahkan, di antaranya ada yang ikut turun ke jalan mengecam pernyataan Presiden Prancis itu.

Selama beberapa hari terakhir, Prancis telah memperlihatkan pemasangan gambar yang menghina Nabi Muhammad pada bagian depan beberapa bangunan di negara itu. Selain kartun provokatif, awal bulan ini, Presiden Macron pun menggambarkan Islam sebagai agama  krisis dan mengumumkan rencana untuk undang‑undang yang lebih keras untuk menangani apa yang disebutnya "separatisme Islam" di Prancis. Muslim di Prancis menilai Macron sedang mencoba menekan agama Islam dan melegitimasi Islamofobia.

Makanya, selain Indonesia, beberapa negara Arab serta Turki dan Pakistan juga mengutuk sikap Macron terhadap Islam. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pemimpin Prancis itu membutuhkan pemeriksaan kesehatan mental.

Beberapa asosiasi perdagangan Arab, Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki sudah mengumumkan memboikot produk Prancis. Semua produk Prancis dikeluarkan dari rak supermarket.

Universitas Qatar juga bergabung dalam kampanye tersebut. Pemerintahannya telah menunda acara Pekan Budaya Prancis tanpa batas waktu, dengan alasan "penyalahgunaan Islam yang disengaja dan simbol‑simbolnya".

Dalam sebuah pernyataan di Twitter, universitas mengatakan prasangka apa pun terhadap keyakinan, kesucian, dan simbol Islam "sama sekali tidak dapat diterima, karena pelanggaran ini merusak nilai‑nilai kemanusiaan universal dan prinsip‑prinsip moral tertinggi yang sangat dihormati masyarakat kontemporer".

Begitulah, semoga reaksi dunia dapat mengubah cara berpikir Presiden Macron sehingga ia bisa menghargai umat Islam. Apalagi, komunitas muslim di Prancis sudah sangat berkontribusi dalam pembangunan dan kemajuan negara yang kini dipimpin Macron itu.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved