Senin, 15 Juni 2026

Opini

Menunggu Kejatuhan Macron  

Akhir-akhir ini, media informasi kerap dipenuhi dengan wacana karikatur Nabi Muhammad Saw yang tengah menjadi polemik di negeri Eiffel

Tayang:
Editor: bakri
IST
Husni Mubarak, M.Ag, Sekretaris Karang Taruna Aceh Tamiang, Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tamiang 

Oleh Husni Mubarak, M.Ag, Sekretaris Karang Taruna Aceh Tamiang, Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tamiang

Akhir-akhir ini, media informasi kerap dipenuhi dengan wacana karikatur Nabi Muhammad Saw yang tengah menjadi polemik di negeri Eiffel, Perancis. Berawal dari pemenggalan seorang guru yang menjadikan karikatur sebagai media ajar, membuat Presiden Perancis Emmanuel Macron mengambil kebijakan untuk tetap mengizinkan peredaran karikatur tersebut sebagai bentuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.

Kebijakan itu tentu tidak hanya berhenti di sana, para Muslim Perancis bahkan dunia bergejolak dengan sikap Macron yang ngotot mempertahankan keputusannya. Hal tersebut kemudian berlanjut pada pemboikotan berbagai produk Prancis, bahkan sebab musabab minculnnya pembunuhan sadis di gereja Notre Dame, Nice.

Situasi ini membuat saya heran dengan apa yang ada di pikiran Macron, apakah ia sudah siap jika negaranya terancam krisis ekonomi atau lebih parahnya mengakibatkan keamanan negaranya tidak kondusif? Penilaian ini bukan berdasarkan subjektivitas saya sebagai Muslim, tapi lebih kepada bagaimana memahami kontruksi politis yang coba dibangun Macron.

Seorang pemimpin negara sekaliber Macron seharusnya paham bagaimana aktor politik menyikapi gejolak di negaranya. Sejauh ini, melihat apa yang dilakukan Macron, ia seolah tidak peduli dengan dampak di kemudian hari. Ia seakan ego dengan prinsipnya tanpa pertimbangan lebih lanjut. Jika Macron tidak cerdas dalam menyikapi gejolak ini, dan masih mempertahankan sentimen pribadi, saya menilai ia akan jatuh atas berbagai kekacauan di kemudian hari.

Cepat atau lambat, jika sektor ekonomi jatuh, stabilitas keamanan terganggu, dan dukungan internasional memburuk, pasti parlemen di Perancis tidak akan tinggal diam. Prediksi saya, jika Macron tidak segera meminta maaf pada Muslim dunia, atau menarik penerbitan karikuatur Muhammad dalam waktu dekat, bisa jadi ia akan lengser dari kepemimpinannya.

Minimal, ia tidak akan menang lagi jika ikut kembali pada pencalonan berikutnya. Seorang pemimpin negara harusnya bisa berfikir fleksibel. Menyesuaikan keadaan, dan mempertimbangkan segala aspek sebelum dengan lantang mengambil keputusan secara sepihak.

Mungkin Macron tidak ingin dianggap melemah atau kalah oleh tindakan kriminal (pemenggalan Samuel Paty) di mata publik. Saya sendiri mengakui bahwa pembunuhan itu adalah tindakan sadis dan tidak dibenarkan dalam hukum, namun masalah utamanya bukan pada pembunuhan itu, melainkan perizinan karikatur yang menginjak harga diri umat Islam. Pada hakikatnya, meskipun saling berhubungan, kasus pembunuhan dan problema karikatur adalah dua masalah yang berbeda.

Pembunuhan Samuel Paty adalah kesalahan Macron yang tidak berfikir futuristik. Lebih parahnya lagi, Macron justru menjadikan tragedi itu sebagai alasan menuduh Islam sebagai teroris. Pada konteks ini, Macron menanggapi kesalahan pertama dengan kesalahan selanjutnya.

Kalaupun memang mengutuk tindakan pembunuhan, maka esekusi pelakunya, bukan mengkambinghitamkan 'Islam'. Jangan libatkan embel-embel agama yang sakral dan sangat sensitif. Andai pun hendak menegakkan 'kebebasan berekspresi', maka harus ada acuan dan indikatornya.

Kebebasan tanpa kontrol yang jelas, justru akan menjadi polemik baru di tengah masyarakat. Apalagi warga negara Perancis tidak sedikit yang beragama Islam. Meskipun minoritas, seharusnya Macron tidak mengesampingkan kuantitas itu, tapi bagaimana mempolitisir fenomena yang ada sehingga stabilitas negeri Napoleon itu tetap terjaga.

Lagi pula, tidak ada namanya kebebasan berekspresi meskipun dimaksudkan untuk mendongkrak kreativitas. Semua ada batasan, bahkan human right (HAM) sekalipun, memiliki batasan tersendiri, salah satunya tidak boleh melewati hak orang lain. Jadi, semua orang bebas melakukan apa saja selama itu tidak melanggar dan merugikan pihak lain.

Itu berarti, tidak ada yang namanya kebebasan absolut, semua memiliki batasan yang harus dijaga dan dihormati. Begitu juga problema karikatur yang kian memanas. Marcon telah keliru, kebebasan berekspresi yang ia pahami sejatinya lebih dulu melanggar hak umat Muslim yang sangat menjunjung tinggi eksistensi Nabi Muhammad Saw.

Saya rasa, kejatuhan Macron sudah dekat. Muslim memang bukan negara superior untuk saat ini. Namun, jika negara Muslim mendapat satu musuh yang sama, maka mereka akan bersatu. Muslim saat ini ibarat singa yang tidur, jumlahnya paling besar di antara agama lain di dunia. Masalah umat Islam sekarang ini adalah karena mereka masih terpecah-belah, saling menghina, saling menyalagkan, dan mengkafirkan satu sama lain.

Namun ingat, seperti apapun perselisihan antara sesama Muslim, mereka tidak akan terima jika nabinya direndahkan. Muslim bisa bersatu dengan kondisi ini. Bukan tidak mungkin, jika kasus karikatur tidak ditarik oleh Macron, maka Perancis akan jatuh baik itu atas gejolak internal maupun desakan eksternal.

Meniru Amerika

Ketika Iran membalas serangan Amerika dengan menyerang pangkalan militer Amerika di Irak, sebenarnya Amerika bisa saja membalas lagi sebagai pemicu peperangan. Meskipun di atas kertas, kekuatan tempur Amerika dianggap lebih hebat, namun itu bukanlah kondisi yang akan menguntungkan.

Sedikit banyak Amerika pasti sangat dirugikan jika peperangan sempat meletus. Kondisi seperti inilah yang membuat negeri Paman Sam lebih memilih mengakhiri ketegangan militer dengan pihak Iran. Menurut saya, meskipun saya tidak berpihak pada Amerika, namun itu adalah solusi cerdas secara politis.

Di masa damai seperti sekarang, peperangan sudah bertransformasi ke arah yang jauh berbeda. Bila dulu peperangan identik dengan senjata dan pembunuhan, saat ini peperangan lebih ideal dilakukan dalam bentuk nonfisik. Seperti peperangan pemikiran, peperangan teknologi, peperangan politik, dan masih banyak lagi.

Peperangan fisik jika dilakukan sekarang, maka sama artinya dengan mengibar bendera kekalahan. Mengapa demikian? Karena, persaingan saat ini bukan lagi soal ekspansi wilayah, tapi lebih bagaimana berpacu dalam prestasi dan diplomasi. Menang atau kalah, peperangan fisik akan menghancurkan keduanya, dan menyebabkan kemunduran suatu negara dari dalam.

Maka dari itu, Macron bisa mengikuti jejak Trump jika ingin mengamankan posisinya, bahkan menyelamatkan negaranya. Memang benar, menarik ludah yang jatuh adalah harga diri, tapi itu adalah bagian dari apa yang bisa dilakukan pelaku politik. Jika Marcon tidak mampu, maka kesimpulannya ada dua.

Pertama, ia harus memeriksa dirinya sebagaimana yang dipaparkan Presiden Turki Erdogan. Kedua, ada pihak lain di belakang Macron selaku pemangku kepentingan untuk terus memusuhi Islam. Menjadikan Marcon sebagai modus agar mereka memiliki alasan untuk terus menuduh Islam sebagai agama teroris. (husnimubarak296@gmail.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved