Breaking News:

Opini

Politik Rempah Aceh

Pemerintah Indonesia menargetkan jalur rempah akan diusulkan kepada Unesco sebagai warisan dunia sebagaimana Cina sudah mengusulkan

For Serambinews.com
Teuku Dadek, Asisten II Setda Aceh 

Oleh Teuku Dadek, Asisten II Setda Aceh

Pemerintah Indonesia menargetkan jalur rempah akan diusulkan kepada Unesco sebagai warisan dunia sebagaimana Cina sudah mengusulkan ditetapkan sebagai jalur sutra. Tujuannya, penetapan ini akan menjadikan Indonesia sebagai pusat kajian, wisata dan mengembalikan kembali industri pertanian dan perdagangan Indonesia sebagai kekuatan dunia dalam perdagangan rempah dan sekaligus menjadi obyek perhatian.

Di dunia, berdasarkan data Negeri Rempah Foundation, tercatat ada 400-500 spesies rempah. Dari jumlah itu, 275 di antaranya berada di Asia Tenggara yang didominasi Indonesia. Sehingga Indonesia memiliki julukan Mother of Spices. FAO (2016) mencatat bahwa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil rempah-rempah terbaik di dunia. Indonesia menempati peringkat keempat sebagai penghasil rempah di dunia dengan total produksi 113.649 ton serta total nilai ekspornya mencapai 652,3 juta Dollar Amerika.

Rempah yang paling dominan di Indonesia adalah lada, cengkeh, kayu manis, pala, vanili, jahe, dan kunyit. Rempah fungsinya secara harfiah paling tidak ada tiga untuk kuliner, obat-obatan, aromatik bahkan sebagai pembangkit gairah birahi.

Apa yang harus dilakukan Indonesia untuk 2024 bisa diusulkan dan ditetapkan Unesco? Tentu yang utama adalah rekontruksi jalur tersebut, baik fisik maupun nilai. Ada dua puluh titik rempah yang akan direkontruksi dari Banda Aceh sampai dengan Raja Empat.

Untuk Aceh tercatat dua lokasi yang akan direkontruksi, yaitu Banda Aceh dan Pasee, satu satunya propinsi dengan dua titik sepertinya.

Politik rempah Aceh

Rempah secara geopolitik telah mengubah dunia, penjajahan, peperangan dan pertumbuhan perdagangan merupakan daya tarik rempah. Rempah bagaikan minyak di zaman ini, bagaikan kebutuhan planet baru di masa datang. Sistem perkebunan di Aceh memang dari dulu sangat dipengaruhi perkembangan pasar dunia, abad XVI-XIV semua wilayah Aceh ditanami lada tanaman yang berasal dari India, kemudian ketika Belanda menjajah Aceh mereka menggantikan secara masif dengan karet dan tanaman lainnya.

Kemudian, marak "zaman" sawit. Sebenarnya juga sudah dilakukan oleh perusahaan Belanda dan Belgia agar sawit menjadi tanaman musiman berikutnya dan sampai masa Orde Baru. Seiring deforestirasi, sawit dikembangkan secara kerakyatan dan perusahaan secara masif dan mengancam ekosistem Indonesia. Hal ini, terutama bagi Aceh, akibat kita hanya menjadi "penghasil" bahan mentah dan belum sampai ke "pengolah" sehingga kita selalu "ditentukan", bukan "menentukan."

Tapi hal ini tidak berlaku pada masa kerajaan Aceh dahulu, dari Ali Riayatsyah sampai Iskandar Muda serta Sultan-sultan berikutnya, politik rempah mereka sangat jelas dengan menggunakan kekuatan militer dan diplomasi agar rempah Aceh harus mendunia dan dilindungi dengan harga yang tinggi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved