Breaking News:

Memulai Bisnis dengan Modal Sisa Uang Jajan

HANYA bermodalkan sisa uang jajan, Nurul Fajri (29) sukses mengembangkan bisnisnya, hingga kini bisa meraup untung rata-rata mencapai Rp 10 juta

IST
HANYA bermodalkan sisa uang jajan, Nurul Fajri (29) sukses mengembangkan bisnisnya, hingga kini bisa meraup untung rata-rata mencapai Rp 10 juta per bulan 

Nurul Fajri

HANYA bermodalkan sisa uang jajan, Nurul Fajri (29) sukses mengembangkan bisnisnya, hingga kini bisa meraup untung rata-rata mencapai Rp 10 juta per bulan. Nurul merupakan pemilik usaha Bungong Jaroe, yang bergerak pada bidang pembuatan selempang dan kado wisuda.

Saat menjadi narasumber dalam Program Serambi Podcast Edisi Bincang Bisnis yang disiarkan langsung melalui Facebook Serambinews.com, Minggu (29/11/2020), Nurul mengaku memulai bisnisnya itu sejak tahun 2015. Itu pun masih menjadi bisnis sampingan, karena saat itu ia masih bekerja sebagai jurnalis untuk metrotvnews.com.

Ia pun harus pintar-pintar membagi waktu antara profesinya sebagai jurnalis dengan usaha yang baru dijalaninya itu. “Waktu itu jadi kontributor, jadi tidak terikat harus masuk kantor, absen, pulang sesuai jadwal. Jadi masih ada waktu untuk mengurus bisnis,” ungkap Nurul dalam bincang bisnis yang bertajuk ‘Tantangan Pelaku Usaha Selempang dan Kado Wisuda Ditengah Covid-19'.

Nurul mengaku, modal awal bisnisnya itu berasal dari sisa-sisa uang ngopi (uang jajan). “Karena ini sistem PO, jadi minta DP (uang muka) dulu sama pelanggan. Dari situlah modalnya diputar-putar untuk beli bahan,” tambah Nurul.

Menurut Nurul, dalam memulai usaha tidak perlu menunggu terkumpul modal besar dahulu. Tapi yang penting ada niat, kemauan, dan yakin. “Modal khusus enggak ada, kadang orang mikir untuk memulai usaha harus ada modal yang besar. Sebenarnya kita sendiri sudah ada modal, keahlian itu modal, usaha kita modal, karena sebenarnya modal itu enggak melulu uang,” sebutnya.

Ketertarikannya dengan usaha selempang dan kado wisuda ini juga berawal dari peluang yang dilihatnya. Bahkan saat itu pasar pertamanya bukanlah di Banda Aceh dan sekitarnya, permintaannya itu datang dari kampus-kampus besar di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya yang ketika itu sudah hits menggunakan selempang saat wisuda.

Sementara di Banda Aceh kala itu belum booming seperti sekarang untuk menggunakan selempang dan memberikan kado wisuda. “Di Banda Aceh mulai hits menggunakan selempang beberapa tahun terakhir,” ujar ibu dari gadis kecil Nabila D Kelana Ginting, buah cintanya bersama Taufik Kelana Ginting ini.

Namun dikatakan Nurul, usahanya ini sempat turun drastis saat awal-awal pandemi Covid-19 terjadi di Aceh. Bahkan sejak Maret hingga Juni 2020, bisa dikatakan tidak ada permintaan sama sekali. Meski demikian ia melihat peluang lain dengan memproduksi masker.

Namun saat ini, dikatakan Nurul, usaha pembuatan selempang dan kado wisuda sudah mulai normal kembali. “Untuk omset per bulan rata-rata pada Oktober kemarin sampai Rp 10 juta,” sebutnya.

Sementara untuk harga yang ditawarkannya bervariasi  untuk selempang dengan bahan satin mulai Rp 65.000-75.000/pcs, beludru Rp 80.000-110.000/pcs. Bantal ukuran 30x30 cm Rp 100.000/pcs, ukuran 50x50 cm Rp 159.000/pcs, dan plakat Rp 149.000/pcs.

“Bisa dibilang usaha ini cukup menjanjikan, karena mahasiswa kan selalu ada setiap tahun, tidak putus-putus. Jadi selalu ada mahasiswa yang pesan untuk dipakainya saat sidang maupun wisuda. Bahkan tidak hanya mahasiswa S1, mahasiswa S2 juga ada yang pesan,” kata Nurul Fajri. Bagi yang ingin melihat berbagai produknya, bisa melihatnya langsung di Instagram @bungongjaroe.(mawaddatul husna)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved