Breaking News:

Salam

Selamat Jalan Abu Paloh Gadeng

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Tgk H Mustafa Ahmad yang lebih dikenal sebagai Abu Paloh Gadeng meninggal dunia pada Rabu (16/12/2020) dalam usia

DOK SERAMBINEWS.COM
Ulama kharismatik Aceh, Tgk Mustaf Ahmad atau lebih dikenal dengan Abu Paloh Gadeng berpulang ke rahmatullah, Rabu (16/12/2020). Abu Palog Gadeng meninggal dunia di RSUZA Banda Aceh. 

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Tgk H Mustafa Ahmad yang lebih dikenal sebagai Abu Paloh Gadeng meninggal dunia pada Rabu (16/12/2020) dalam usia 70 tahun. Abu Paloh Gadeng mengembuskan napas terakhir dalam perawatan di RSUZA Banda Aceh akibat mengalami penyakit komplikasi seperti gula darah dan jantung.

 Ribuan warga ikut melaksanakan shalat jenazah hingga mengantar jasad ulama karismatik Aceh itu ke tempat peristirahatan terakhir. Shalat jenazah Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Darul Huda Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, di masjid kompleks dayah itu, yang antara lain diimami putra pertama almarhum, Tgk Zunuwanis.

Sebelum menjadi ulama besar, almarhum Abu Paloh Gadeng adalah sosok santri yang memiliki tekad kuat dalam belajar ilmu agama di dayah. Hal ini dibuktikan dari lamanya almarhum menghabiskan masa remaja dan mudanya demi belajar ilmu agama.

Abu Paloh Gadeng lahir di Desa Uteun Bunta, Kecamatan Peusangan, Bireuen, pada 1 Juli 1950. Dalam dokumen biodata yang ditinggalkan almarhum, tertulis bahwa ia mulai mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) tahun 1958 atau ketika beliau masih berusia delapan tahun. Setelah tamat pada tahun 1964, Abu Paloh Gadeng melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) hingga lulus pada tahun 1966.

Kemudian, melanjutkan pendidikan ke Sekolah Masjid Indonesia (SMI) damn selesai pada tahun 1968. Sejak tahun 1965, Abu Paloh Gadeng juga sudah mulai belajar kitab di Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh sampai tahun 1987. Abu Paloh mengaji dan kemudian menjadi guru ngaji di dayah tersebut selama 22 tahun. Semasa hidupnya, selain memimpin dayah, alrmarhum juga ikut menjadi pengurus organisasi atau lembaga keagamaan, seperti majelis ulama.

Makanya, ketika mendengar kabat almarhum berpulang, tentu saja begitu besarnya rasa kehilangan umat. Ini dibuktikan dengan membludaknya para pentakziyah yang mencapai ribuan demi mengiringi kepergian sang ulama. Nilainya tidak terletak pada jumlah pentakziyah yang hadir, melainkan jumlah pentakziyah yang secara sukarela mendoakan ulama, setidak-tidaknya ikut serta mendirikan shalat jenazah. Oleh sebab itu, mari kita juga berdoa, semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa para ulama dan menempatkan mereka pada derajat yang tinggi di sisi-Nya. Aamiin ya rabbal alamin.

Sebagai muslim kita sering diingatkan tentang beberapa hal terkait wafatnya ulama. Antara lain, pertama, wafatnya ulama adalah pertanda sempurnanya tugas ulama tersebut. Kedua, wafatnya ulama adalah simbol terangkatnya ilmu yang bermanfaat.

Ketiga, wafatnya ulama berarti hilangnya lentera umat. Sebagai pewaris Nabi, ulama senantiasa memberi bimbingan dan arahan kepada masyarakat. Melalui nasihat dan fatwanya, ulama memberi panduan yang jelas kepada masyarakat, sehingga masyarakat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Keempat, wafatnya ulama berarti berhentinya sumber hikmah. Padahal, kita tahu bahwa hikmah adalah intisari ilmu. Hikmah adalah buah ketika ilmu diiringi amal dan ibadah ritual diiringi ibadah sosial. Hikmah bisa berwujud perilaku yang dikenang umat sepanjang masa.

Kelima, wafatnya ulama berarti berkurangnya figur manusia yang tidak dikuasai hawa nafsu. Para ulama terbukti berhasil menjinakkan nafsu yang liar hingga menjadi nafsu setengah jinak, kemudian menjadi nafsu yang jinak. Hal ini setidaknya dapat kita lihat pada para ulama yang memiliki rumah dan kendaraan sederhana dibandingkan kapasitasnya. Banyak ulama yang aslinya mampu membangun rumah bertingkat-tingkat, namun justru lebih memilih rumah sederhana. Jadi, para ulama telah memberi contoh bagaimana cara menjinakkan nafsu.

Keenam, wafatnya ulama berarti lenyapnya sosok pelayan umat. Bagi masyarakat luas, sikap pelayanan inilah yang membuat masyarakat secara sukarela memberi gelar ulama kepada seseorang. Meskipun seseorang memiliki ilmu setinggi langit dan sedalam lautan, tidak akan pernah diberi label ulama apabila belum melakukan pelayanan kepada umat. Watak pelayanan ini tergambar dalam istila “khadimul-ma’had (pelayan pesantren). Nah!?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved