Breaking News:

Opini

Wow, Setiap 39 Detik Terjadi Satu Peretasan!

BANYAK orang mungkin masih menganggap remeh mengenai unggahan-unggahannya ke internet. Namun, tahukah Anda data yang

Wow, Setiap 39 Detik Terjadi Satu Peretasan!
IST
Mahasiswa Kelas Internasional Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

MUHAMMAD FARRAS RABBANI, Mahasiswa Kelas Internasional Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

BANYAK orang mungkin masih menganggap remeh mengenai unggahan-unggahannya ke internet. Namun, tahukah Anda data yang kita biarkan menetap di internet itu sangatlah bernilai? Saya pun baru sadar hal ini setelah menonton beberapa dokumenter yang menunjukkan bagaimana data kita diretas dan dijual dengan harga yang tidak murah.

Data tersebut bisa saja informasi yang sangat personal bagi kita. Bukan hanya karena bersifat rahasia, tapi juga sangat berbahaya bila diketahui orang yang berniat jahat. Misalnya, bisa berakibat uang kita di rekening bank dicuri dalam sekejap.

Setelah membaca banyak kasus yang merugikan pengguna internet, akhirnya saya tahu beberapa hal. Melalui tulisan ini saya ingin men-share apa yang sudah saya tahu tentang pentingnya kita bersikap hati-hati dalam membagikan data ke internet.

Internet secara bertahap terus menaiki tangga kebutuhan manusia. Bahkan, kebanyakan orang sudah sangat bergantung pada internet. Berdasarkan data milik Statista.com, 59% penduduk bumi atau kurang lebih 4,66 miliar orang merupakan pengguna aktif internet. Banyaknya pengguna tersebut menyebabkan berlimpahnya data atau informasi personal yang diunggah ke internet.

Data yang diunggah bisa berupa yang tidak terlalu berbahaya seperti nama, nomor telepon, ataupun riwayat web. Namun, bisa juga data yang sangat penting seperti kata sandi, data keuangan, pendapat politik, identifikasi komunitas, data terkait kesehatan, biometrik lokasi GPS, informasi terkait jaringan vital, dan masih banyak lagi. Berbagai data tersebut dapat dikumpulkan secara cepat dan mudah di internet. Kemudian, data yang sudah dikumpulkan secara sistematis dapat ditransformasikan menjadi alat yang sangat efektif untuk banyak kepentingan. Misalnya, untuk berjualan, berkampanye, melakukan riset, dan sebagainya.

Sebagai contoh, jika suatu perusahaan mencari target pasar, dia antara lain bisa melihat jejak digital tentang hobi dan selera para pengguna internet. Maka, perusahaan tersebut bisa mudah dan cepat mendapatkan target pasarnya. Hal ini menunjukkan betapa bernilainya data pribadi milik Anda. Bahkan, data pribadi digital ini sudah menjadi suatu komoditas yang sangat mahal dan sangat menggiurkan bagi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Untuk mengukur seberapa berharganya aneka data pribadi di internet, kita dapat melihat pada kasus Equifax, sebuah perusahaan agensi kredit di Amerika Serikat. Tahun 2017 Equifax menjadi korban pencurian data yang memuat informasi sensitif lebih dari 140 juta penduduk negeri Paman Sam. Akibat kejadian itu Equifax terpaksa membayar ganti rugi hingga 700 juta Dolar AS atau kurang lebih senilai 10 triliun rupiah. Tidak hanya itu, berdasarkan data yang bersumber dari Gartner, perusahaan keamanan siber berkedudukan di Amerika Serikat, pada tahun 2022 nilai pasar keamanan cyber di seluruh dunia diperkirakan dapat mencapai 170,4 miliar dolar AS atau setara dengan 2,4 kuadriliun rupiah.

Data pribadi di internet jika digunakan orang yang salah dapat merugikan orang banyak. Seperti kasus yang sempat heboh pada tahun 2018 ketika Facebook  terbukti membagikan data penggunanya ke perusahaan Cambridge Analytica. Lalu data tersebut dijadikan alat untuk menganalisis kondisi psikologis target kampanye Brexit. Lalu hasil analisis tersebut dijadikan dasar dalam membuat alat-alat kampanye yang berhasil membuat Inggris Raya keluar dari Uni Eropa.

Kejadian ini membuktikan betapa masifnya efek dari pengunaan data pribadi di internet. Bahkan, dalam kasus ini memengaruhi hingga empat negara yang bernaung di bawah Britania Raya; Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Lalu, kasus pembobolan dan Cyberattack juga semakin marak terdengar. Keahlian dalam meretas semakin mudah dipelajari. Orang yang dapat meretas pun semakin hari semakin ramai. Berdasarkan riset dari University of Maryland, setiap 39 detik terjadi 1 peretasan atau jika dirata-ratakan 2.244 kali dalam sehari di seluruh dunia. Dan berdasarkan data dari Symantec-- perusahaan software berpusat di Arizona, Amerika Serikat-- setiap bulannya terjadi serangan cyber pada 5.200 perangkat milik penjual jasa internet.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved