Breaking News:

Salam

Kita Prihatin Banyak Ulama Meninggal di Masa Pandemi

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis mengungkapkan, sekitar 206 ulama meninggal terpapar Covid-19

Humas Kemenag RI
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas 

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis mengungkapkan, sekitar 206 ulama meninggal terpapar Covid-19. MUI menilai, meninggalnya ratusan ulama dalam setahun adalah kehilangan besar bagi sebuah bangsa.

"Lebih dari 206 ulama meninggal karena Covid-19 dan bagi kita adalah sebuah musibah. Mencetak ulama itu enggak mudah harus proses panjang. Mengajinya benar, taat nya juga benar, menjalankan agama juga, punya jiwa juang yang tinggi jadi mencetak ulama itu butuh proses panjang," ujarnya.

Karena itulah, ia mengingatkan agar semua orang disiplin menjaga kesehatan diri dan keluarga, lantaran dampak Covid-19 itu sangat nyata. "Kita juga harus menyiapkan bagaimana ulama-ulama kita yang masih sehat terus dipelihara. Kita menjaga jiwa adalah bagian tujuan syariat kita, tujuan kita beragama adalah memelihara jiwa, memelihara kehidupan.”

Meninggalnya banyak ulama di masa pandemi ini juga mendapat respon serius dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Ia  berharap pengasuh pesantren dan tokoh agama mendapatkan vaksinasi Covid-19 pada tahap kedua bersama pelayan publik. Alasannya, kiai pesantren dan tokoh agama menjadi garda terdepan dalam tugas pembinaan keberagaman masyarakat.

Virus Corona memang tidak pandang bulu dan tidak pilih-pilih siapa yang akan diinfeksinya. Namun, ada orang-orang yang memiliki kondisi lebih rentan untuk terjangkit positif Covid-19. Kelompok rentan ini adalah orang-orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid), berusia lanjut, memiliki daya tahan tubuh rendah, dan mengalami obesitas.

Sejauh ini, virus Corona dilaporkan lebih sering menyebabkan infeksi berat dan kematian pada orang lanjut usia (lansia) dibandingkan orang dewasa atau anak-anak. Justeru itulah, kelompok lanjut usia sering dikaitkan dengan kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit lantaran fungsi fisiologisnya berangsur-angsur akan berkurang termasuk sistem imum tubuh.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan dunia (WHO), kematian paling banyak terjadi pada penderita Covid-19 yang berusia lebih dari 80 tahun dengan persentase mencapai 21,9 persen. Pada usia pra-lansia (50–59 tahun) angka kematian hampir 2 persen, usia 60–69 tahun 4 persen, terus naik menjadi 8 persen sampai 15 persen pada usia 70–80 tahun. Kematian paling banyak terjadi pada penderita Covid-19 yang berusia lebih dari 80 tahun dengan persentase 21,9 persen.

Dari penjelasan itu, para ulama kita umumnya berada pada kelompok paling rentan, yakni usia melebihi 70 tahun. Dan, menjadi sangat penting pula untuk mendapat prioritas perhatian kepada mereka. Selain harus mendapat prioritas vaksinasi, aktivitas mereka juga harus betul-betul disiplin mematuhu protokol kesehatan.

Kita tahu para ulama yang giat berdakwah atau duduk memimpin pesantren adalah orang-orang yang selalu berhubungan dengan masyarakat banyak. Lebih-lebih pada hari-hari besar Islam, mereka selalu diundang atau dikunjungi oleh umat. Dan, semuanya ingin bersalaman, cium tangan, bahkan memeluknya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul pesantren Ulama (NU), Abdul Ghaffar Rozin mencatat jumlah ulama dan pengasuh pondok pesantren yang meninggal sangat meningkat usai Idul Fitri dan Idul Adha 2020. Ada 333 kiai dan ulama dari NU meninggal dunia di selama pandemi.

Kiai dan ulama NU yang meninggal pada bulan Februari-Mei 2020 sekitar 9 orang. Angka itu terus mengalami kenaikan pada Juli 2020 menjadi 23 orang meninggal. Pada akhir Juli 2020 sendiri terdapat momentum Hari Raya Idul Adha.

Kita percaya pengungakapan data itu oleh kalangan MUI dan NU tidak dimaksud untuk menakut-nakuti, tapi justeru untuk menambah kehatian-hatian kita beraktifitas guna mencegah tularan virus Corona.

Sekali lagi, terkait meninggalanya banyak ulama di masa pandemi ini, kita berharap pemerintah dapat memberi perhatian serius melindungi mereka. Apalagi, di lihat faktor usia, mereka bukan kelompok yang bisa divaksin, mesekipun mereka rajin berkampanye menyukseskan program vaksinasi.

Dan, kita jangan lupa berdoa agar para ulama yang sudah meninggal itu menjadi penghuni syurga. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved