Internasional
"Saya Seperti Tinggal di Neraka" Warga New York Khawatirkan Kelainan Pola Makan, Dapat Membunuhnya
Pemberlakuan lockdown hampir setahun lalu di Kota New York telah menyebabkan berubahnya pola makan warga.
SERAMBINEWS.COM, NEW YORK - Pemberlakuan lockdown hampir setahun lalu di Kota New York telah menyebabkan berubahnya pola makan warga.
Perhatian utama warga, bukanlah tertular virus Corona, tetapi kelainan pola makan yang telah berlangsung selama puluhan tahun akhirnya bisa menghilangkan nyawa.
Dilansir AP, Rabu (24/2/2021), hal itu seperti diungkapkan oleh salah seorang warga New York Stephanie Parker.
Dia mengira mungkin tidak akan selamat dari pandei virus Corona yang belum juga berakhir.
Parker akan menimbun makanan di apartemennya, tetapi jarang makan.
Baca juga: Arab Saudi Perpanjang Lockdown Selama 20 Hari
Dia akan membersihkan dan hanya membiarkan dirinya makan ketika merasa ruangannya bersih.
Meski begitu, dia akan menemukan alasan untuk menghilangkan kejenuhan dirinya.
"Saya khawatir benda-benda itu tidak cukup bersih untuk dimakan," katanya.
"Piring saya tidak cukup bersih, tangan saya tidak cukup bersih," tambah Parker.
Dia juga melihat pandemi yang memicu perilaku obsesif kompulsif.
"Saya dikunci di apartemen dan hidup seperti di neraka," ungkapnya
"Saya merasa lepas kendali ... Saya tahu, saya akan mati karenanya," ujarnya.
Di Amerika Serikat, 30 juta orang akan terpengaruh oleh kelainan makan dalam hidup mereka.
Baca juga: Melbourne Lockdown Lima Hari, Cegah Virus Corona Meluas
Pandemi telah menciptakan tantangan besar bagi orang yang tinggal bersama atau memulihkan diri dari mereka.
Termasuk rutinitas yang terganggu dan peningkatan isolasi.
Untuk orang kulit berwarna seperti Parker, ada juga pemicu stres tambahan tahun lalu terkait trauma rasial.
Sejak Maret 2020, Saluran Bantuan Asosiasi Gangguan Makan Nasional (NEDA) telah mengalami peningkatan volume sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Saya merasa sangat sendirian, dan saya juga merasa seperti tidak akan pernah bisa keluar," kata Parker.
"Itu tak tertahankan lagi," katanya.
Parker (34) mengatakan ingatan paling awal tentang gangguan makannya adalah saat usia 6 tahun.
Ketika ibunya memujinya karena tidak sarapan sebelum sekolah.
Tidak makan, bahkan air akan membuat ibunya terpuji.
Baca juga: Polisi Belanda Tangkap 131 Demonstran Penentang Lockdown
"Saya tidak tahu apa itu," ungkapnya
"Saya tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi," tambahnya.
"Sejujurnya, saya pikir saya hanya benar-benar mengerti apa itu gangguan makan," urainya.
"Itu adalah sesuatu yang benar-benar memengaruhi hidup saya, satu setengah tahun lalu," tutupnya.
"Saya seorang wanita kulit hitam," tutup Stephanie Parker.(*)