Breaking News:

Luar Negeri

Pejabat HAM Turki Sorot Sikap China ke Uyghur, Islamofobia di Prancis, dan Eropa Tolak Pengungsi

Suleyman Arslan, Ketua Lembaga Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Turki, juga menyinggung wacana dan kebijakan Prancis yang mendukung Islamofobia,

Penulis: Syamsul Azman | Editor: Zaenal
AFP/File
Seorang remaja laki-laki memakai topeng dengan air mata darah dalam protes terhadap China atas perlakuan buruk ke Muslim Uighur di Brussels, Belgia pada Mei 2020. 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Seorang pejabat hak asasi manusia Turki menyampaikan kritik terbuka kepada China yang melakukan tindakan pelanggaran HAM terhadap Muslim Uyghur di Daerah Otonomi Xinjiang.

Suleyman Arslan, Ketua Lembaga Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Turki, juga menyinggung wacana dan kebijakan Prancis yang mendukung Islamofobia, serta tindakan beberapa negara Eropa yang menolak para pengungsi.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Suleyman Arslan, meminta China untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia, kerja paksa, dan kekerasan terhadap Uyghur Turki atau terkadang juga disebut Cina Uighur.

Pendekatan yang dilakukan China selama ini, kata Suleyman Arslan, tidak dapat membawa perdamaian ke negara itu.

Suleyman Arslan mengatakan bahwa merundingkan masalah dan masalah tidak merugikan siapa pun.

Harus ada upaya untuk mencari solusi bersama terhadap masalah yang dihadapi semua warga negara, agar bermanfaat bagi semua orang.

"Ini berlaku untuk Turki, China, setiap negara. Penting untuk menemukan solusi bersama. Tapi sayangnya, orang tidak mau sampai ke titik itu," kata dia dalam artikel yang dipublikasi di Anadolu Agency, Selasa (6/4/2021).

“Ada dua masalah mendasar mengenai hak asasi manusia di dunia: satu tidak menghormati perbedaan budaya, dan yang lainnya adalah masalah standar ganda, ketidaktulusan,” kata Arslan.

“Apa yang dapat kami katakan tentang China adalah bahwa mereka tidak ingin populasi Muslim bertambah, seperti yang dapat kami amati karena kami melihat bahwa masjid mereka dihancurkan,” lanjut dia.

Baca juga: Ramadhan, Saudi Buka Lagi Umrah Untuk Jamaah yang Sudah Divaksin

Arslan mencatat bahwa bukan rahasia lagi bahwa orang-orang melarikan diri dari Tiongkok.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved