Breaking News:

Opini

Implikasi dan Daya Berpuasa (Kajian Sosiopragmatik)

Puasa yang ditilik berlandaskan terapan sosiologi, yakni kajian pragmatik sosial dapat dijelaskan bahwa nilai atau esensinya memiliki makna yang...

SERAMBINEWS.COM/MAHYADI
Dr Joni MN MPd BI (dosen, penulis, Majelis Adat Gayo Aceh Tengah) 

Oleh: Dr  Joni MN MPd BI

(dosen, penulis, Majelis Adat Gayo Aceh Tengah)

Puasa yang ditilik berlandaskan terapan sosiologi, yakni kajian pragmatik sosial dapat dijelaskan bahwa nilai atau esensinya memiliki makna yang dalam. Tinjauan perspektif pragmatik sosiologis, puasa dapat memberikan dampak yang positif kepada realita sosial, apalagi bila dilihat  pada kondisi Negara kita saat ini.

Keadaan negara kita Indonesia  yang sedang dalam masa transisi menuju pencarian jati dirinya, perlu didukung dengan semangat totalitas puasa. Di tengah derasnya arus era globalisasi, modernisasi, degradasi nilai dalam tatanan sosial karena covid-19 dan era transisi politik ini, bangsa kita sedang diuji ketahanan imannya dalam kehidupan sosialnya.

Puasa bukan hanya sebagai "Religious Symbol" yakni hanya sebagai simbol keagamaan saja, atau hanya sekedar memenuhi syarat rukun Islam semata sebagai umat Islam. Ada beberapa ragam nilai yang dapat bersosialisasi dan kemudian dilembagakan ke dalam diri individu masing-masing, khususnya di bidang moral atau akhlak. Yang mana masalah ini sudah menjadi kronis sejak paro dulu hingga saat ini.

Dengan bermunculannya kegiatan ramadhan di sana-di sini yang sarat dengan pembentukan watak yang bermoral perlu lebih diimbangi dengan spritual deversity atau mendisiplinkan spiritual juga.

Berpuasa dikaji berdasarkan sosiologi, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata, tetapi yang lebih penting dalam kajian sosialnya, yakni mampu membangun budi pekerti yang bernilai luhur sejak dini. Jadi, dapat simpulkan bahwa ditilik berdasarkan pragmatik sosiologis bahwa puasa merupakan bentuk religious action (tindakan keagamaan). 

Puasa dalam konteks ini diyakini merupakan sepenuhnya perintah dari Allah SWT. Di dalam kegiatan ini terkandung keterkaitan hubungan antara manusia dan realitas transenden. Ibadah berpuasa dalam konteks sosiologi masuk ke dalam kelas ibadah "ritual", dimana di dalam ibadah ini terkandung jalinan hubungan antara manusia dengan sang Penciptanya.

Jika berpuasa hanya bertujuan atau ultimate goal-nya hanya masuk surga, hal ini tidak terdapat di dalam pemahaman impris pragmatik  sosial, dalam konteks pembahasan ini jika ditinjau berdasarkan implikasi impiristically sosial, bahwa berpuasa tujuan goal akhirnya adalah agar manusia yang melaksanakan perintah Allah SWT dalam bentuk kegiatan agama yang dinamakan ibadah puasa tersebut adalah agar manusianya lebih mendapatkan implikasi sosialnya (social implication) dari pada implikasi transendennya (transcendent implication).

Jadi, berpuasa dilakukan lebih kepada berimplikasi ketaqwaan dan untuk tujuan lebih dapat memilihara diri.

Implikasi dan daya impiris ini lebih berdampak kepada kebermanfaatan diri terhadap lingkungan dan kehadiran diri di tengah-tengah masyarakat lebih membawa ketenangan dan kedamaian bukan membuat rusuh atau adu domba, dan mencemooh orang.

Inilah yang disebut dengan bertaqwa dan dapat menjaga atau memelihara diri. Artinya dapat memelihara diri dari campur tangan iblis. Inti dari taqwa dan memelihara diri Inilah tujuan berpuasa yang hakiki, dalam pendekatan kajian berdasarkan pragmatik sosial, tentu hal ini (diniatkan) dan action (tindakannya) harus diimbangi dengan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan serta kebrrsihan hati. Kondisi dan perilaku inilah yang dapat membuat Indonesia menjadi bangkutbdengan kearifannya, sehingga menjadi nyaman, damai dan harmunis.(*)

Baca juga: Ini Doa Buka Puasa Ramadhan yang Benar Menurut Ust Adi Hidayat, Simak 5 Amalan Sunnah Saat Berbuka

Baca juga: Saat Mengerjakan Shalat Sunnah, Haruskah Berpindah dari Tempat Shalat Fardhu? Begini Penjelasan UAS

Baca juga: Hikmah Ibadah Puasa Ramadhan, Simak Penjelasan Dr Nurkhalis Mukhtar Pada Kajian Ramadhan KWPSI

Penulis: Jalimin
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved