Kamis, 16 April 2026

Berita Aceh Selatan

Masjid Tuo Al-Khairiyah, Dicetus Saudagar Arab Hingga Keterkaitan dengan Muda Waly dan Daud Beureueh

menurut catatan yang ada pada salah satu tiang, bahwa Masjid Tuo Al-Khairiyah ini dibangun pada tahun 1276 Qamariyah atau ± 1860 Miladiyah.

Penulis: Taufik Zass | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS
Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan 

Pada tahun 1992, waktu itu Camat Tapaktuan, Ny Yuliaty BA, menghidupkan kembali pengajian ala Rangkang ini dengan metode Iqra’ TQA dan TPA, maka diberi nama kembali TQA/TPA Al-Khariyah.

Sedangkan nama masjid, yaitu “Masjid Tuo Al-Khariyah” dengan status masjid kecamatan.

Untuk kelengkapan masjid sebagaimana masjid-masjid lainnya, juga dilengkapi dengan sebuah Beduk (Tamboe) besar berukuran yang ada sekarang radius 85 cm dan panjang 4,5 meter. 

Beduk ini sering dibawa sampai ke Banda Aceh dalam rangka PKA tahun 2004 dan 2009.

Pada pertengahan tahun 1930-an, oleh imam Masjid Tengku Imam Zamzami Yahya melalui perjuangan yang cukup berat, beliau melihat kondisi dan pertumbuhan penduduk.

Bahwa Tapaktuan sebagai kota pendistribusian barang-barang hasil hutan dan rempah-rempah seperti pala, cengkeh, minyak nilam, kopra dan rotan, dengan demikian  kebutuhan pendidikan bagi masyarakat Tapaktuan dan sekitarnya, mau tidak mau hurus pula dibenahi. 

Imam Zamzami Yahya bersama-sama kawan-kawan seperjuangan mendirikan/membangun di samping kanan masjid. 

Proses belajar/mengajar menjadi lebih baik dan memadai, yaitu madrasah atau sekolah pakai lokal/kelas dengan kurikulum yang telah disesuaikan sebagimana layaknya sekolah-sekolah lain yang telah ada.

Perjuangan Imam Zamzami ini didukung oleh para dermawan saudagar dan pengusaha mapan. 

Waktu itu antara lain Haji Bustamam dari Trumon, Haji Abdullah yang dijuluki Haji Gajah dari Barus dan Haji Muhammad Isa dari Singkil.

Beliau-beliau ini adalah Comisaris Pabrik Nilam, satu-satu pabrik yang ada di pantai Barat Selatan Aceh waktu itu.

Dikunjungi Daud Beureueh

Masjid ini juga pernah dikunjungi oleh Gubernur Panglima Aceh Pertama, Abu Muhammad Daud Beureueh jauh sebelum beliau menjadi pemimpin Aceh. 

Selain itu, Daud Beureueh juga pernah mengajar dan memotivasi guru dan murid yang sedang menuntut ilmu di Mesjid Al-Khairiyah ini.

Pada pada tahun 1953 beliau datang lagi ke Tapaktuan, setelah melihat perkembangan umat terutama dalam masalah agama, kemudian beliau menyarankan agar masyarakat Tapaktuan membuat/menambah lagi mesjid jami’ terutama untuk menampung jama’ah melaksanakan shalat Jum’at. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved