Rabu, 8 April 2026

Berita Aceh Selatan

Masjid Tuo Al-Khairiyah, Dicetus Saudagar Arab Hingga Keterkaitan dengan Muda Waly dan Daud Beureueh

menurut catatan yang ada pada salah satu tiang, bahwa Masjid Tuo Al-Khairiyah ini dibangun pada tahun 1276 Qamariyah atau ± 1860 Miladiyah.

Penulis: Taufik Zass | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS
Masjid Tuo Al-Khairiyah, Tapaktuan, Aceh Selatan 

menurut catatan yang ada pada salah satu tiang, bahwa Masjid Tuo Al-Khairiyah ini dibangun pada tahun 1276 Qamariyah atau ± 1860 Miladiyah.

Laporan Taufik Zass | Aceh Selatan

SERAMBINEWS.COM, TAPAKTUAN - Masjid Tuo Al-Khairiyah di Jalan Teuku Umura, Kampung Padang, Kecamatan Tapaktuan hingga kini belum diketahui siapa pertama kali membangunnya. 

Pasalnya, menurut keterangan beberapa tokoh setempat tidak ada saksi sejarah yang mengetahui siapa yang pertama kali membangun masjid ini.

Ketika ditanya kepada orang tua-tua, mereka mengaku dulu pernah bertanya kepada nenek-nenek mereka tentang masjid ini, namun jawaban yang mereka peroleh dari nenek-nenek mereka adalah.

“Setahu kami diwaktu kami masih kanak-kanak, Masjid Tuo itu sudah seperti ini juga. 

Kalau kita cari sumber latar belakang sejarah berdirinya atau dibangunnya Masjid dan oleh siapa mendirikan, memang sulit untuk diperoleh informasi yang akurat.

Baca juga: PNS dan Tenaga Kontrak Pemerintah Aceh Dilarang Bukber Ramadhan dan Mudik Lebaran 1442 H

Soalnya tidak ada saksi sejarah yang membangun masjid ini," kata Imam Masjid Tuo Al-Khairiyah, A Nasriza, Rabu (14/4/2021).

Begitu pun, kata A Nasriza, menurut catatan yang ada pada salah satu tiang, bahwa Masjid Tuo Al-Khairiyah ini dibangun pada tahun 1276 Qamariyah atau ± 1860 Miladiyah.

Ukuran bangunan induknya 10 x 10 meter dan tiang masjid terdiri atas 4 buah tiang panjang dan 12 buah tiang pendek.

Konon kabarnya tiang-tiang tersebut adalah sebatang pohon kayu yang tumbuh di lokasi Masjid itu sendiri.

Dicetus saudagar keturunan Arab

Dari beberapa sumber, pembangunan masjid ini dicetuskan oleh seseorang saudagar keturunan Arab yang datang dari Betawi/Batavia bernama Syeich Muhammed Qisthi.

Saat beliau datang ke Tapaktuan melihat penduduk Tapaktuan yang beragama Islam, tapi belum mempunyai tempat ibadah sebagai sarana melaksanakan shalat lima waktu.

Baca juga: Safari Ramadhan Angkat Tema ‘Bereh’, Digelar Serentak di Seluruh Kabupaten/Kota

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved