Breaking News:

Jurnalisme Warga

Bahasa Melayu Pasai, Cikal Bakal Bahasa Indonesia

Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa Melayu terus-menerus diperkaya sehingga ia semakin mantap

Bahasa Melayu Pasai, Cikal Bakal Bahasa Indonesia
IST
T.A. SAKTI, Penerima Anugerah Budaya “Tajul Alam” dari Pemerintah Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh V tahun 2009, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH T.A. SAKTI, Penerima Anugerah Budaya “Tajul Alam” dari Pemerintah Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh V tahun 2009, melaporkan dari Banda Aceh

Bahasa Melayu merupakan akar utama dari bahasa Indonesia. Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa Melayu terus-menerus diperkaya sehingga ia semakin mantap berperan di seluruh wilayah nusantara. Seiring dengan timbul-tenggelamnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan datangnya penjajahan asing, bahasa Melayu pun mendapat predikat yang berbeda-beda dalam perkembangannya, yaitu:

1) bahasa Melayu Pasai;  2) bahasa Melayu Melaka; 3) bahasa Melayu Aceh Darussalam;  4) bahasa Melayu Johor;  5) bahasa Melayu Riau; 6) bahasa Melayu Balai Pustaka; 7) bahasa nasional Indonesia; dan 8) bahasa nasional Malaysia.

Bahasa Melayu Pasai berkembang pada masa Kerajaan Samudera Pasai (1250-1524 M). Kerajaan ini amat berperan dalam penyebaran Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara seperti ke Melaka dan Jawa. Bersamaan dengan berkembangnya agama Islam itu tersebar pula bahasa Melayu Pasai di daerah wilayah tersebut melalui kitab-kitab pelajaran agama Islam yang menggunakan bahasa Melayu Pasai sebagai pengantarnya.

Kerajaan Samudera Pasai berhubungan akrab dengan Kerajaan Melaka. Perkawinan antara Sultan Melaka Iskandar Syah dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai semakin mempererat hubungan kedua negara itu.

Sultan Pasai juga telah mengutus dua ulama ke Jawa untuk mengembangkan Islam. Berkat dakwah Islam yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak-lah, maka agama Islam berkembang di Gresik dan seterusnya menyebar ke seluruh Pulau Jawa. Karena berperan sebagai pendakwah pertama itulah sehingga Maulana Ishak bergelar Syekh Awwalul Islam.

Sebutan istilah “bahasa Melayu” merupakan kebiasaan baru di abad ke-18. Pada abad ke-16 dan 17 penyebutan bahasa Melayu adalah dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan dengan ucapan lidah masyarakat nusantara. Sedangkan “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab di masa itu untuk negeri-negeri di wilayah nusantara, Asia Tenggara.

Hikayat Raja-Raja Pasai yang ditulis dengan bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai merupakan bukti amat kuat untuk mengenal bentuk asli bahasa Jawi Pasai itu. Namun, naskah satu-satunya dari Hikayat Raja-Raja Pasai yang terwariskan kepada kita hari ini bukanlah dijumpai di Aceh, melainkan di Jawa.  Naskah ini kepunyaan Kiai Suradimenggala, Bupati Sepuh di Demak, yang selesai disalin tahun 1235 H atau 1819 M. 

Keberadaan naskah satu-satunya Hikayat Raja-Raja Pasai  di Jawa merupakan salah satu bukti pula bahwa masyarakat Jawa masa itu telah mengenal bahasa Melayu Pasai dengan baik, sehingga mereka dapat menikmati kisah-kisah dalam Hikayat Raja-Raja Pasai itu.

Bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai juga menjadi salah satu bahasa resmi Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini, antara lain, dapat dibuktikan dari kata pengantar Kitab Miraatut Thullab karya Syekh Abdurrauf As-Singkily (Syiah Kuala). Tentang hal itu Syekh Abdurrauf berkata,

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved