Breaking News
Sabtu, 13 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Bahasa Melayu Pasai, Cikal Bakal Bahasa Indonesia

Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa Melayu terus-menerus diperkaya sehingga ia semakin mantap

Tayang:
Editor: bakri
IST
T.A. SAKTI, Penerima Anugerah Budaya “Tajul Alam” dari Pemerintah Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh V tahun 2009, melaporkan dari Banda Aceh 

Syekh Abdurrauf  sepanjang kariernya di Aceh telah menulis karya-karya besar yang menjadi rujukan kaum muslimin Melayu dalam masalah fikih, tafsir, kalam, dan tasawuf. Perkembangan bahasa Melayu Jawi sejak Kerajaan Samudera Pasai sampai saat berdirinya Negara Republik Indonesia tentu telah melewati waktu yang berabad-abad lamanya. Teuku Iskandar mengatakan, ”Kesusastraan Melayu yang dimulai di Kerajaan Pasai dan dilanjutkan di Kerajaan Aceh berkembang selama lebih dari 650 tahun dan berpengaruh sampai sekarang.”

Dalam hal ini, Syed Muhammad Naguib al-Attas, antara lain, mengatakan bahwa pengaruh jejak ke penyairan Hamzah Fansuri terus berlanjut hingga abad ke-20. Kesimpulan itu diakui oleh seorang ahli tentang Hamzah Fansuri (Hamzah Fansurilog), yakni Abdul Hadi WM.

Ia berpendapat, pengaruh Hamzah terlihat pada beberapa karya penyair  “Pujangga Baru” seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Bagi Sanusi pengaruh itu tampak pada sajaknya “Dibawa Gelombang”, sedangkan untuk Amir Hamzah terlihat dalam sajak berjudul “Sebab Dikau”.

Selain Sanusi Pane dan Amir Hamzah, masih banyak penyair “Angkatan Pujangga Baru” yang terpengaruh dengan sastra sufi yang bersumber dari aliran Tasawuf  Hamzah Fansuri.

Di antaranya Hamka, Ali Hasjmy, Asmara Hadi, OR Mandank, Yoesoef Sou’yb, dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Dalam kajian Abdul Hadi WM lainnya pada periode 1970-an juga didapati bahwa aliran tasawuf Hamzah Fansuri terus berpengaruh kepada beberapa penyair masa itu, bahkan hingga masa kini, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Acep Zamzam Noor, dan Ahmadun Y Herfanda.

Perihal sejarah awal bahasa nasional Indonesia berpunca atau bersumber pada sejarah bahasa Melayu Pasai,  memang tidak diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Sebab, ketika Belanda mencari bahasa pengantar yang hendak dipakai untuk sekolah-sekolah bumiputra (rakyat Hindia Belanda) mereka memilihnya bahasa Melayu Riau. Yakni, periode ke-5 dari sejarah perkembangan bahasa Melayu yang disebutkan di atas.

Kalau diambil dari bahasa Melayu Melaka (periode ke-2 atau Johor, urutan ke-4, Melaka dan Kerajaan Johor saat itu sudah dalam penjajahan Inggris. Sementara, jika diambil dari bahasa Melayu Pasai (periode 1) Kerajaan Belanda sedang berperang dengan Kerajaan Aceh Darussalam yang daerah Pasai adalah bagian wilayahnya.

Belanda tidak salah, karena bahasa Melayu yang diambil dari daerah Riau sebagai wilayah yang telah dijajahnya. Kitalah yang salah, telah mengekor bulat-bulat kepada sejarah bahasa Melayu (kemudian menjadi bahasa nasional Indonesia) yang dibuat penjajah Belanda! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved