Breaking News:

Jurnalisme Warga

Bumi Tanpa Manusia

Setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Dalam setiap peringatannya pasti yang dipersoalkan adalah bumi, seperti tahun ini peringatan

Bumi Tanpa Manusia
FOR SERAMBINEWS.COM
YELLI SUSTARINA,  penulis buku ‘Bukan Catatan Kartini’, Pegiat Komunitas Perempuan Peduli Leuser, dan Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh

OLEH YELLI SUSTARINA,  penulis buku ‘Bukan Catatan Kartini’, Pegiat Komunitas Perempuan Peduli Leuser, dan Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh

Setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Dalam setiap peringatannya pasti yang dipersoalkan adalah bumi, seperti tahun ini peringatan Hari Bumi Sedunia mengangkat tema Restore Our Eart (Pulihkan Bumi Kita). Benarkah bumi yang harus dipulihkan atau justru pikiran manusianya yang mesti dipulihkan agar tidak merusak bumi?

“Memperingati Hari Bumi itu bukan perkara menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan manusia. Sebab, tanpa manusia bumi akan baik-baik saja. Justru bumi merasa senang bila tidak ada manusia. Buktinya, saat pandemi Covid-19 di mana manusia mengurangi beberapa aktivitasnya di luar rumah, pohon-pohon dapat tumbuh lagi, spesies hewan yang dulunya pada ngumpet kemudian muncul lagi,” ujar Gita Syahrani saat berlangsung Blogger Gathering Online pada 14 April 2021.

Ada sekitar 30 blogger dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Eco Blogger Squad mengikuti gathering online tersebut. Mereka merupakan kumpulan blogger yang berperan aktif mengampanyekan isu lingkungan, salah satunya dalam menyambut peringatan Hari Bumi Sedunia.

Selain itu, ada tiga narasumber yang dihadirkan untuk membahas tema “Hutan Indonesia sebagai Salah Satu Solusi Dalam Mitigasi Perubahan Iklim.” Di antaranya, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Gita Syahrani yang membahas tentang Menyelamatkan Bumi, Menyelamatkan Manusia.

Sedangkan dua narasumber lainnya ialah Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif  Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Yuyun Harmono yang membahas tentang Krisis Iklim dan Transisi Berkeadilan, dan Manajer Program Hutan Itu Indonesia (HII), Christian Natali yang menyampaikan tentang Hutan Adalah Jawaban untuk Menghentikan Krisis Iklim.

Di antara ketiga topik tersebut saya tertarik untuk mengulas topik yang dibahas oleh Kak Gita tentang Menyelamatkan Bumi, Menyelamatkan Manusia. Di awal presentasinya ia memperlihatkan sebuah gambar pohon besar yang tumbuh di atas reruntuhan bangunan.

Lebih lanjut ia jelaskan foto tersebut bahwa ketika tidak ada manusia lagi, alam dapat melakukan reclaim. Di mana pohon mengambil kembali teritorinya karena tak ada lagi manusia. Beberapa penelitian juga menyatakan tentang ramalan masa depan kalau tidak ada manusia, sebenarnya bumi akan baik-baik saja.

Bicara tentang penyelamatan atau pemulihan bumi bukan hanya menjadi fokus orang-orang yang berkecimpung dalam bidang lingkungan saja, tapi kita semua. Sebab, yang harus diselamatkan ialah manusia itu sendiri, karena bila bumi rusak, manusia juga yang akan meraskan dampaknya.

Di slide kedua powerpoint Kak Gita, ia tampilkan empat gelombang besar yang kemungkinan bisa mengancam kehidupan manusia. Gambar ilustrasi tersebut memperlihatkan sebuah kota kecil yang dihadapkan oleh gelombang pertama yang ukurannya tak begitu besar. Gelombang tersebut diibaratkan sebagai pandemi Covid-19 yang saat ini sedang mengancam kehidupan manusia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved