Breaking News:

Jurnalisme Warga

Bumi Tanpa Manusia

Setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Dalam setiap peringatannya pasti yang dipersoalkan adalah bumi, seperti tahun ini peringatan

Bumi Tanpa Manusia
FOR SERAMBINEWS.COM
YELLI SUSTARINA,  penulis buku ‘Bukan Catatan Kartini’, Pegiat Komunitas Perempuan Peduli Leuser, dan Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh

Setingkat pandemi Covid-19 saja sudah membuat geger dunia dan ratusan ribu manusia meninggal karenanya. Itu hanya dampak kecil ketika bumi dalam kondisi yang tidak baik. Kemudian di gelombang kedua yang lebih besar lagi ukurannya diibaratkan sebagai gelombang resesi di mana ketika ekonomi masyarakat dunia terjadi penurunan yang berdampak pada peningkatan pengangguran dan penurunan pendapatan masyarakat.

Ilustrasi gelombang ketiga yang lebih besar lagi ukurannya diibaratkan sebagai gelombang perubahan iklim dan gelombang yang peling besar dari ilustrasi gambar tersebut diibaratkan sebagai gelombang kehancuran keanekaragaman hayati. Bila gelombang ini yang datang, maka tamatlah sudah riwayat manusia di muka bumi ini.

“Bila fungsi keanekaragaman hayati kolaps, tanah subur dan air bersih tak bisa kita temukan lagi. Mau kita punya visi ekonomi sebagus apa pun dengan kondisi air, tanah, dan udaranya yang kualitasnya tak bisa dimanfaatkan lagi, maka tidak akan berhasil,” papar Kak Gita.

Kita bisa apa?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa menyelamatkan bumi berarti menyelamatkan manusia dari kepunahan. Jadi, bukan lagi tentang siapa dan apa profesi kita. Setiap orang di muka bumi ini bisa melakukan upaya penyelamatan bumi, salah satunya dengan mempertahankan keberadaan hutan. Terlibat langsung dengan masyarakat di sekitar hutan mungkin akan terasa sulit untuk dilakukan, khususnya bagi masyarakat kota. Lantas apa yang bisa dilakukan?

Kita bisa melakukan donasi dalam upaya penyelamatan hutan seperti Donasi Publik Walhi. Donasi yang Anda berikan digunakan untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat tentang pemetaan atau persengketaan hutan adat, mendorong solusi konkret di masyarakat, memberikan pendidikan, penguatan kapasitas, serta pemberdayaan masyarakat dalam upaya memastikan daya dukung lingkungan hidup terhadap kehidupan dapat berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Selain itu, Anda juga bisa saling bantu dengan cara membeli produk lokal yang ramah lingkungan dan sosial. Misalnya, dengan membeli topi atau tas rotan yang diproduksi kelompok perempuan di sebuah komunitas dapat memajukan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Itu adalah bentuk kecil yang bisa kita lakukan dalam upaya menjaga hutan. Selamat Hari Bumi Sedunia

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved