Breaking News:

Salam

Lapas Narkoba di Pulo Aceh, Mengapa Tidak?

Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Aceh, Drs Meurah Budiman SH MH menyambut baik usulan pembangunan lembaga pemasyarakatan

Editor: bakri
Lapas Narkoba di Pulo Aceh, Mengapa Tidak?
IST
MEURAH BUDIMAN

Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Aceh, Drs Meurah Budiman SH MH menyambut baik usulan pembangunan lembaga pemasyarakatan (Lapas) khusus napi narkoba di Pulo Aceh, Aceh Besar. Ide itu sebelumnya dicetuskan Wakil Bupati (Wabup) Aceh Besar, Tgk Husaini A Wahab atau akrab disapa Waled Husaini.

Dalam pandangan Waled Husaini, Pulo Aceh merupakan lokasi yang cocok dijadikan sebagai tempat rehabilitasi terhadap orang‑orang yang melakukan penyalahgunaan narkoba di Aceh. "Membangun Lapas Narkoba di Pulo Aceh merupakan ide yang bagus untuk kepentingan penegakan hukum, pembinaan narapidana, dan melindungi masyarakat," kata Meurah Budiman.

Membangun sebuah lapas membutuhkan biaya yang cukup besar. "Kalau lahan sudah ada, selanjutnya kita pikirkan biaya pembangunan, biaya pembangunan pelabuhan, dan transportasi khusus.  Untuk pelabuhan dan kapal transportasi tidak bisa kita gabungkan dengan pelabuhan dan kapal masyarakat umum. Ini perlu perhitungan yang matang dan akurat, perlu adanya support dari pemerintah propinsi dan kabupaten," tambah Meurah Budiman.

Diakui, pemakaian dan peredaran narkoba di Aceh, terutama ganja dan sabu-sabu memang sudah cukup parah. Di Aceh, yang bermain narkoba bukan kelas amatiran. Tapi, mereka adalah mafia internasional yang memiliki jaringan antarnegara. Dalam sebulan terakhir ada puluhan orang pengedar dan kurir narkoba dari daerah ini yang ditangkap di Aceh maupun di luar Aceh.

Karena kondisi demikianlah maka muncul pikiran mengadakan Lapas Khusus narkoba di Pulo Aceh. Hal ini dianggap mendesak berdasarkan perkembangan akhir-akhir ini yang semakin parah. Penjara-penjara di Aceh disesaki para narapidana kasus narkoba.

Saking membludaknya napi narkoba yang disertai banyak ulah, tahun lalu Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Hukum dan HAM memindahkan 50 narapidana bandar narkoba wilayah Aceh ke Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 orang dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karanganyar yang berkeamanan super maksimum, 10 orang ke Lapas Kelas IIA Besi, dan 10 orang ke Lapas Kelas IIA Narkotika Nusakambangan yang juga memiliki tingkat keamanan super maksimum.

Anggota Komisi I DPRA, Bardan Sahidi, sangat mendukung wacana  membangun lapas narkoba di Pulo Aceh.  "Saya rasa ini pemikiran dan gagasan yang cerdas dan lokasi Pulo Aceh memang sangat strategis. Untuk membina napi narkoba akan lebih mudah dan berkelanjutan, karena untuk melarikan diri sangat sulit karena tidak mudah mendapatkan boat.”

Bardan berpendapat, pembangunan lapas narkoba harus diprioritaskan. Karena, seluruh napi/tahanan narkoba nanti bisa ditempatkan satu lokasi. Ini tentunya, akan dengan mudah memutus rantai penyalahgunaan narkoba di Aceh dan selama ini karena pengunjung yang mudah bertemu membuat akses peredaran narkoba semakin mudah dikendalikan,  apalagi dikaitkan dengan keberadaan ponsel di tangan napi/tahanan di lapas.

Namun, pajabah Kemenkumham melihat, pada masa pandemi ini, dana untuk pembangunan lapas baru sangat sulit dialokasikan karena perioritas pemerintah saat ini pada upaya pengendalian dan pecegahan wabah Covid‑19. "Kemenkumham saat ini mengoptimalkan fungsi lapas yang ada, kalau di Aceh ada Lapas Narkotika di Langsa dan Lapas Banda Aceh yang melaksanakan program rehab narkoba pada narapidana," jelasnya.

Jika kita melihat persoalan‑persoalan yang terjadi sehingga banyak jeratan narkoba hingga jatuh pada kalangan pelajar dan intelektual, maka yang perlu serius dilakukan saat ini bukan hanya membina mereka yang sudah “masuk jurang”, tapi bagaimana mencegah agar banyak generasi muda kita tak terjerumus ke sana. Jadi, upaya preventif lebih dibutuhkan. Dalam hal ini, banyak kalangan melihat,  ada beberapa solusi altenatif atau pendekatan bisa dilakukan, antara lain, pendekatan agama. Melalui pendekatan ini, mereka yang masih 'bersih' dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved