Breaking News:

Jurnalisme Warga

Selamat Datang di Simpang Galon Darussalam

Simpang Galon merupakan istilah yang tak asing lagi bagi siapa pun yang pernah singgah di Kota Banda Aceh, khususnya bagi para sarjana

Selamat Datang di Simpang Galon Darussalam
IST
AMRULLAH BUSTAMAM, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH AMRULLAH BUSTAMAM, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam, melaporkan dari Banda Aceh

Simpang Galon merupakan istilah yang tak asing lagi bagi siapa pun yang pernah singgah di Kota Banda Aceh, khususnya bagi para sarjana yang pernah mengecap pendidikan di Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, Banda Aceh.

Kata Simpang Galon berdasarkan sejarahnya, menurut warga Gampong Rukoh, berawal ketika di era tahun ‘80-an terdapat sebuah pangkalan galon minyak (BBM) di simpang masuk ke Kampus Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry sekarang. Namun, setelah didirikan toko-toko, pangkalan galon minyak itu harus dibongkar. Namun, sampai sekarang simpang Darussalam ini yang berada di ujung Jalan Teuku Nyak Arief  tetap dikenal dengan sebutan Simpang Galon.

Tahun 2001 sampai tahun 2003, saat saya masih belajar di Fakultas Syariah Jurusan Jinayah Siyasah (SJS) IAIN Ar-Raniry, saya juga nyambi kerja di salah satu toko fotokopi yang bernama Rukoh Fotocopy. Dari toko yang berada tepat di Simpang Galon ini saya melihat situasi yang luar biasa terjadi setiap harinya. Banyak sekali mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Aceh maupun dari luar Aceh hadir dan berkumpul di simpang ini. Mereka membaur, membentuk diskusi-diskusi kecil antarmeja di warung kopi yang sangat diminati saat itu di Simpang Galon, yakni Warkop Al Hamra.

Topik yang mereka bicarakan pun sangat beragam, baik itu yang terkait dengan kampusnya, hobi mereka, intrik demonstrasi para aktivis 2000-an, dan sebagainya.

Simpang Galon selalu dipadati oleh berbagai kalangan, baik pagi, siang, maupun malam oleh para mahasiswa, pekerja kantoran, kontraktor, warga sekitaran Kampus USK maupun UIN Ar-Raniry. Bahkan sampai orang kurang waras pun ramai berwara-wiri di simpang ini, seperti (almh) Nek Tim, Wak Alue, si Gam Popo, dan si Bisu. Yang tidak kalah ketinggalan adalah para pasangan yang kasmaran dan selalu ngepos di Simpang Galon setiap harinya. Saat sahur di bulan Ramadhan seperti sekarang ini pun, Simpang Galon tetap hidup dengan berbagai dagangannya.

Era 2000-an Warkop Al Hamra milik Cut Mat, warga Tanjung Selamat, menjadi favorit mahasiswa saat itu. Di sebelah kanan Al-Hamra terdapat pohon jati yang menjadi payung bagi mahasiswa yang bersantai ria di bawah kerimbunannya. Segala jenis makanan disediakan di Simpang Galon ini dan harga tentunya sangat sesuai terjangkau oleh isi kantong para mahasiswa. Mi goreng Cut Mie, nasi padang, martabak Abang Aya, nasi goreng Doles, pisang goreng si Doel, dan sate padang Ajo menjadi spot yang tak pernah kekurangan peminat setiap harinya.

Masih tahun 2000-an, sederet nama toko yang tak bisa dilupakan para sarjana muda saat itu sampai sekarang--karena banyaknya jasa mereka dalam membantu selesainya pendidikan di Kopelma ini--adalah Toko Pupila, Toko Foto Mentari, Bina Brata, Rukoh Fotocopy, Al-Hamra, Mutiara Foto, Mitra Swalayan, Sabena, Mi Ayah, warung mi Bang Mud, Warung Makan Asia Utama, Warung Montasik, dan lainnya.

Sedangkan nama lorong dan kompleks yang selalu wajib dikenang dari Simpang Galon--karena banyaknya kisah romantisme para mahasiswa yang tak jarang berujung ke pelaminan–di antaranya adalah Lorong PBB, Lampoh U, KRH, Lorong Banna, Kompleks Zakaria Yunus, dan lainnya.

Kisah-kisah romantisme para mahasiswa dengan Simpang Galon ini sempat pupus sejenak saat tsunami melanda Aceh pada akhir tahun 2004. Banyak dari mereka yang menjadi korban dalam peristiwa besar ini. Namun, setelah kondisi kampus kembali normal sekitar tahun 2005, maka Simpang Galon pun kembali normal dan kembali menggeliat.

Namun, awal tahun 2020 lalu, kisah romantisme para mahasiswa kembali diuji oleh kehadiran pihak ketiga yang datang dari Wuhan, Cina, yaitu si Covid-19. Kebijakan pemerintah saat itu, semua pembelajaran wajib dilakukan secara online (daring), artinya semua mahasiswa pulang kampung. Imbasnya adalah Simpang Galon tinggal sendiri dan sunyi. Padahal saat itu, para pedagang di Simpang Galon sudah mulai membenahi simpang ini menjadi lebih baik dan seolah ingin membuat siapa pun yang singgah di sini tak akan beranjak ke tempat lain. Bagaimana tidak, beberapa kawan lama saya yang berbisnis di Simpang Galon, sekarang sudah membuka cabang bisnisnya menjadi beberapa jenis, seperti Pak M Nur selaku pemilik Percetakan Mita Mulia, sekarang sudah membuka Hotel Mulia di Simpang Galon. Seolah beliau ingin mengatakan, “Selamat datang di Simpang Galon” dan tersedia hotel yang nyaman dan murah untuk Anda yang ingin berkunjung. Tak hanya hotel, Pak M Nur juga membuka Cafe Kangen dengan konsep kekinian sebagai upaya memanjakan para mahasiswa yang ingin merasakan menu yang luar biasa, tapi bersahabat dengan isi kantong mahasiswa.

Tidak ketinggalan seorang bapak yang yang dipanggil Cut Mie yang memulai bisnisnya dari satu rak mi di Warkop Al-Hamra, sekarang sudah membuka warung dua pintu dengan nama Texas. Dan, masih banyak lagi pebisnis yang, menurut saya, masih bertahan dan cukup sukses sampai sekarang, seperti Bang Saed, pemilik Mitra Swalayan dan warkopnya di Simpang Galon yang sampai sekarang eksis.

Awal tahun 2021, ada sedikit angin segar, yaitu kebijakan dari kampus-kampus negeri dan swasta di Banda Aceh, membolehkan para mahasiswa semester 2 dan 4 untuk kuliah secara offline dan maksimal 20 orang per kelasnya. Namun, dengan tetap menjaga protokol kesehatan tentunya.  Sedangkan bagi para abang letingnya, yaitu semester 5 ke atas tetap menjalani perkuliahan secara online.

Akan tetapi, khusus di USK terhitung Senin, 27 April 2021, kembali diberlakukan perkuliahan secara daring, mengingat tingginya pertambahan kasus positif Covid-19 di Aceh dalam dua pekan terakhir.

Akhirnya, selamat datang para mahasiswa baru di Simpang Galon Darussalam, jangan lupa belajar sungguh-sungguh agar berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Amin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved