Breaking News:

Berita Gayo Lues

Kirim Surat Terbuka, Tersangka Beberkan Aliran Dana Korupsi Program Karantina Hafiz di Galus

Dalam surat terbuka itu ditulis dan diterangkan oleh tersangka Apuk mengenai aliran dana sebesar Rp 2 miliar yang diserahkan kepada dua orang.

Penulis: Rasidan | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
Kapolres Gayo Lues, AKBP Carlie Syahputra Bustamam. 

"Proses penyidikan kasus tersebut masih berlanjut, bahkan menyangkut dengan aliran dana yang disebutkan dalam surat terbuka yang beredar luas oleh salah satu tersangka, hal itu bagian dari proses pemeriksaan," sebutnya.

Baca juga: 9 Sampel Makanan tak Memenuhi Syarat, Hasil Pemeriksaan BBPOM di Sabang

Baca juga: Malam Ini, 51 Rohingya di Lhokseumawe Diboyong ke Medan, Ini Jumlah Pengungsi Tersisa di BLK Kandang

Baca juga: VIDEO Gelombang Kedua Virus Corona di India, Infeksi Tertinggi, dan Membeludaknya Kremasi

Kapolres Galus menyebutkan, sejauh ini tersangka yang sudah ditahan dalam kasus tersebut masih tiga orang.

Yakni, Kadis Dayah yang juga merupakan mantan Kepala DSI berinisial HS, PPTK SH alias Apuk, dan LH selaku rekanan sebagai penyedia tempat untuk kegiatan karantina hafiz.

Lanjut AKBP Carlie, belum ada tersangka lain dalam kasus tersebut. Namun begitu, tukasnya, bakalan ada saksi lain yang akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Untuk saat ini polisi masih mendalami terlebih dahulu terhadap bukti dan keterangan dari tersangka yang sudah ditahan di sel, bahkan bisa jadi ada tersangka lainnya," papar Kapolres. 

Berikut isi kutipan surat terbuka dari tersangka kasus korupsi karantina hafiz yang beredar di masyarakat:

Baca juga: Suhu di Enam Daerah Capai 32 Derajat Celcius, Begini Prediksi Cuaca Sebagian Aceh hingga 20 Ramadhan

Baca juga: Oknum Sekdes dan Keuchik Ditangkap Pakai Narkoba, Pemkab Abdya akan Tes Urine 95 Calon Pj Keuchik

Baca juga: Remaja 17 Tusuk Seorang Pemuda, Alasannya Takut Pacar Kembali ke Pelukan Mantan

“Saya  bernama Sahrul Huda sebagai PPTK  kegiatan sumber daya santri (karantina hafiz) pada DSI Galus merasa keberatan yang ditangani Polres dan dijadikan sebagai tersangka, jika yang lainnya tidak dijadikan tersangka seperti Bendahara, Pokja  dan rekanan lainnya.

Sedangkan aliran dana tersebut yang saya ketahui (SH/PPTK), mengalir dari rekanan/kontraktor Lukman Hakim memberikan  kepada bendahara atas nama Zainuddin diserahkan Rp 1,8 miliar, berdasarkan bukti rekaman dari saudara Lukman (rekanan) ini.

Selain itu, rekanan Lukman Hakim juga memberikan uang kepada Pokja yang diminta sebagai uang kontrak sebesar dua persen yakni Rp 200 juta yang diterima saudara Makrub Kasri. 

Saya merasa tidak ada keadilan bagi saya dalam melakukan pemeriksaan dan ditetapkan tersangka”.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved