Breaking News:

Berita Aceh Timur

Sudah Banyak Telan Korban Jiwa, Pemerintah Diminta Bina dan Wadahi Pengebor Minyak Tradisional

Terkait hal ini, pemerintah diminta turun tangan membina dan mewadahi para pengebor minyak tradisional tersebut.

Dok Camat Ranto Peureulak
Camat Ranto Peureulak, Mukhtaruddin, SSos, MAP didampingi staf meninjau lokasi pengeboran minyak yang menyebabkan seorang pekerja meninggal dunia, Selasa (4/5/2021). 

Laporan Seni Hendri Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Korban meninggal dunia maupun luka-luka akibat aktivitas pengeboran minyak di Aceh Timur, khususnya dalam Kecamatan Ranto Peureulak, sudah banyak terjadi.

Terakhir terjadi pada Sabtu (1/5/2021) malam sekitar pukul 22.00 WIB, di Desa Buket Pala, Ranto Peureulak.

Kecelakaan kerja itu menyebabkan seorang meninggal dunia, yakni Yudiansyah (23), warga Desa Paya Palas, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.

Terkait hal ini, pemerintah diminta turun tangan membina dan mewadahi para pengebor minyak tradisional tersebut.

Karena praktik itu sudah banyak menimbulkan korban jiwa, namun aktivitas tersebut juga masih terus terjadi hingga kini.

Baca juga: Ini Kronologis Pengebor Minyak Meninggal Dunia di Aceh Timur, Terkena Hantaman Pipa di Wajah

Baca juga: Selamat, 1.643 Santri Se-Aceh Lulus Beasiswa Baitul Mal, Cek Nama Kamu di Sini!

Baca juga: Tragis! Perawat Cantik di Malang Disiram Bensin Lalu Dibakar Oleh OTK, Ini Kronologinya

Karena itu, warga berharap kepada pemerintah agar dapat memfasilitasi aktivitas pengeboran minyak yang dilakukan warga agar aman dan nyaman dalam bekerja.

"Selama ini warga bekerja dengan ketakutan. Karena tidak ada lapangan pekerjaan lain sehingga mereka bekerja mengebor meski mereka sadar resikonya bisa meninggal dunia," ungkap salah satu sumber yang minta namanya dirahasiakan kepada Serambinews.com, Selasa (4/5/2021).

Terkait seorang pekerja meninggal dunia akibat melakukan pengeboran minyak di Desa Buket Pala, ungkap sumber tersebut, sebenarnya perangkat Desa Buket Pala sudah sering mengeluarkan imbauan yang melarang warga untuk melakukan aktivitas pengeboran minyak.

“Tapi warga tak berani mencegah karena aktivitas pengeboran minyak itu sudah ada di desa tersebut sejak tahun 2012,” beber dia.

"Orang bertahan bekerja di sini karena tak ada lapangan pekerjaan lain,” paparnya.

Baca juga: VIDEO Hukum Sholat Idul Fitri di Rumah, Sahkah Shalat dan Bagaimana Khutbah?

Baca juga: Ibrahim Baycora, Muslim Pertama yang Jadi Kepala Polisi Paterson Amerika Terima Ancaman Pembunuhan

Baca juga: Jalan Tiba Raya, Mutiara Timur Rusak Parah, Dewan: Harus Diatasi! Ini Kata Pejabat PUPR Pidie

“Padahal mereka tahu resikonya berat bisa meninggal dunia, tapi kita tak berani mencegah karena mencari minyak sudah menjadi mata pencaharian mereka," ungkap sang sumber.

Termasuk sebelum terjadinya insiden yang menyebabkan seorang pekerja meninggal dunia pada Sabtu malam lalu, perangkat desa bersama Muspika Ranto Peureulak sebenarnya sudah sering mengimbau warga agar tidak melakukan pengeboran minyak.

Karena masyarakat dalam bekerja tidak memakai alat pelindung diri yang memadai, seperti helm, sepatu, sarung tangan, dan alat pengaman lainnya.(*)

Penulis: Seni Hendri
Editor: Saifullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved