Lembaga Keuangan Syariah
Pelayanan Bank Syariah Disorot, Ini Harapan Aktivis Santri Aceh
Sorotan terhadap pelayanan bank syariah ini juga mendapat perhatian dari aktivis santri Aceh, Teuku Zulkhairi.
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Zaenal
Zulkhairi tidak sependapat karena persoalan ATM kemudian yang disalahkan penerapan sistem syariahnya.
Penerapan syariah tidak ada kaitan dengan persoalan yang terjadi saat melakukan transaksi di ATM.
"Kita harus bisa membedakan antara kerja manusia yang mengurus ATM dan transaksi bank lainnya dengan ekonomi syari'ah sebagai suatu konsepsi ekonomi Islam untuk kita umat Islam," lanjutnya.
"Kita dilarang oleh Islam untuk bertransaksi dengan sistem ribawi yang melekat dan identik pada bank konvensional. Dosa riba yang paling kecil adalah bagai berzina dengan ibu kandung. Na'uzubillah min dzalik. Sungguh mengerikan," jelasnya.
Karena ada ancaman seperti ini, tambah Zulkhairi, tentu sebagai seorang muslim pasti memilih sistem ekonomi syari'ah sebagai ganti sistem bank konvensional.
"Kita berharap kelak dapat berjumpa dengan Rabb kita. Dan bagaimana mungkin kita akan berjumpa dengan Nya jika di dunia ini kita abaikan ajaranNya, termasuk ajaranNya yang melarang riba," ungkapnya lagi.
Baca juga: Nasabah Mandiri Syariah Tak Perlu Migrasi ke Rekening BSI, Bagaimana Dengan Nasabah BRIS dan BNIS?
Ketika saat ini Aceh dihadapkan pada problem rusaknya pelayanan bank syari'ah yang sudah berubah dari konvensional (sebagai suatu tuntutan dari agenda penerapan syari’at Islam secara integral dan menyeluruh), Zulkhairi mengatakan langsung teringat dengan ungkapan Mohammed Natsir.
"Kata beliau: "Islam beribadah akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik akan ditumpas ke akar-akarnya"."
"Mungkin ungkapan ini tidak cocok semuanya di negara kita, tapi dari ungkapan itu setidaknya kita bisa paham bahwa menuju ekonomi Islam itu tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Zulkhairi.
Zulkhairi yang juga seorang dai ini mengatakan sangat mendukung bank syari'ah. Tapi ia mengaku heran kenapa ketika berstatus bank konvensional pegawainya bisa memberikan pelayanan dengan baik termasuk ATM.
"Tapi setelah berubah jadi bank syari'ah kok jadi hancuran. Oleh sebab itu, kita berharap publik Aceh dapat memahami persoalan ini dan memfokuskan kritikan kepada manusianya. Bukan kepada sistem syari'ahnya. Karena Syari'at Islam itu adalah jalan hidup kita sebagai muslim," katanya.
Ia berharap para pihak terkait dapat melacak sumber dan inti masalah dan betul-betul mendorong agar bank syari'ah di Aceh dapat memberikan pelayanan terbaik agar orang-orang semakin jatuh cinta kepada syari'at Islam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-zulkhairi-2.jpg)