Internasional
Perang Hamas-Israel Memicu Persatuan Seluruh Warga Palestina, dari Jalur Gaza Sampai Jerusalem Timur
Perang 11 hari antara Hamas dan Israel telah memicu persatuan seluruh warga Palestina yang tersebar di beberapa wilayah.
Arab-Israel, minoritas sekitar 20 persen di Israel, menghadapi tantangan unik mereka sendiri, kata Amal Jamal, profesor ilmu politik di Universitas Tel Aviv.
"Orang Palestina di Israel realistis, mereka telah hidup dengan orang Yahudi selama beberapa dekade, mereka memahami jiwa, politik, budaya Israel, mereka berbicara bahasa Ibrani dengan lancar," katanya.
"Orang-orang Palestina di Israel sedang memperjuangkan legitimasi mereka," jelasnya.
"Untuk menjadi bagian dari sistem politik, bagian dari pengambilan keputusan, untuk menghasilkan solusi bagi masalah Palestina," tambahnya.
Mariam Barghouti, seorang peneliti dan aktivis Palestina, mengatakan dalam komunitas yang lebih luas, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dengan negara Israel.
Sehingga, menciptakan isolasi bagi komunitas yang berbeda.
"Itu merusak kemampuan untuk berhubungan satu sama lain dan pengalaman kita," kaanya.
Namun di tengah meningkatnya kekerasan baru-baru ini, kata Barghouti, orang Arab-Israel mendapati diri mereka dihadapkan pada orang-orang yang meneriakkan 'matikan orang Arab.
Baca juga: Aktivis Pro-Palestina Turunkan Peringkat Facebook, Kampanye 1 Bintang di App Store dan Google Play
Bahkan, menyerang orang Palestina dengan senjata.
Mereka menyadari bahwa ini bukan hanya masalah Tepi Barat, bukan hanya masalah Jalur Gaza, kata Barghouti.
"Ini masalah apartheid, masalah kolonial, ini masalah negara Israel," jelasnya.
Kelompok Human Rights Watch yang berbasis di AS dan B'Tselem Israel baru-baru ini menuduh Israel menjalankan sistem apartheid.
Sebuah tuduhan yang ditolak keras oleh negara Yahudi itu.
Jamal juga mengatakan gejolak baru-baru ini membuat semua orang merasakan betapa Palestina mereka.
Tapi ada perbedaan besar antara sentimen dan kemauan politik atau orientasi politik.
Warga Palestina telah terpecah secara politik antara Hamas dan saingannya Fatah, yang telah menyaksikan munculnya kelompok-kelompok sempalan.