Internasional
Perang Hamas-Israel Memicu Persatuan Seluruh Warga Palestina, dari Jalur Gaza Sampai Jerusalem Timur
Perang 11 hari antara Hamas dan Israel telah memicu persatuan seluruh warga Palestina yang tersebar di beberapa wilayah.
SERAMBINEWS.COM, RAMALLAH - Perang 11 hari antara Hamas dan Israel telah memicu persatuan seluruh warga Palestina yang tersebar di beberapa wilayah.
Eskalasi terbaru dalam konflik Timur Tengah itu telah berfungsi mempersatukan komunitas Palestina.
Yang terfragmentasi secara geografis dengan cara yang tidak terlihat selama bertahun-tahun.
Dari Jalur Gaza yang diblokade hingga Tepi Barat yang diduduki dan Jerusalem Timur hingga orang-orang Arab-Israel yang tinggal di dalam negara Yahudi itu semakin merasa dekat.
Dilansir AFP, Selasa (25/5/2021), lautan bendera Palestina berkibar dalam unjuk rasa solidaritas, terutama selama protes "Day of Rage" dan seranan 18 Mei 2021 yang melintasi wilayah terpisah.
Baca juga: WhatsApp Blokir 100 Jurnalis Palestina, Seusai Gencatan Senjata Hamas dan Israel
Kantor administrasi, sekolah dan bisnis ditutup di Tepi Barat.
Tidak hanya untuk memprotes pemboman Jalur Gaza.
Tetapi juga terhadap perluasan pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan.
“Untuk melihat setiap komunitas Palestina bangkit bersama, ini sangat jarang,” kata Salem Barahmeh, Direktur Institut Palestina untuk Diplomasi Publik.
"Untuk melakukan pemogokan dan protes nasional dan melibatkan diaspora Palestina, itu cukup bersejarah," katanya, mengacu pada demonstrasi oleh orang-orang Palestina di luar negeri.
Seorang Arab-Israel, Mussa Hassuna, tewas dalam konfrontasi antara kaum nasionalis Yahudi dan pemuda Arab di Lod, Israel tengah.
Orang Arab Israel adalah keturunan Palestina yang tinggal di tanah mereka setelah pembentukan Israel pada tahun 1948.
"Fragmentasi telah lama berfungsi untuk memastikan tidak ada keterlibatan penuh Palestina secara geografis, sosial dan politik," kata Barahmeh, yang berbasis di Ramallah di Tepi Barat.
Saat Jalur Gaza terperosok dalam kemiskinan, Tepi Barat setelah intifada berturut-turut (pemberontakan) telah melihat kebijakan ekonomi liberal.
Bahkan, munculnya kelas menengah yang kadang-kadang tampak kurang terlibat secara politik, katanya.