Rabu, 13 Mei 2026

Kupi Beungoh

Nek Munah Pidie Jaya, KPK, dan Pembangunan Kita (IV)

WHO (2016) melaporkan bahwa harapan hidup anak-anak yang lahir pada tahun 2016 adalah 72 tahun, bertambah 5,5 tahun dari tahun 2000.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

JIKA rahasia umur panjang Nek Minah lebih banyak berurusan dengan rahmat Allah, keberuntungan, berikut dengan sejumlah perilaku gaya hidupanya yang sangat personal, maka banyaknya centenarian-umur lebih 100 tahun di kawasan zona biru berurusan dengan tradisi gaya masyarakat di lokasi tertentu.

Intinya, yang satu lebih sangat terpusat pada indidvidu, dan yang satu lagi seseorang yang lahir dan besar di kawasan tertentu itu, sudah tersosialisasi, terbiasa, menyatu, dan menjadi bagian tak terpisahkan gaya hidup itu sehat itu.

Jika pada kasus Nek Munah dan negara zona biru, penjelasnya adalah orang-perorang, dan komunitas, bagamana menjelaskan sebuah fenomena global tentang semakin bertambahnya jumlah orang tua?

WHO (2016) melaporkan bahwa harapan hidup anak-anak yang lahir pada tahun 2016 adalah 72 tahun, bertambah 5,5 tahun dari tahun 2000.

Kenaikan harapan hidup diperkirakan akan terus naik pada tahun-tahun mendatang.

Dunia yang Semakin Abu-Abu

Berbeda dengan istilah keseharian abu-abu yang berkonotasi tak jelas, tak ada harapan, tidak menggembirakan, istilah ini dalam konteks demografi pembangunan justeru bermakna positif.

Bertambahnya jumlah penduduk usia lanjut adalah pantulan dari pembangunan yang berkualitas yang menempatkan manusia sebagai pusat dari pembangunan nasional masing-masung negara.

Semenjak akhir abad ke 20, sampai dengan hari ini, kecenderungan semakin membesarnya penduduk usia lanjut semakin tampak, sehingga tak salah jika fenomena ini disebut dengan “gray world” (Fishman 2012)

Sebenarnya angka harapan hidup global telah bertambah secara sangat luar biasa semenjak tahun 1990.

Mereka yang lahir dalam kurun waktu lima dari patokan tahun pertama berturut-turut 1990-1995 adalah 65 tahun yang kemudian terus bertamabah pada, 2010-2015 menjadi 71 tahun.

Kenaikan itu diproyeksikan akan terus terjadi dan mencapai umur 77 tahun pada tahun 2045-2050.

Diperkirakan pada akhir abad ke 21, 2095-2100, rata-rata umur manusia pada tingkat global akan mencapai 83 tahun (UN, World Population Prospect  2017)

Kenaikan angka harapan hidup global dalam kenyataannya juga berjalan sejajar dengan pertambahan jumlah manusia usia lanjut.

Pada tahun 2017, jumlah penduduk usia lanjut-berumur lebih dari 65 tahun, berada pada angka 1 miliar jiwa, bertambah  sekitar 500 juta dengan jarak waktu 27 tahun sebelumnya, 1990.

Jumlah orang tua diproyeksikan akan menjadi 2,1 miliar pada tahun 2050, dan akan mencapai 3,1 miliar pada tahun 2100 umur manusia pada tingkat global akan mencapai 83 tahun (UN, World Population Prospect 2017)

Sekalipun jumlah penduduk dunia pada tahun 2100 diperkirakan akan mencapai 11,2 miliar, prosentase jumlah penduduk usia tua secara presentase, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Jumlah orang tua pada tahun 2100 sudah mencapai lebih dari seperempat dari total populasi dunia.

Bandingkan dengan tahun 1990, yang jumlahnya kurang dari 10 persen, 2017, 13 persen total orang tua, dan 21 persen pada tahun 2050.

Dengan kecenderungan yang seperti itu, maka ungkapan dunia yang semakin abu-abu menjadi benar adanya.

Sebaran angka harapan hidup dan jumlah populasi lanjut usia tentu saja mempunyai sebaran yang berbeda.

Negara-negara kaya dan dipastukan mempunyai kenaikan harapan hidup yang lebih tinggi.

Sementara itu, negara berkembang berada di belakangnya, namun terbagi lagi menurut tingkat pertumbuan ekonomi dan kwalitas pembangunan manusia yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Di urutan terakhir adalah negara-negara terkebelakang, umumnya di benua Afrika yang tingkat kenaikan angka harapan hidup rendah, dan juga jumlah populasi yang juga rendah.

Baca juga: Nek Munah Pidie Jaya, KPK, dan Pembangunan Kita (I)

Baca juga: Nek Munah Pidie Jaya, KPK, dan Pembangunan Kita (II)

Baca juga: Nek Munah Pidie Jaya, KPK, dan Pembangunan Kita (III)

Pengalaman Cina Menjadi Negeri Manula

Cina adalah sebuah contoh sempurna bagaimana pemdangunan dan pertumbuhan ekonomi yang dialaminya selama kurang dari 40 tahun, telah membuat negara 2 kali berubah statusnya dari kerangka pandang demografi.

Karena banyaknya anak-anak dan usia muda, periode 1950-1970, Cina berstatus sebagai negara muda -young society.

Status itu segera berubah ada periode 1980-1990 karena jumlah populasinya didominansi oleh orang dewasa, sehingga statusnya berubah menjadi negara dewasa- adult society.

Semenjak tahun 2000 sampai sekarang jumlah orang tua semakin banyak, sehingga transisi demografinya menjadi sempurna menjadi “old society” (Yao &Hubert 2019).

Prestasi Cina sesungguhnya jauh melampaui apa yang pernah dicapai oleh negera-negara maju di Eropa dan AS yang membutuhkan waktu 100 tahun untuk mencapai transsisi itu.

Namun demikian, Cina tidaklah sendiri dalam capaian prestasi itu.

Proporsi jumlah manusia usia  lanjut yang terus bergulir di negara-negara maju seperti Jepang, dan negara-negara maju yang “baru” seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Singapore juga mengikuti Cina walaupun tidak sangat persis sama.

Baca juga: Pecahkan Rekor Dunia, Wanita Cina Ini Miliki Bulu Mata Sepanjang 20,5 Centimeter

Negara, Pembangunan, dan Manusia Panjang Umur

Apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir yang menyangkut dengan pertambahan proporsi manusia lanjut usia di berbagai belahan dunia bukanlah sesuatu yang berjalan sendiri.

Akhir abad ke 20 dan awal abad ke 21 adalah sebuah periode dalam sejarah kemanusiaan yang sangat luar biasa.

Periode ini berjalan secara simultan dimana kemajuan pembangunan ekonomi, kemajuan teknologi, pembangunan demokrasi, integrasi ekonomi global, persamaan gender, dan berbagai atribut pembangunan lainnya telah melahirkan landskap dunia baru.

Salah satu hasil pokok dari kemajuan itu adalah proses transisi demografi yang membuat banyak perobahan dalam konteks kependudukan.

Hal itu tercermin mulai dari angka kelahiran yang semakin kecil, tingkat kematian ibu dan anak yang semakin menurun, umur kawin yang semakin tua, dan bertambahnya umur manusia.

Itu semua adalah buah dari pembângunan dan kemajuan yang dilakukan oleh negara.

Karena perbedaan tingkat kemajuan dari berbagai negara, terjadi pula perbedaan kecepatan pertambahan proporsi manusia usia lanjut.

Ketika ditelusuri, data yang ada menunjukkan strategi pembangunan dan komitmen untuk kesejahteraan publik menjadi salah satu kunci utama.

Cina adalah sebuah contoh bagaimana penurunan kelahiran yang berjalan beriringan dengan peningkatan angka harapan hidup yang sangat  berhubungan dengan peningkatan jumlah proporsi manusia lanjut usia.

Dalam konteks demografi kejadian di hulu, dimana disamping terjadinya penurunan kelahiran, penurunan kematian bayi per 1000 orang di bawah 5 tahun juga terjadi secara drastis, 53,8 pada tahun 1990, menjadi 10,7 orang pada tahun 2015.

Di hilir, jumlah kematian dewasa-15-60 tahun juga menurun drastis, dari 151 orang pada tahun 1990 menjadi 85 orang pada 2015, per 1000 penduduk (WHO 2018).

Sementara itu kasus penyakit menular juga menurun secara drastis.

Journal the Lancet edisi January 2016 mencatat pengurangan kematian akibat penyakit menular antara 60-90 persen antara tahun 1990-2013.

Pengalaman di Cina menunjukkan keberhasilan pembangunan ekonomi, sekaligus mengurangi kemiskinan secara signifikan.

Kemajuan pembangunan industri, infrastruktur, investasi perdagangan membuat rakyat Cina mempunyai peningkatan kualitas hidup yang luar biasa.

Dampak dari kemajuan itu berpengaruh besar terhadap kulitas fisik dan mental sumber daya manusia, mulai pra kelahiran sampai dengan manusia lanjut usia.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved