Breaking News:

Senjata Nuklir

Terpantau 2.000 Senjata Nuklir Dengan Status Siaga Tinggi di Dunia, Paling Banyak Punya AS dan Rusia

"Ada tren baru yang signifikan, semua orang harus melihatnya sebagai peringatan. Kita harus berhati-hati untuk kembali ke semacam perlombaan senjata..

Editor: Eddy Fitriadi
Kyodo News
Anggota kelompok penyintas Bom Atom berkumpul, memegang spanduk menyerukan kepada pemerintah Jepang untuk meratifikasi Perjanjian Larangan Senjata Nuklir, dengan latar belakang Kubah Bom Atom, di Hiroshima, Jepang barat, Minggu (25/10/2020). 

SERAMBINEWS.COM - Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) pada hari Senin (14/6) merilis laporan baru mengenai jumlah senjata nuklir yang dalam status bersiaga di seluruh dunia. Dalam catatannya, SIPRI menemukan ada 2.000 senjata nuklir di seluruh dunia yang siap diluncurkan.

SIPRI mengakui bahwa jumlah persenjataan nuklir telah menurun sejak Perang Dingin berakhir. Tetapi, tren penurunan mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir.

"Ada tren baru yang signifikan, semua orang harus melihatnya sebagai peringatan. Kita harus berhati-hati untuk kembali ke semacam perlombaan senjata antara kekuatan nuklir," ungkap peneliti SIPRI Hans Kristensen dalam wawancaranya dengan kanal televisi Swedia, SVT.

Dilansir Sputnik News, antara tahun 2020 dan 2021, jumlah hulu ledak dalam dalam persediaan nuklir militer meningkat sekitar 300. Semuanya merupakan senjata nuklir yang dikerahkan di unit operasional dan di depot militer.

SIPRI melaporkan saat ini ada sekitar 2.000 senjata nuklir di seluruh dunia dengan status siaga tinggi, sebagian besar adalah persenjataan milik Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

AS dan Rusia sepanjang tahun lalu dilihat cukup konsisten membongkar hulu ledak yang sudah pensiun, membuat jumlahnya mulai berkurang. Di sisi lain, kedua negara diperkirakan memiliki sekitar 50 lebih banyak hulu ledak nuklir dalam penyebaran operasional pada awal tahun 2021.

SIPRI menyebut peningkatan itu terjadi terutama melalui penyebaran rudal balistik antarbenua (ICBM) berbasis darat dan rudal balistik berbasis kapal selam (SLBM).

Negara pemilik senjata nuklir lain seperti Inggris, baru saja meninjau kebijakan keamanannya pada Maret 2021 dan membalikkan kebijakan sebelumnya untuk mengurangi persenjataan nuklir negara. Hasilnya, Inggris berencana menaikkan batas jumlah senjata nuklir dari 180 menjadi 260.

China terbilang cukup stabil di tengah-tengah modernisasi yang signifikan dan perluasan persediaan senjata nuklirnya. Sementara India dan Pakistan juga tampaknya memperluas persenjataan nuklir mereka, ungkap SIPRI.

Korea Utara yang kerap menjadi sorotan juga diprediksi akan tetap melanjutkan program nuklirnya meskipun desakan denuklirisasi terus datang dari negara-negara barat yang dimotori AS.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved