Kamis, 16 April 2026

Berita Internasional

Thailand & Kamboja Gencatan Senjata, Korsel & Korut Tutup Pintu Perdamaian

“Kami menegaskan kembali bahwa apa pun kebijakan atau proposal yang diajukan oleh Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada yang perlu dibahas,”

Editor: Nurul Hayati
Thumnail Youtube
Menhan Korsel perintahkan pasukan khusus untuk bunuh pemimpin Korut Kim Jong Un jika perang. Korut menutup pintu dialog yang digagas oleh Korsel di bawah presiden yang baru. 

“Kami menegaskan kembali bahwa apa pun kebijakan atau proposal yang diajukan oleh Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada yang perlu dibahas,” ujar Kim Yo Jong.

SERAMBINEWS.COM -  Harapan akan mencairnya ketegangan antara negara bertetangga Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) kembali memudar.

Korea Utara secara terbuka menolak tawaran dialog dari Presiden Korea Selatan yang baru, Lee Jae-myung.

Penolakan itu disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik sekaligus orang kepercayaan pemimpin Korut Kim Jong Un, dalam sebuah pernyataan resmi pada Senin (28/7/2025). 

Ia menegaskan bahwa Pyongyang “tidak berkepentingan dan tidak memiliki alasan” untuk berdialog dengan Seoul.

Pernyataan tegas Kim Yo Jong ini menjadi respons pertama terhadap pendekatan damai Presiden Lee yang menjabat sejak Juni lalu.

 Setelah menjabat, Lee berupaya mengubah kebijakan konfrontatif pendahulunya dengan menghentikan siaran propaganda di perbatasan, langkah simbolis yang ditujukan untuk membuka jalan dialog, dikutip dari France24.

Baca juga: Tok! Dimediasi Malaysia, Thailand dan Kamboja Sepakat Gencatan Senjata

Korea Utara pun merespons dengan menghentikan siaran propagandanya, yang selama ini dikenal menyebarkan suara-suara mengganggu ke wilayah Selatan.

Namun, Kim menilai langkah Seoul tersebut bukan sesuatu yang layak diapresiasi. 

"Jika Korea Selatan berharap dapat membalikkan semua hasil yang telah dicapainya dengan beberapa kata sentimental, tidak ada yang bisa menjadi "salah perhitungan yang lebih serius", kata Kim dalam komentar yang dimuat oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), dikutip dari Al Jazeera.

Lebih lanjut, ia menyindir kepercayaan pemerintahan Lee terhadap aliansi militer dengan Amerika Serikat sebagai “kepercayaan buta”.

 Menurutnya, ini menunjukkan tidak ada perubahan nyata dari kebijakan keras pemerintahan konservatif sebelumnya di bawah Presiden Yoon Suk-yeol.

“Kami menegaskan kembali bahwa apa pun kebijakan atau proposal yang diajukan oleh Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada yang perlu dibahas,” ujar Kim Yo Jong.

Ia bahkan menyatakan bahwa hubungan antar-Korea semakin tidak sejalan secara prinsip.

"Hubungan DPRK-ROK telah melampaui zona waktu konsep homogen," ujarnya, menggunakan akronim resmi Korea Utara.

Baca juga: Tekanan Tarif Trump, Thailand & Kamboja Bahas Gencatan Senjata di Malaysia

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved