Berita Internasional
Thailand & Kamboja Gencatan Senjata, Korsel & Korut Tutup Pintu Perdamaian
“Kami menegaskan kembali bahwa apa pun kebijakan atau proposal yang diajukan oleh Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada yang perlu dibahas,”
“Kami menegaskan kembali bahwa apa pun kebijakan atau proposal yang diajukan oleh Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada yang perlu dibahas,” ujar Kim Yo Jong.
SERAMBINEWS.COM - Harapan akan mencairnya ketegangan antara negara bertetangga Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) kembali memudar.
Korea Utara secara terbuka menolak tawaran dialog dari Presiden Korea Selatan yang baru, Lee Jae-myung.
Penolakan itu disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik sekaligus orang kepercayaan pemimpin Korut Kim Jong Un, dalam sebuah pernyataan resmi pada Senin (28/7/2025).
Ia menegaskan bahwa Pyongyang “tidak berkepentingan dan tidak memiliki alasan” untuk berdialog dengan Seoul.
Pernyataan tegas Kim Yo Jong ini menjadi respons pertama terhadap pendekatan damai Presiden Lee yang menjabat sejak Juni lalu.
Setelah menjabat, Lee berupaya mengubah kebijakan konfrontatif pendahulunya dengan menghentikan siaran propaganda di perbatasan, langkah simbolis yang ditujukan untuk membuka jalan dialog, dikutip dari France24.
Baca juga: Tok! Dimediasi Malaysia, Thailand dan Kamboja Sepakat Gencatan Senjata
Korea Utara pun merespons dengan menghentikan siaran propagandanya, yang selama ini dikenal menyebarkan suara-suara mengganggu ke wilayah Selatan.
Namun, Kim menilai langkah Seoul tersebut bukan sesuatu yang layak diapresiasi.
"Jika Korea Selatan berharap dapat membalikkan semua hasil yang telah dicapainya dengan beberapa kata sentimental, tidak ada yang bisa menjadi "salah perhitungan yang lebih serius", kata Kim dalam komentar yang dimuat oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), dikutip dari Al Jazeera.
Lebih lanjut, ia menyindir kepercayaan pemerintahan Lee terhadap aliansi militer dengan Amerika Serikat sebagai “kepercayaan buta”.
Menurutnya, ini menunjukkan tidak ada perubahan nyata dari kebijakan keras pemerintahan konservatif sebelumnya di bawah Presiden Yoon Suk-yeol.
“Kami menegaskan kembali bahwa apa pun kebijakan atau proposal yang diajukan oleh Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada yang perlu dibahas,” ujar Kim Yo Jong.
Ia bahkan menyatakan bahwa hubungan antar-Korea semakin tidak sejalan secara prinsip.
"Hubungan DPRK-ROK telah melampaui zona waktu konsep homogen," ujarnya, menggunakan akronim resmi Korea Utara.
Baca juga: Tekanan Tarif Trump, Thailand & Kamboja Bahas Gencatan Senjata di Malaysia
Konflik Korut dan Korsel
Presiden Korea Selatan
pintu dialog
pintu perdamaian
Serambi Indonesia
Serambinews.com
| Iran Tuntut Ganti Rugi Rp4.300 Triliun, Ancam Pajaki Selat Hormuz di Tengah Negosiasi dengan AS |
|
|---|
| Arab Saudi Desak Trump Redakan Konflik Iran, Khawatir Jalur Minyak Global Terancam |
|
|---|
| AS Tolak Usulan Iran, Pembicaraan Nuklir di Islamabad Berakhir Tanpa Kesepakatan |
|
|---|
| Tak Terlihat Tapi Mematikan: Ranjau Laut Mengintai Jalur Minyak Dunia di Selat Hormuz |
|
|---|
| Turki Tuding Israel Rusak Negosiasi Damai Iran-AS, Begini Pernyataan Menlu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Menhan-Korsel-Perintahkan-Pasukan-Khusus-untuk-Bunuh-Pemimpin-Korut-Kim-Jong-Un-Jika-Perang.jpg)