Breaking News:

Opini

Bimbel Anak dengan Disleksia di Masa Pandemi

SUDAH hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia, sehingga sampai hari ini mayoritas

Editor: hasyim
Bimbel Anak dengan Disleksia di Masa Pandemi
FOTO IST
NENCi JuNiSaS Mahasiswi Semester 6 Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara, melaporkan dari Aceh Tenggara

SUDAH hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia, sehingga sampai hari ini mayoritas masyarakat kita masih work from home (bekerja dari rumah). Termasuk belajar-mengajar. Sekolah-sekolah pada saat ini masih menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh un- tuk zona merah dan oranye, dan bagi zona hijau melaku- kan pembelajaran dengan sistem shift.

Dalam masa pembelajaran jarak jauh dan sistem shift yang dilakukan pihak sekolah, banyak anak menga- lami gangguan dan kesulitan mengikuti pembelajaran, terlebih lagi bagi anak-anak yang mengalami gangguan/ kesulitan belajar (disleksia). Anak dengan gangguan/ke- sulitan belajar ini butuh wak- tu lebih lama untuk mengu- asai pelajaran dibandingkan anak yang normal.

Seperti yang kita ketahui, pembela- jaran sistem daring maupun shift prosesnya sangatlah cepat dan juga minim interak- si. Alhasil, anak-anak dengan gangguan belajar kebingungan saat belajar dan menun- jukkan perilaku menolak un- tuk belajar seperti tak ingin pergi ke sekolah. Hal tersebut yang mendo- rong saya selaku mahasiswi praktikum I Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan pembimbing Pak Agus Surya di MSi melaksanakan prak- tikum di Kantor Dinas Sosi- al (Dinsos) Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

Saya mem- berikan bimbingan belajar ke- pada anak dengan disleksia di masa pandemi Covid-19. Saya praktikum di Dinsos Agara sejak 13 Maret-8 Juni 2021. Dimulai dengan mem- bantu di bagian administrasi, seperti menginput dan memperbaiki data terpadu kese- jahteraan sosial; menginput data penerima bantuan sosial bagi lansia dan penyan- dang disabilitas yang terdam- pak pandemi; mengetik surat yang diperlukan masyarakat, kemudian mengikuti pembe- rian bantuan kepada korban bencana kebakaran.

Saya juga bertugas sebagai pene- rima tamu, ikut kegiatan so- sialisasi bencana Taruna Siaga Bencana (Tagana) ke sekolah-sekolah yang rawan bencana, dan ikut kunjungan rutin kepada klien kem- bar siam. Terkait upaya pemberian bimbingan belajar untuk anak dengan disleksia yang dimulai pada akhir Maret 2021, saya gunakan tahapan sosial ‘casework’ kepada seorang anak, yaitu anak perempuan bernama NL, 8 tahun, yang sedang menempuh pendi- dikan di bangku kelas 3 SD. Anak ini sama sekali belum dapat membaca.

Melalui metode ‘casework’, saat mela- kukan treatment saya adopsi pendapat Max Siporin (1975) bahwa struktur proses per- tolongan dalam proses praktik pekerja sosial dengan indi- vidu terdiri atas: pelamaran (engagement), pengungkapan dan pemahaman masalah (assessment), pendefeni- sian masalah (the definition of problem), penentuan tujuan-tujuan (setting of goals), menyeleksi metode alternatif dan metode intervensi awal, penciptaan suatu kontrak, pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan yang diingin- kan, evaluasi, dan terminasi. 1. Tahap pelamaran. Untuk proses awal ini saya sebagai praktikan yang mencari klien sendiri di lingkungan sekitarnya, yaitu anak perempuan berinisial NL (8 tahun) 2. Asesmen.

Setelah praktikan menemukan klien yang bersedia untuk di- beri pertolongan, kemudian saya lakukan asesmen un- tuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan menyadarkan klien tentang masalah yang sedang diha- dapinya. Untuk itu, praktikan menggunakan beberapa tools assessment, yaitu tools wa- wancara dengan mewawanca- rai ibu dari klien dan juga me- wawancarai klien; eco map, dan Napoleon Hills.

Berdasarkan hasil asesmen maka didapatkah hasil mengapa klien sampai saat ini belum bisa membaca, yaitu sebagai NENCi JuNiSaS Mahasiswi Semester 6 Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara, melaporkan dari Aceh Tenggara berikut: a. berdasarkan keterangan orang tua klien yang sering mengajari klien di rumah, walaupun klien sudah diajari berkali-kali tentang huruf, dalam sekejap huruf ter- sebut dia lupa; b. berdasarkan pemaparan klien kenapa dia susah mengenal huruf dikarenakan huruf tersebut terlihat sama dan semrawut.

Oleh karena- nya, dia tak dapat membedakannya, juga dia cepat lupa dengan huruf informasi yang baru dia dapatkan. Menurut teori psikologi tentang ingatan oleh atkinson- shiffrin theory, hal yang dialami klien bisa termasuk ke dalam penyimpangan ingatan yang melibatkan tiga sis- tem yang berbeda, yaitu: 1) ingatan sensosris: waktu per sekian detik sampai bebera- pa detik; 2) ingatan jangka pendek: rentang waktu sam- pai 30 detik, dan; 3) ingatan jangka panjang: rentang wak- tu seumur hidup.

Kemung- kinan klien mengalami masalah di short-term memory atau ingatan jangka pendek berdasarkan hasil wawanca- ra. Maka dari itu, menurut te- ori ini, hal-hal yang dapat di- lakukan adalah mengenalkan huruf dengan melibatkan be- berapa sessor seperti visual dan audio juga harus dilaku- kan pengulangan pengenalan huruf agar informasi tersebut kemudian dapat dipertahan- kan dalam rentang waktu yang tidak terbatas. 3. Pendefinisian masalah. Masalah yang dihadapi klien adalah sulit mengenal, me- ngelompokkan, dan meng- ingat huruf sehingga me- nyebabkannya belum dapat membaca hingga kini. 4. Penentuan tujuan-tujuan (setting of goals).

Di mana goals dari pertolongan ini adalah membantu klien untuk menge- nal huruf dan membaca. 5. Menyeleksi metode- metode alternatif dan model intervensi. Metode yang digu- nakan dalam proses pemberi- an pertolongan, yaitu: a. mengajar klien mela- lui stimulus kartu huruf juga bantuan game belajar hu- ruf; dan b. mengajar klien dengan klien menulis di buku atau media lainnya. 3. Penciptaan kontrak.

Untuk kontrak telah dilaksana- kan bersamaan ketika wa- wancara dengan orang tua dari klien/ibu klien. 4. Pelaksanaan kegiatan. Kegiatan untuk menangani permasalahan si anak ada- lah sbb: a. belajar menggunakan kartu huruf, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan se- cara berulang selama proses pembelajaran yang bertujuan agar anak dapat meningkat- kan kemampuan anak dalam mengenal huruf dam mema- hami abjad melalui pengalaman belajar mereka.

Metode ini berupa kartu-kartu yang di dalamnya terdapat simbol atau tulisan huruf; b. belajar mengenal huruf dengan cara meminta anak untuk menuliskan kata di ker- tas serta melafalkannya secara berulang-ulang. Hal ini bertujuan ketika sang anak menuliskan huruf, maka fung- si motorik, visual, dan audi- onya dikombinasikan untuk melatih si anak melafalkan fungsi audionya yang berfung- si sehingga informasi yang didapatkan melalui sistem sensorik tersebut dapat ter- simpan pada ingatan jangka panjangnya jika dilakukan secara berulang; c. belajar menggunakan ap- likasi game belajar anak di smarthphone.

Zaman yang te- lah berubah secara cepat me- maksa masyarakat untuk da- pat menaklukkan teknologi, terbukti dengan setiap indivi- du dalam suatu keluarga pas- ti memiliki smartphone be- gitu juga dengan keluarga si klien. Pemanfaatan teknologi ini memiliki berbagai manfaat seperti fitur dapat mengelu- arkan bunyi dan gambar me- ngenai huruf tersebut; d. evaluasi. Setelah dilak- sanakannya metode pendam- pingan belajar pada anak yang bertujuan agar klien dapat me- ngenal huruf dan membaca, meskipun pendampingan yang dibutuhkan cukup lama, saya rasa bahwa cara ini cukup membantu dalam mengajar- kan anak mengenal huruf wa- laupun sampai pada saat ter- minasi dilakukan, klien masih sampai tahap pengejaan hu- ruf, yang berati bahwa tujuan pemberian treatment ini telah tercapai.

5. Terminasi. Sehubung- an dengan berakhirnya masa praktikum dan klien telah da- pat mengenal huruf yang mengindikasikan bahwa go- als yang telah ditetapkan te- lah tercapai, maka saya melakukan pemutusan hu- bungan dengan klien. Si anak saya serahkan kepada orang tuanya kembali dan mengi- ngatkan orang tua agar anak diharuskan mengulangi se- tiap pembelajarannya di ru- mah, begitu juga terkait pe- ngenalannya akan huruf. Pada akhir praktikum saya berharap, keluarga yang mem- punyai anak dengan kesulit- an belajar (disleksia) dapat dengan sabar mendampingi mereka dalam belajar ataupun mengajari mereka berulang- ulang. Saya juga berharap agar stigma yang ada dalam masya- rakat yang mengecap mereka bodoh ataupun malas dapat berubah. (*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved