Breaking News:

Jurnalisme Warga

Pesona Batee Meucanang di Labuhan Haji Barat

Setelah menempuh perjalanan sejauh 365 km menyusuri pantai barat-selatan Aceh pada Minggu (20/6/2021), saya, Pak Muslim, dan Ibu Irhamni

Editor: bakri
Pesona Batee Meucanang di Labuhan Haji Barat
TEUKU MUTTAQIN MANSUR, Dosen Pendamping KKN Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, 2021, melaporkan dari Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan

OLEH TEUKU MUTTAQIN MANSUR, Dosen Pendamping KKN Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, 2021, melaporkan dari Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan

Setelah menempuh perjalanan sejauh 365 km menyusuri pantai barat-selatan Aceh pada Minggu (20/6/2021), saya, Pak Muslim, dan Ibu Irhamni memutuskan beristirahat di salah satu ‘guest house’ di Blangpidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Jarum jam menunjukkan pukul 00.20 menit, lebih cepat 40 menit dari perkiraan awal kami akan tiba pada pukul 01.00. Tujuan kami adalah Gampong (Desa) Batee Meucanang, Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, untuk melakukan survei Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala Angkatan Ke-19 Tahun 2021. Ini berarti, sekitar 45 menit lagi kami akan tiba di gampong tujuan, Batee Meucanang.

Tepat pukul 07.45 esok harinya, mobil sewaan kami mulai melaju meninggalkan penginapan. Sesaat setelah mobil mulai berbelok ke kiri pada pukul 08.10 menit, telepon saya berdering, “Ho katroh, Pak? Nyoe ka kamoe preh/Sudah sampai di mana, Pak. Ini kami sedang menunggu,” kata Pak Mukhtar, Keuchik Gampong Batee Meucanang penuh semangat di ujung telepon.

Benar saja, sesampai di kantor keuchik, Pak Mukhtar bersama perangkat desa sudah menunggu di depan kantor. Setelah mengucapkan salam, saling memperkenalkan diri, mulailah Pak Mukhtar menjelaskan keadaan Gampong Batee Meucanang. Mulai dari kesiapan gampong menerima mahasiswa KKN USK sampai sejumlah potensi yang dimiliki gampong yang berjarak lebih kurang 3 km dari jalan raya Blangpidie-Aceh Selatan itu.

“Kiban asal-mula nan Gampong Batee Meucanang/ bagaimana asal-mula nama desa ini dinamakan Gampong Batee Meucanang,” tanya Pak Muslim teman saya. Pak Keuchik menerangkan bahwa gampongnya ada hubungan dengan legenda seperti kisah Putroe Bungsu di Gayo dan gua Batee Meucanang yang ada batunya mengeluarkan seperti suara canang.

‘Batee’ berarti batu, ‘meucanang’ merujuk pada aktivitas memainkan alat musik tradisional canang. Dalam tradisi masyarakat Aceh, canang biasanya dibuat dari bahan kayu dengan suara yang khas, sering dimainkan mengiringi tarian. Bahkan, canang kayu seperti di Aceh Singkil telah dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2016.

Namun, Batee Meucanang yang kemudian dijadikan sebagai nama desa di Kecamatan Labuhan Haji Barat ini lebih unik lagi, yakni batu dalam gua yang kalau diketok akan mengeluarkan bunyi seperti orang yang memainkan canang. “Inilah salah satu cerita yang berkembang di tengah masyarakat, mengapa gampong ini dinamakan Batee Meucanang,” jelas Pak Keuchik Mukhtar.

Cerita ini semakin membuat kami penasaran. “Nyoe meunan Pak Keuchik, kamoe hawa meujak kalon gua batee meucanangnyan/Jika begitu Pak, kami semakin tertarik untuk melihat langsung gua Batee Meucanang tersebut,” sambung saya yang makin penasaran.

Mobil yang kami tumpangi sebetulnya sudah siap menanjaki jalan berbukit yang tak beraspal menuju gua. Tapi akhirnya kami batalkan setelah melihat kondisi jalanan agak becek dengan tanah liat. Apalagi semalam hujan baru saja mengguyur kawasan itu.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved