Breaking News:

Jurnalisme Warga

Pesona Batee Meucanang di Labuhan Haji Barat

Setelah menempuh perjalanan sejauh 365 km menyusuri pantai barat-selatan Aceh pada Minggu (20/6/2021), saya, Pak Muslim, dan Ibu Irhamni

Editor: bakri
Pesona Batee Meucanang di Labuhan Haji Barat
TEUKU MUTTAQIN MANSUR, Dosen Pendamping KKN Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, 2021, melaporkan dari Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan

Pak Keuchik menelepon stafnya meminta untuk diantarkan dua sepeda motor (sepmor) ke lokasi kami berhenti di kaki bukit. Saya menumpang sepmor Pak Keuchik dan Pak Muslim bersama stafnya. Sedangkan Bu Irhamni tetap berada di mobil, karena tidak mungkin ikut dengan keadaan jalan yang kurang bagus.

Sepanjang jalan Pak Keuchik terus bercerita tentang potensi gampong, mulai dari komoditas  jernang, jengkol, durian, pala, hingga komoditas kopi khas gampong Batee Meucanang menjadi andalan perekonomian masyarakat gampong. Kami juga beruntung, sempat mencicipi durian yang mulai jatuh, sambil menunggu motor diantar staf Pak Keuchik tadi.

Di samping Gua Batee Meucanang, terdapat alur air yang bersih, hingga air terjun di beberapa tempat. Kemudian, saya dan Pak Muslim diajak masuk ke dalam Gua Batee Meucanang. Betapa takjubnya kami, ketika menyaksikan secara langsung kebenaran cerita Batee Meucanang, batu yang ketika diketok bersuara seperti canang di dalam gua.

Walau harus sedikit berusaha saat menaiki beberapa anak tangga, tapi ketakjuban kami terhadap karunia Allah ini seolah telah menghilangkan lelah seketika.

Air Terjun

Puas menjelajah gua, kami pun bergerak ke lokasi lain yang tak terlalu jauh dari Gua Batee Meucanang. Berbeda dengan ke gua yang berada dipinggir jalan, air terjun berada jauh di bawah jurang dari jalan yang kami lalui. Tidak ada tangga seperti di gua.  Jadi, harus jalan setapak. Saya dan Pak Muslim memberanikan diri, apalagi jarang-jarang melihat air terjun secara langsung. Meskipun jalan setapak, dapat dikatakan lokasi air terjun ini sangat dekat dengan perkampungan. Saya terus mengikuti staf Pak Keuchik dari belakang. Akar-akar kayu dan bebatuan di tanah saya jadikan sebagai tempat pijakan.

Alhamdulillah, saya adalah orang kedua sampai ke dekat air terjun. Tampak air terjun kecil turun membelah di atas batu besar berlumut hijau. “Indah sekali karunia Allah ini,” saya membatin. Momen itu, tak saya sia-siakan, kamera handphone langsung saya nyalakan. Beberapa bidikan penting saya abadikan. Saya juga minta staf keuchik mengabadikan saya di lokasi air terjun itu.

Gemuruh air terjun yang mengalir deras terdengar di balik batu besar dan pepohonan rindang yang sedikit menutupinya. Satu orang staf  Pak Keuchik yang berjalan di depan memanggil, “Pak, keunoe neujak, jinoe lubeeh rayeuk ie terjun jih/Pak, kemari, di sebelah sini air terjunnya lebih besar dan lebih jelas terlihat,” katanya.

Kesempatan ini tak saya sia-siakan. Sepatu yang tadinya saya pakai pun saya lepaskan. Kemudian saya langkahkan kaki perlahan ke dalam air. Sambil berjalan, sesekali saya basuh muka dan percikkan air ke kepala. Sejuk, dingin, jernih, dan segar. Itulah yang saya rasakan kala itu. Air terjun besar sudah di depan mata.

Sejurus kemudian, Pak Keuchik, Pak Muslim, dan beberapa staf keuchik mendekat ke air terjun besar. Bidikan kamera hp saya berkali-kali mengabadikan setiap momen air terjun yang mengalir deras. Bahkan, rekaman video pun sesekali saya gunakan untuk merekam jatuhnya air terjun.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved