Kamis, 30 April 2026

Jurnalisme Warga

Menikmati Keindahan Sunset di Pantai Lampuuk

Pemandangannya yang indah dengan pasir putihnya yang halus terhampar luas menjadi daya tarik utama pantai ini

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
ULFAH WILDANI, Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Aceh Besar 

OLEH ULFAH WILDANI, Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Aceh Besar

Sejak dahulu, keindahan Pantai Lampuuk di  Kecamatan Lhoknga, Aceh  Besar, memang sudah cukup terkenal. Pemandangannya yang indah dengan pasir putihnya yang halus terhampar luas menjadi daya tarik utama pantai ini.

Pantai Lampuuk juga terkenal dengan ombaknya yang bagus, tidak terlalu besar dan cocok bagi para peselancar pemula.

Kala sore menjelang malam di Pantai Lampuuk, tersuguh pula keindahan yang menakjubkan, apalagi kalau bukan matahari tenggelam (sunset) di ufuk barat.

Warna langit yang berwarna kemerahan, berpadu dengan hamparan pasir putih, serta gelombang laut yang tak begitu liar, menyajikan lukisan alam yang begitu memesona. Meski Pantai Lampuuk sudah sangat ‘mainstream’ untuk dikunjungi, tapi tetap saja panorama sunsetnya menjadi favorit para pengunjung.

Ketika petang menjelang, pengunjung pun bergegas ke pinggir pantai, menanti sang surya turun ke peraduannya. Tidak sedikit pula wisatawan dari mancanegara yang datang ke Lampuuk demi mengejar sensasi sunsetnya. Pemandangan matahari saat terbenam mampu memikat mata siapa pun yang melihatnya.

Saya bersama sahabat sepakat melihat sunset di Lampuuk. Di Aceh, siapa yang tak kenal pantai yang satu ini? Letaknya di kawasan pantai barat Aceh. Tepatnya di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Lebih kurang 18 km dari Banda Aceh ke pantai ini.

Akses ke Pantai Lampuuk sangatlah mudah, karena jalannya beraspal mulus. Mudah dilalui kendaraan, baik sepeda motor, mobil, dan maupun kendaraan umum. Hampir setiap Minggu sore saya bersama sahabat mengujungi Pantai Lampuuk demi menikmati sunset yang sangat memukau.

Biaya masuk ke Pantai Lampuuk tergolong murah. Pengunjung yang membawa kendaraan hanya dikenai biaya Rp3.000  per orang. Pada hari Minggu, area parkir kendaraan di pantai ini terasa kurang, karena pengunjung sangat ramai.

Seperti biasanya, pada Minggu lalu, meskipun dalam suasana pandemi Covid-19,  tempat parkir penuh, sehingga kami harus memarkirkan kendaraan di tempat yang agak jauh dari lokasi tempat kami duduk. Saya dan sahabat–sebagaimana pengunjung lain–biasanya mencari tempat duduk yang bisa dengan leluasa menikmati sunset. Dan, kami menemukan tempatnya, yaitu di sebuah kafe.

Di saat saya duduk sambil menikmati mi instan kuah dan air kelapa, saya melihat keluarga bahagia bersama anaknya. Di pantai yang terkenal dengan pasir putihnya yang bersih dan lembut ini, ombak lautnya tak terlalu besar. Jadi wajar, banyak anak yang berani mandi di laut yang jernih dan berwarna biru kehijauan ini.

Pada musim barat, ombaknya kelihatan cukup besar, tapi tetap bersahabat bagi para peselancar. Banyak turis asing yang menginap di homestay kawasan Lampuuk, supaya leluasa berselancar dan tentu saja menikmati sinar mentari dan saat ia tenggelam.

Lokasi ini memiliki garis pantai sekitar 5 km dan membentuk sebuah teluk kecil. Sedari kecil saya sangat suka ke pantai, meski sebenarnya saya lebih menyukai hutan. Namun, karena Pantai Lampuuk ini berdekatan dengan hutan sejauh mata memandang, pantai ini pun menjadi tempat favorit saya.

Di pantai ini para pengunjung bisa menyaksikan deretan pegunungan nan hijau serta pepohonan pinus yang rimbun. Benar-benar sejuk dan adem rasanya. Sangat ‘recomended’ bagi mereka yang memerlukan suasana rileks setelah seminggu sibuk dengan aktivitas kantor, sekolah, dan kuliah. Kalaupun pengunjung datang ke pantai ini pada siang hari, teriknya tidaklah terlalu  menyengat kulit. Banyak pohon pelindung di sini, anginnya bertiup nyaman, dan pondok-pondok yang tersedia pun hampir semua beratap rumbia. Jadi, suasananya benar-benar sejuk dan adem.

“Waw, masyaallah,” gumamku saat menikmati pemandangan yang begitu indah di sekitar Pantai Lampuuk. Tak salah bila warga sekitar dan wisatawan menjuluki pantai ini dengan ‘Kuta’nya Aceh.

Di hari libur, tak sedikit wisatawan, baik lokal maupun dari berbagai daerah lain, bahkan dari mancanegara yang mengunjungi Pantai Lampuuk. Di sini kita bisa berkenalan dengan bule-bule dari mancanegara. Jadinya, kita punya relasi baru deh.

Selain untuk menangkan pikiran pengunjung dewasa, anak-anak pun leluasa menyalurkan beberapa hobinya di sini.  Misalnya bermain ombak, lalu ada yang sedang bermain bola di tepi pantai dan aktivitas lainnya. Senyuman mereka membuat saya teringat masa kecil bermain pasir dan ayunan di sini dulu sambil menendang pasir putih.

Pantai ini memang cocok untuk bersantai bersama keluarga, apalagi mengajak keluarga jauh dari luar kota pasti mereka sangat senang. Sambil menikmati panorama Pantai Lampuuk yang indah, pengunjung bisa duduk atau lesehan di pondok-pondok atau kedai  pinggir pantai. Pelancong juga bisa menikmati beragam makanan, seperti  ikan bakar segar  atau  seafood  sebagai hidangan. Kuliner di sini membuat kalian jadi ingin pesan, karena kalau tak segera pesan nanti menyesal, mengingat sensasi makan di depan ombak sambil mendengar angin berdesir memang beda.

Di antara seafood  yang bisa dinikmati di sini adalah ikan rambue (kuwe), kerapu, kakap, cumi, udang, bahkan lobster. Untuk menghilangkan dahaga, pengunjung bisa pesan air kelapa muda (ie u).

Saat berkunjung ke pantai ini saya dan keluarga pun selalu memesan minuman dan makanan yang benar-benar fresh. Pemilik usaha pun hanya perlu membeli ikan di lokasi dengan jarak yang dekat atau bahkan diantar langsung oleh pemancing ikan. Jadi, daging ikannya sangat lembut dan lezat, karena baru ditangkap langsung dibakar. Mengingat hal itu, membuat perut saya bunyi lagi nih. Hehe.

Saat duduk-duduk di pinggir pantai yang permai ini, tiba-tiba saya teringat akan peristiwa dahsyat yang menyisakan trauma mendalam bagi rakyat Aceh. Peristiwa itu adalah bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Saat itu, Pantai Lampuuk yang saya kunjungi ini porak-poranda diempas gelombang tsunami.

Kerusakan yang ditimbulkan tsunami terbilang parah. Banyak korban jiwa yang merupakan penduduk di sekitar pantai ini. Permukiman penduduk dan tempat penginapan atau cottage di sekitar pantai ini juga hancur digulung tsunami. Trauma terhadap tsunami itu sempat membuat mayarakat enggan datang ke Pantai Lampuuk. Namun, setelah 17 tahun berlalu, kini Pantai Lampuuk kembali menjadi primadona wisata Aceh. Wisata pantainya pulih seperti sediakala. Kecantikan dan keindahan panorama Pantai Lampuuk yang memikat, makin terus mendongkrak popularitasnya. Hati-hati saja saat bertamasya ke pantai bekas terpaan tsunami.  Jangan bermaksiat dan jangan undang bala bencana di tempat wisata. Selalulah waspada dan syukuri nikmat Allah di mana pun Anda berada.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved