Kamis, 30 April 2026

Kupi Beungoh

Membaca Meritokrasi UTBK dan Daya Saing Lulusan Aceh  dalam Seleksi Masuk PTN

Dalam situasi seperti ini, ukuran yang seragam belum tentu menghasilkan persaingan yang benar-benar seimbang.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Alumnus Pascasarjana FMIPA UNPAD Bandung, Djamaluddin Husita 

*) Oleh Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si

PELAKSANAAN Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes atau UTBK-SNBT 2026 bukan sekadar agenda rutin pendidikan nasional.

Ujian ini juga menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana mekanisme seleksi masuk perguruan tinggi negeri berlangsung.

Dalam waktu singkat, ratusan ribu peserta dari berbagai daerah mengikuti ujian yang sama dengan tujuan yang serupa, yakni masuk ke perguruan tinggi negeri.

Di balik keseragaman itu, muncul pertanyaan yang tidak sederhana tentang bagaimana kemampuan, peluang, dan latar belakang ikut menentukan hasil akhir dalam proses seleksi.

Sebagai instrumen seleksi, UTBK dirancang dengan prinsip meritokrasi melalui tes terstandar yang menempatkan capaian individu sebagai dasar penilaian.

Meritokrasi umumnya dipahami sebagai sistem yang memberi peluang berdasarkan kemampuan, bukan latar belakang. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa capaian individu tidak pernah sepenuhnya lepas dari pengalaman belajar yang membentuknya sejak awal.

Dalam situasi seperti ini, ukuran yang seragam belum tentu menghasilkan persaingan yang benar-benar seimbang.

Soal yang sama, waktu yang sama, serta sistem penilaian yang sama menjadi dasar bahwa setiap peserta diperlakukan setara dalam prosedur. Dalam logika tersebut, mereka yang memperoleh skor tinggi dipandang lebih siap untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, kesetaraan prosedur tidak serta-merta berarti kesetaraan sejak awal. Pertanyaan pentingnya, apakah semua peserta benar-benar memulai dari titik yang sama ketika memasuki proses seleksi.

Kemampuan yang diukur dalam UTBK tidak lahir dalam waktu singkat. Ia terbentuk melalui proses belajar yang panjang, dalam lingkungan yang berbeda-beda.

Ketika kualitas pendidikan tidak merata, maka hasil yang terlihat objektif berpotensi menyimpan ketimpangan yang telah berlangsung sejak lama.

Skor yang diperoleh pada akhirnya tidak hanya mencerminkan kemampuan, tetapi juga kesiapan yang dibentuk oleh pengalaman belajar sebelumnya.

Dalam konteks Aceh, situasi ini terasa lebih nyata. Lulusan sekolah menengah tidak hanya bersaing di tingkat daerah, tetapi juga dalam seleksi nasional dengan peserta dari berbagai wilayah yang memiliki dukungan pendidikan yang berbeda.

Perbedaan kualitas sekolah, ketersediaan guru, serta sumber belajar ikut memengaruhi kesiapan siswa menghadapi UTBK.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved