Internasional
Ayatollah Ali Khamenei Pahami Kemarahan Warga Atas Krisis Air di Khuzestan
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Jumat (23/7/2021) mengaku memahami kemarahan pengunjuk rasa atas kekeringan di baratdaya negara itu.
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Jumat (23/7/2021) mengaku memahami kemarahan pengunjuk rasa atas kekeringan di baratdaya negara itu.
Saat bersamaan dilaporkan, empat orang kembali tewas terkait dengan demonstrasi yang sedang berlangsung di sana.
Pernyataan itu, yang dilaporkan oleh televisi pemerintah, merupakan komentar langsung pertama sejak protes itu dimulai di wilayah Khuzestan seminggu yang lalu.
Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan seorang pria tewas oleh tembakan senapan dalam kekerasan jalanan di kota terdekat Aligoudarz.
Menurut polisi dilakukan oleh elemen kontra-revolusioner.
“Orang-orang menunjukkan ketidakpuasan mereka, tetapi kami tidak dapat memiliki keluhan karena masalah air di iklim panas Khuzestan bukanlah masalah kecil,” kata Khamenei
Baca juga: AS Nilai Iran Keterlaluan, Sebut Pertukaran Tahanan dan Nuklir Akan Segera Disepakati
Dia menuduh musuh Iran mencoba mengeksploitasi situasi.
Dia memuji orang-orang di kawasan itu atas kesetiaan dan upaya mereka selama perang yang menghancurkan melawan Irak di tahun 1980-an.
Dia menambahkan rakyat seharusnya tidak menghadapi masalah lagi.
Protes telah terjadi di banyak kota dan kota kecil di Khuzestan, menurut kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran.
Pasukan keamanan telah menembakkan gas air mata dan meriam air, dan bentrok dengan demonstran, tambah kelompok itu.
Pada Jumat (23/7/2021), Amnesty International mengatakan pasukan keamanan telah menggunakan peluru tajam selama protes, dan mendesak mereka untuk tidak melakukannya.
"Menggunakan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa yang tidak bersenjata yang tidak mengancam nyawa adalah hal yang mengerikan," kata dalam sebuah pernyataan.
Baca juga: Krisis Air Landa Provinsi Khuzestan, Kerusuhan Pecah, Tiga Orang Tewas Ditembak
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan seorang perwira polisi dan dua warga sipil telah tewas di tengah protes.
Hal itu ditunjukkan melalui sebuah video online yang diduga menunjukkan demonstran membawa senjata api.
Namun Iran di masa lalu menyalahkan pengunjuk rasa atas kematian yang terjadi selama tindakan keras oleh pasukan keamanan.
Layanan internet ponsel di Iran terganggu selama protes, menurut kelompok advokasi akses internet NetBlocks.org
Protes di Khuzestan terjadi ketika Iran berjuang melalui gelombang infeksi berulang di tengah pandemi virus Corona.
Bahkan, ketika ribuan pekerja di industri minyaknya mogok untuk menuntut upah dan kondisi kerja yang lebih baik.
Baca juga: Jurnalis Wanita The New York Times Menolak Bungkam, Walau Jadi Target Penculikan Agen Iran
Ekonomi Iran juga telah berjuang di bawah sanksi AS.
Sejak keputusan 2018 Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Teheran dengan kekuatan dunia, menghancurkan nilai mata uang Republik Islam, rial.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/2307pemimpin-tertinggi-ayatollah-ali-khamenei.jpg)